HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

24 June 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Tata Ruang Kota Tomohon, Dilema Antara Percepatan dan Keseimbangan(6)
Catatan tertinggal menuju pengesahan Perda

 IKUTI BERITA LAIN

Renungan Sewindu Reformasi Indonesia(5)
Belum terlambat melakukan pengakuan dosa nasional, pertobatan nasional dan rekonsiliasi nasional

 SURAT PEMBACA

Tanah dan Pasir di ruas jalan Manado perlu dibersihkan

 COMMENTAREN

Antara Perda Syariat Islam dan Perda Kristen


Dibutuhkannya perhatian yang serius untuk menyatukan konsepsi masyarakat, Pemerintah dan Dewan Kota dalam mewujudkan kemajuan peradaban komunitas integral perkotaan untuk kebutuhan kini dan ke depan dalam Desain perencanaan Tata Ruang Kota Tomohon sebagaimana yang diharapkan oleh seluruh komponen dan lapisan serta potensi masyarakat.


Oleh: Johanis Sampul, SE

Penutup
Merupakan suatu langkah maju bagi warga kota Tomo-hon yang telah berhasil mela-hirkan konsep tata ruang kota Tomohon saat ini. Melalui pendekatan intelektualitas, religiusitas dan budaya ma-syarakat, bukanlah hal mus-tahil untuk kita dapat meraih peluang pembangunan keber-samaan dan partisipasi me-nuju kota Tomohon yang le-bih beradab.
Dengan didorong oleh se-mangat kepemimpinan Wali-kota dan Wakil Walikota To-mohon, Bapak Jeferson S.M. Rumayar, SE dan Ibu Lin-neke Sjennie Watoelangkow, yang kreatif serta memiliki pandangan dan komitmen pembangunan jauh ke depan, kerelaan dan pengorbanan kita juga dituntut demi kema-juan kota Tomohon sebagai wujud tanggungjawab, komit-men dan ketulusan demi ter-bentuknya tatanan kehidu-pan masa depan generasi kita yang lebih baik. 
Demikian beberapa catatan tertinggal ini dapat lebih dipa-hami secara mendalam untuk menjangkau hal yang belum terungkap sekaligus men-dorong kepedulian kita ber-sama untuk melahirkan pan-dangan yang belum terukur. Terkandung harapan yang sa-ngat besar kiranya catatan tertinggal ini dapat disikapi dalam kebersamaan seluruh komponen terkait mengupa-yakan terwujudkan tata ru-ang kota yang mampu me-menuhi seluruh parameter teoritis dan empiris dengan ti-dak melampaui dan merobah rancangan yang sudah di-tetapkan terlebih dahulu te-tapi juga menjadi pelengkap dalam perencanaan mengha-silkan tata ruang kota yang semakiin baik. Sehingga da-lam kebersamaan kita ber-harap terwujudnya tata ruang kota Tomohon yang akan me-nyatukan seluruh aspek kehi-dupan masyarakat dalam konteks komunitas keluarga besar yang nyaman hidup di kota Tomohon. Semoga...


Tomohon, Awal Mei 2006
Penulis : - Staff Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Tomohon 
- Tokoh masyarakat Kelurahan Paslaten I Kecamatan Tomohon Timur
(Kajian bersama Forum Pro Bono Publico – LPPMK Kota Tomohon)

Pendidikan dan Pembangunan Daerah

Dewasa ini, orang mempercakapkan bahwa pendidikan adalah milik masyarakat dan untuk masyarakat. Konsep manusia dan lingkungan menjadi inti percakapan.


A. Pendidikan Berbasis Masyarakat.
Pakar ekonomi Indonesia DR. SJAHRIR, berkata Ada tiga masalah penting yang di-hadapi oleh perekonomian In-donesia, yaitu : masalah pen-ciptaan lapangan kerja, peme-rataan dan penghapusan ke-miskinan serta masalah ling-kungan hidup. Penciptaan la-pangan kerja berkaitan de-ngan sumber daya manusia (SDM) dan pertumbuhan eko-nomi terutama di sektor in-dustri dan jasa. Di samping hal tersebut masalah lingku-ngan hidup perlu ditata de-ngan baik agar tetap lestari.
Robei Osaki dalam bukunya HUMAN CAPITALISM di Je-pang, mengatakan bahwa ma-nusia merupakan sumber daya yang terpenting dan me-rupakan tujuan akhir dari produksi barang dalam pasar dan manusia sebagai intelek-tual yang memiliki kemam-puan berpikir, menganalisa dan melakukan inovasi serta penemuan. Di samping hal tersebut, manusia memiliki faktor psikologis, sehingga meningkatnya atau menurun-nya jumlah produksi sangat tergantung kepada motivasi dan tingkat demoralisasi dari lingkungan kerja yang ada. Dengan konsep tersebut, bila diterapkan di Indonesia diper-lukan kerja sama dengan du-nia usaha dan industri dalam bentuk on the job training, baik yang dilakukan di dunia usaha dan industri maupun yang dilakukan di lembaga pendidikan yang dikelola dunia usaha dan industri.
Begitu pun halnya dengan pendidikan yang berbasis per-tanian dan industri kecil, di mana pendidikan mengikut sertakan masyarakat petani dan industri kecil untuk me-rancang on the job training yang dilakukan petani pengu-saha pada areal pertanian dan industri kecil melalui ku-rikulum yang disusun ber-sama.
Dengan demikian lembaga pendidikan diharapkan meng-hasilkan petani pengusaha dan petani terampil yang pro-fesional sebagai penggerak utama produksi dan jasa per-tanian guna memenuhi kebu-tuhan pasar. Konsep tersebut akan membawa pendidikan berbasis masyarakat sebagai pemilik dan penanggung jawab pendidikan. Mungkin-kah pendidikan dikelola ma-syarakat petani pengusaha dan dunia usaha serta indus-tri kecil dengan bantuan fasi-litas dari pemerintah daerah ? Kunci utamanya adalah ba-gaimanakah kurikulum di-susun bersama dan sistem evaluasi dan pengawasan di-lakukan oleh Dewan pendi-dikan Daerah dan Sekolah. Bila demikian maka jumlah dan jenis pengetahuan dan keahlian serta waktu yang diperlukan, menghasilkan SDM perlu standarisasi.
Apa yang dilaksanakan se-karang ini terhadap pem-bangunan pendidikan, seperti adanya sekolah kejuruan dan sekolah umum telah memberi indikasi pada kebutuhan ma-syarakat, namun sistem ma-najemen yang sentralistik per-lu perubahan ke arah mana-jemen desentralistik yang ber-basis sekolah dan masyarakat serta penyusunan kurikulum dan sistem evaluasi yang di-susun bersama dengan ma-syarakat melalui Dewan Pen-didikan Daerah dan Sekolah.
B. Pembangunan Watak dan Moral Bangsa
Pada Konvensi nasional Pen-didikan Indonesia tahun 2000 di Jakarta, Wakil Presiden RI, menyatakan bahwa masalah pendidikan yang perlu di-perhatikan adalah pemba-ngunan watak, jenis pengeta-huan dan keahlian yang dibu-tuhkan serta jumlah dan jenis serta waktu yang diperlukan dalam pembangunan nasio-nal dan daerah.
Arus informasi dan komuni-kasi telah membuat makin globalnya nilai budaya yang berlangsung sangat intensif serta menjurus ke arah ter-ciptanya nilai budaya uni-versal di atas nilai budaya tra-disional. Keterbukaan pada era globalisasi selain mem-bawa positif juga membawa akibat negatif dari membaik-nya penyakit sosial, seperti kenakalan remaja, masalah narkotika, korupsi, kecem-buruan sosial, dekadensi mo-ral dan lain sebagainya. Kunci utama menghadapi arus glo-balisasi adalah : ikut serta da-lam arus perubahan moder-nisasi, tanpa harus terlarut di dalamnya dan kehilangan jati diri sebagai suatu bangsa yang berkepribadian luhur.
Dalam berbagai kesempatan dengan para guru di Sulawesi Utara, antara lain dikemuka-kan tentang menurunnya prestasi belajar siswa, dise-babkan oleh beberapa hal, yaitu : pengaruh VCD, film porno, berbagai buku bacaan yang lebih banyak berisi nilai-nilai yang bertentangan de-ngan kepribadian bangsa In-donesia, penyalagunaan Nar-koba dan lain sebagainya.
Moral adalah ajaran atau prinsip dasar tentang nilai baik dan buruk perbuatan dan kelakuan dalam kehi-dupan manusia di dalam ling-kungan kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Prinsip moral ter-bentuk sebagai abstraksi dan sifat kodrati manusia, ajaran agama, pengaruh adat, kebia-saan dan aturan hukum yang telah disepakati dan dirasa-kan dalam hubungan inter-aksi antar sesama manusia (M. Soeparno, 1992, hal 5). Watak adalah sikap batin ma-nusia yang mempengaruhi se-genap pikiran dan perbuatan-nya, tabiat, budi pekerti. Wa-tak dapat diartikan sebagai kekuatan moral yang nampak pada perilaku seseorang atau kelompok orang serta dapat tergambar pula dalam karya yang dihasilkan. Berdasarkan pemahaman tersebut di atas maka pembangunan pendidi-kan lebih dilandasi oleh pen-didikan moral dan sesuai ke-pribadian bangsa yang bhi-neka tunggal ika. Depdiknas, seharusnya menetapkan ke-bijakan dengan titik berat pada pembinaan kualitas keji-waan bangsa Indonesia secara langsung, baik segi cipta (kog-nitif), segi rasa (afektif), segi karsa (psikomotorik).
Pembinaan segi cipta antara lain melalui peningkatan inte-lektualitas pendidikan dan pe-latihan logika dalam wujud penguasaan dan penerapan Iptek. Pengembangan rasa da-pat dilakukan melalui kegia-tan apresiasi kesenian dalam berbagai bentuk. Sedangkan segi karsa dikembangkan me-lalui penanaman dan pengem-bangan etika, adat kebiasaan dan agama dalam rangka membangun watak dan moral bangsa.

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin