|
|
|
|
![]() |
![]() |
PERNAH dengar joke tentang seorang pembaca Koran? Begini kisahnya. Hari itu (kata dia), saya ba-ca di koran bahwa bahaya merokok bisa menyebab-kan kanker, mandul dan ganguan janin. Wah, saya lan-sung berhenti merokok! Besoknya lagi saya baca di koran yang sama bahwa bahaya narkoba bisa membunuh dan di penjara. Akhir-nya saya langsung berhenti me-makai narkoba.
Eh, esoknya lagi, saya baca di koran yang sama bahwa bahaya seks bisa menyebabkan tertular-nya virus. Setelah saya baca ba-haya itu, saya langsung berhenti: baca koran! Ya, ampun! Kok bisa, ya? Padahal, koran dan media massa pada umumnya mengem-ban visi sebagai penyaji informasi, pendidikan, kontrol sosial dan hiburan. Makanya, media massa kian menjadi kebutuhan.
Boleh jadi karena itu pula, hasil jajak pendapat BBC, Reuters dan sebuah lembaga penelitian di Amerika Serikat, The Media Cen-ter baru-baru ini menyebutkan, banyak orang di dunia lebih percaya kepada media dibanding-kan pemerintahnya. Rata-rata 61% mengatakan mereka perca-ya media, dibandingkan 52% yang percaya kepada penjelasan pemerintahnya. Sedikitnya 10.000 orang di 10 negara mengisi jajak pendapat itu. Jajak pendapat ini dijalankan oleh Yayasan Globes-can, sebuah organisasi yang menaruh perhatian terhadap masalah media dan peningkatan kesadaran pencarian berita melalui internet.
Terlepas dari soal koran, di sisi lain, memang ada semacam kecenderungan bahwa larangan sering justru memancing sikap untuk dilanggar. Lihat saja kesemrawutan di pusat kota Manado, misalnya.
Jelas-jelas ada papan yang mencantumkan larangan ber-jualan tetap saja tak digubris. Ironisnya, penegakan aturan ju-ga masih lemah. Wah, jangan-jangan benar apa kata semen-tara orang bahwa aturan dibuat justru untuk dilanggar?(*)
|
|