|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Suka
duka pengrajin parang dan samurai dari
Wulauwan
Sulitnya Menempah Hingga Ditangkap Polisi Karena Bawa Sajam
|
MESKI parang dan samurai lebih identik dengan kekerasan, namun tak membuat warga di Kelurahan Wulauwan, Kecamatan Tondano Utara merasa risih, apalagi menyurutkan semangat para pengrajin yang kesehariaannya hidup dari membuat barang tajam ini.
Aktifitas warga Wulauan Tondano dalam mengerjakan pembuatan benda tajam ini, memang sering kali berben-turan dengan hati nurani me-reka. Dari pengakuan sejum-lah pengrajin, ternyata mere-ka sering khawatir akan peng-gunaan peda dan samurai yang diperjual-belikan kete-ngah masyarakat.
Kalau penggunaannya un-tuk hal-hal positif seperti memangkas rumput atau alat dapur, maka mereka merasa puas dan senang. Namun tak sedikit pula ditemui, akibat kerajinan peda dan samurai ini, menjadi ancaman dan mem-bahayakan nyawa manusia.
Seperti diungkapkan Om Dolfi warga setempat, sebe-lum aksi perkelahian antar kampung (tarkam) meluas di sejumlah wilayah di daerah Nyiur Melambai, terlebih khu-sus di Tanah Toar Lumimuut Minahasa, maka kerajinan pisau, peda dan samurai yang dikerjakan warganya, begitu laris terjual. Bahkan untuk mengirim hasil kerajinan benda tajam ini keluar da-erah, juga sangat lancar.
Namun ketika aksi tawuran disejumlah daerah yang se-ring kali menggunakan ba-rang kerajinan mereka me-letus, apalagi adanya operasi senjata tajam (sajam) dari pihak kepolisian, maka omzet penjualan mereka berkurang drastis. Mungkin disebabkan karena warga mulai takut membeli benda tajam terse-but. “Sedangkan torang ba jual peda dan samurai sadiki tako-tako, apalagi kasiang warga. Bukan cuma satu kali kita dapa loku petugas karena kedapatan membawa sajam. Tapi karena kita punya alasan kuat mo mancari, maka akhir-nya petugas bisa memahami,” ungkap Om Dolfi terlihat pe-nuh semangat.
Dikatakannya, kerajinan benda tajam ini merupakan penopang kehidupan keluar-ganya dan itu sudah berlang-sung secara turun-temurun. “Torang pe keluarga pe kerja cuma beking benda tajam. Itu sudah sejak dulu. Jadi, ini so sangat sulit dihilangkan karena merupakan anugerah dan berkat yang maha kuasa untuk menghidupi keluarga kami,” ketus Om Dolfi.
Meski mengaku kehidupan-nya pas-pasan, namun Om Dolfi mengaku akan tetap mempertahankan pening-galan leluhurnya ini. Bahkan dirinya merasa bangga, sebab keluarganya bisa meng-agungkan semboyan Minaha-sa, I Jajat U Santi (mari meng-angkat parang untuk bersa-ma-sama kita berperang).(epen)
|
|