|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Tata Ruang Kota
Tomohon, Dilema Antara Percepatan dan
Keseimbangan(4)
Catatan tertinggal menuju pengesahan Perda
|
Dibutuhkannya perhatian yang serius untuk menyatukan konsepsi masyarakat, Pemerintah dan Dewan Kota dalam mewujudkan kemajuan peradaban komunitas integral perkotaan untuk kebutuhan kini dan ke depan dalam Desain perencanaan Tata Ruang Kota Tomohon sebagaimana yang diharapkan oleh seluruh komponen dan lapisan serta potensi masyarakat.
Karakteristik kota ini kurang lebih mirip dengan Kota To-mo-hon di mana pertanian dan pari-wisata menjadi sektor unggu-lan. Sehingga mungkin kota ini dapat menjadi model bagi kita mendesain tata ruang Kota To-mohon yang semakin baik. Arti-nya model kota ini hanya mengi-ngatkan kita bahwa betapa su-litnya menghadapi perkemba-ngan kota jika tidak diantisipasi jauh ke depan, sehingga tidak ada pilihan lain untuk melakukan “re-design city” yang sangat kompleks dan harus mengorbankan berbagai kepentingan.
Mungkinkah re-design seba-gai salah satu alternatif?
Berangkat dari pemahaman ta-ta ruang kota yang sudah bebe-rapa kali dipresentasikan timbul kesadaran baru untuk me-lengkapi kembali beberapa aspek yang mungkin terlewatkan untuk mendorong kualitas ketersera-pan masyarakat ke depan guna menghasilkan rencana detail tata ruang yang lebih baik.
Transportasi tradisional
Bendi adalah bagian dari wajah budaya Kota Tomohon selain alat angkutan tradisional ra-mah lingkungan. Keberadaan angkutan tradisional ini harus dilestarikan mengingat ke de-pan alat angkutan tersebut da-pat menambah sumber pendapat-an daerah dari sektor pariwisata.
Dengan demikian jalur trans-portasi khusus bendi perlu disediakan dengan optimali-sasi aksesibilitas jalan-jalan kelurahan yang cukup memadai. Hal ini selain akan memper-lancar arus hubungan keke-luargaan antarkelurahan dan desa setempat juga akan me-nambah pendapatan daerah dari sektor pariwisata.
Drainase Perkotaan
Sistem Drinase yang tidak direncanakan secara terpa-du akan menyebabkan ban-jir pada curah hujan yang ber-ada di atas normal dan juga ka-rena alih fungsi kawasan re-sapan air menjadi kawasan permukiman atau kawasan terbangun lainnya sehingga air mengalir di atas permukaan tanah secara liar (run off). Sementara saluran yang ti-dak mampu menampung de-bet air yang mengalir secara holistik tetapi hanya secara sporadis, suatu kondisi yang kurang memperhatikan ke-beradaan lingkungan, diper-lukan keseimbangan dalam memelihara sistem drainase lingkungan, selain menjaga ketersediaan air resapan pada sistem drainase agar menjadi lebih baik untuk mengemba-likan peruntukan jalan air ya-ng telah berubah fungsi deng-an menetapkan sepadan se-panjang daerah aliran sebagai jalur hijau.(Bersambung)
|
|