|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Respons atas Islamophobia
Utusan Vatikan Ingatkan Bahaya Kristenphobia
|
Gelombang ketakutan terha-dap Islam (Islamophobia) bu-kanlah satu-satunya masalah yang dihadapi umat beragama karena di dunia juga berkem-bang Kristenphobia. Pernya-taan tersebut dikemukakan oleh utusan dari Tahta Suci Vatikan Pastur Khaled Akasheh.
Khaled berbicara saat dite-mui usai berpidato dalam acara Konferensi Cendikiawan Muslim Internasional (ICIS) ke-2 di Hotel Borobudur, Ja-karta, Selasa. “Saya kira pen-ting untuk disampaikan bah-wa tidak hanya umat Muslim saja yang menderita akibat adanya Islamophobia karena di masyarakat juga ada Kris-tenphobia. Semuanya sama-sama membuat membahaya-kan karena membuat umat menderita,” kata Pastur Aka-sheh yang hadir di Indonesia mewakili Paus Benedict XVI.
Menurut dia, sebagai warga dunia sebaiknya seluruh orang menghindari sejumlah phobia itu dengan memba-ngun kepercayaan antarumat beragama. “Kepercayaan an-tarumat beragama adalah sa-tu-satunya cara untuk meng-hindari phobia sehingga selu-ruh umat beragama dapat hi-dup berdampingan dan men-ciptakan perdamaian,” ujar-nya. Membangun keperca-yaan antarumat beragama, kata dia, dapat dilakukan de-ngan sikap menghormati ke-bebasan individu dan meng-hargai hak asasi manusia.
Mengenai citra Islam yang acapkali dikaitkan dengan sejumlah tindak kekerasan di dunia barat, dia mengatakan bahwa aksi fundamentalis hendaknya dilihat dari bebe-rapa sisi. Aksi fundamentalis, lanjutnya, dapat dipicu oleh berbagai masalah antara lain ketidakadilan dan kurangnya pengetahuan.
“Hendaknya seluruh pihak saling bicara satu sama lain untuk saling memahami,” ka-tanya. Akasheh juga menye-butkan arti penting memper-kuat dialog antaragama untuk mencapai perdamaian global.
Dia menyebutkan bahwa Gereja Katholik memandang perdamaian lebih dari sekadar berakhirnya perang, melain-kan suatu keadaan yang ha-rus secara terus menerus di-bina karena merupakan dasar dari keadilan. Dikatakannya ada empat pilar untuk perda-maian yaitu kebenaran, kasih sayang, keadilan dan doa.
Tema Islamophobia juga sempat disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka ICIS. Presiden bahkan mengajak umat Islam memerangi Islamophobia.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi menilai, ketakutan terhadap Islam (Islamofobia) adalah se-suatu yang berlebihan. Salah satu penyebabnya, kata Ha-syim, adalah publikasi media massa terhadap gerakan-ge-rakan radikal Islam jauh lebih luas dibanding apa yang se-sungguhnya terjadi. Menurut Hasyim, tren global yang ber-kembang sekarang ini bukan radikalisasi agama, tetapi moderasi agama. “Islamofobia adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan,” katanya di sela konferensi.
Munculnya ormas-ormas Islam yang belakangan kerap melakukan tindak kekerasan dan diekspos secara luas oleh media, kata Hasyim, harus dilihat secara proporsional dan jernih. Maksudnya, ja-ngan hanya melihat label aga-ma yang dibawa, tetapi seha-rusnya dilihat apa yang me-nyebabkan gerakan-gerakan itu muncul.
Hasyim berpendapat, akar persoalan di balik munculnya gerakan ormas radikal karena aparat keamanan tidak ber-sikap tegas menegakkan hu-kum. Apa yang ditentang or-mas-ormas, misalnya perju-dian dan pelacuran, sudah se-cara tegas dalam KUHP, na-mun polisi tidak melakukan penindakan. “Kalau polisi me-nindak yang tidak benar per-soalannya akan selesai,” ujarnya.
Di sisi lain, Hasyim mengkritik kalangan Islam yang sering membawa label-label agama ke permukaan, misalnya menge-nai peraturan daerah (perda) syariah. “Kekeliruannya me-ngapa memakai syariah, apa yang diatur dalam perda-perda syariah itu apakah judi apakah pelacuran, sudah ada dalam KUHP, kenapa kita tidak mempertajam saja itu, NU ingin yang naik ke permukaan adalah value-nya bukan labelnya,” ujar Hasyim.(anl/kcm)
|
|