|
|
|
|
![]() |
![]() |
Organda minta agar disiapkan terminal khusus
Soal Taksi TKB, Pemkot Harus Bijaksana
Pemerintah Kota (Pemkot) Manado diminta untuk bersi-kap bijaksana dalam persoal-an keberadaan taksi gelap di Taman Kesatuan Bangsa (TKB). Pasalnya, rencana pe-nertiban telah ditegaskan akan ditolak mentah-mentah oleh sopir taksi gelap ini.
Menurut Ketua Organda Manado Zeth Wallo SSos, mes-kipun menyalahi aturan yang ada namun keberadaan taksi-taksi gelap tersebut menjawab kebutuhan masyarakat Kota Manado. Pasalnya, banyak juga masyarakat yang ingin men-dapatkan pelayanan yang cepat dan langsung pada tujuan.
Apalagi, lanjutnya, kebera-daan taksi-taksi gelap di TKB pusat kota tersebut sudah berlangsung lama sehingga tidak mudah untuk dilakukan penertiban.
Menurut Wallo, pengaturan yang bijaksana ini di anta-ranya dengan menyiapkan lahan yang baru sebagai terminal khusus untuk taksi-taksi gelap. Dengan adanya lahan baru ini maka tentunya akan mudah diatur dan ditertibkan.(imo)
Seluruh DAS Harus Jadi Water Front City
Pakar Tata Ruang Kota Ma-nado Ir Noviathi MURP meng-ungkapkan, Pemkot harus mengupayakan agar seluruh bantaran sungai yang melin-tasi wilayah Manado dapat dibangun bronjong sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS), sekaligus menjadikan kawas-an tersebut sebagai kawasan Water Front City (WFC).
“Saat ini yang saya tahu baru ada di Kelurahan Dendengan Luar. Sangat baik jika seluruh DAS dibuatkan bronjong untuk membangun kawasan WFC tersebut,” ungkapnya.
Lebih jauh Noviathi meng-ungkapkan, pembangunan WFC ini penting selain untuk mengantisipasi bencana banjir yang terjadi hampir setiap tahunnya, tetapi juga mengu-bah mentalitas warga di sekitar bantaran sungai.
“Selama ini rumah yang dibangun di bantaran sungai adalah rumah membelakangi sungai. Ini jelas membentuk mentalitas warga yang selalu memandang sungai sepagai tempat sampah sehingga se-makin banyak sampah yang dibuang maka semakin dang-kallah DAS tersebut,” jelasnya.
Dengan membangun rumah menghadap sungai, lanjutnya, maka dengan sendirinya akan mengubah pola pikir dan pola tindak warga untuk selalu menghargai DAS, bukan sebagai sebuah tempat pem-buangan sampah. “Karenanya ke depan sangat diharapkan pemkot bisa memprogramkan pembuatan bronjong di se-panjang DAS yang ada di Kota Manado dan kemudian men-jadikannya sebagai ka-wasan wisata Water Front City,” tandasnya.(imo)
Berakhir, Pelatihan Jurnalis Pemuda Teling
MANADO-Pelatihan Jurna-listik dan Komputer Pemuda Sion Teling yang digagas Biro Buletin, Sabtu (24/06), ber-akhir. Kegiatan yang digelar sejak Kamis hingga Sabtu (22-24/06) di aula gereja Sion Te-ling ini, menampilkan sejum-lah pembicara antara lain Lan-dy Wowor (Harian Komentar), Raymond Pasla, Yosep Ikanu-bun (Harian Metro), Frani Tuju, Jefry Pay, Daud Timpal dan Gusman Mangero (Komentar).
Menurut Sekretaris Biro
Buletin Rain Ratu didampingi Bendahara Daiman ‘Arsi’ Lateka dan Hendry Kawoaan serta Jemmy Londa SH, ke-giatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemuda Sion khususnya di bidang jurnalis dan dasar-dasar ilmu komputer. Dan ke depan, kata Ratu, akan dike-mas sebuah buletin pemuda sebagai sarana informasi pelayanan pemuda khusus-nya jemaat setempat.
Dalam pelatihan selama dua hari tersebut, peserta dibekali materi pengantar jurnalistik dan jenis-jenis tulisan, cara penulisan straight news dan feature news, kode etik warta-wan dan Undang-undang Pers, teknik wawancara, investigasi dan mengenal dunia fotografi. Sementara hari terakhir, para peserta tak hanya diberikan teori namun langsung try out ke Harian Komentar dan Metro untuk mengenal lebih dekat desain dan style pembuatan koran.(dax)
Kuliah Umum De La Salle Hadirkan Guru Marketing Dunia
PARA penghuni Universitas Katolik De La Salle boleh ber-bangga. Pasalnya, salah se-orang guru marketing dunia, Hermawan Kartajaya yang akan mengunjungi Manado dalam waktu dekat ini, menyempat-kan diri memberikan kuliah umum bagi mahasiswa Uni-versitas Katolik De La Salle.
Hal ini dikemukakan Pastor Johannis Mangkey selaku pemrakarsa kedatangan guru marketing dunia tersebut.
Menurut Mangkey, rencana-nya pada tanggal 30 Juni men-datang Kartajaya akan tiba di Kota Manado pada siang ha-rinya dan pada sore harinya akan memberikan kuliah umum di kampus Universitas De La Salle. “Belum diketahui pasti materi apa yang akan diberikan,” paparnya.
Menurut Mangkey, Kartajaya yang juga adalah Presiden World Marketing Association (WMA) bakal menjadi pembi-cara dalam seminar tersebut bertajuk “Marketing Your Region” dan “Marketing Your Self”. Selain itu, Kartajaya ada-lah juga Presiden MarkPlus & Co dan pernah menulis se-jumlah buku bersama Guru Pemasaran Dunia Philip Kotler.
Kartajaya juga penulis buku bertajuk ‘’Aa Gym A Spiritual Marketer’’ yang salah satu editornya adalah Pastor J Mangkey MSC. Bahkan, Kar-tajaya adalah satu dari 50 orang guru yang mengubah masa depan dunia pemasaran yang diyakini Charlered Insti-tute of Marketing-United King-dom (CIM-UK), organisasi pemasaran yang berbasis di London, Inggris.(imo)
Potret perjuangan pencari besi tua
Menjadikan Barang Buangan Kembali Berarti
KEBERADAAN barang-barang buangan ternyata tak selamanya tidak berarti. Justru sebaliknya, ada beberapa barang buangan yang dibuang sebagian masyarakat bisa dijadikan kembali berarti.
Pengalaman para pencari besi-besi tua di Manado adalah buktinya. Kita bisa menyaksikannya lewat perjuangan sejumlah warga yang sehari-harinya berprofesi sebagai pencari sekaligus penjual besi-besi tua. Dengan berjalan kaki atau pun menggunakan kendaraan sepeda, para pencari dan penjual besi tua ini berkeliling kota dan bahkan masuk keluar rumah maupun bangunan lainnya untuk mendapatkan barang-barang buangan tersebut.
Tak peduli terik matahari dan guyuran hujan yang kerap mengganggu perjuangan mereka. Begitu pula dengan sikap tak
bersahabat yang kerap ditun-juk penghuni rumah yang mereka datangi atau cibiran sejumlah masyarakat terha-dap profesi yang mereka geluti.
Bagi mereka, asalkan halal dan berguna bagi kehidup-annya, apa pun pekerjaan ter-masuk mencari dan menjual besi-besi tua tetap dilakoni-nya. Apalagi, desakan akan kebutuhan hidup keluarga, istri dan anak-anak terus memacu semangat untuk mendapat barang-barang buangan warga Kota Manado.
“Memang tidak gampang menjalani pekerjaan ini, tapi ini harus kami jalani sehari-hari supaya kami serta istri dan anak-anak kami bisa makan dan minum,” tutur Donny Musa, salah seorang pencari besi tua.
Meskipun penghasilan yang mereka peroleh tidaklah seberapa, namun bagi Musa dan kawan-kawan apa yang diperolehnya sudah lebih dari cukup. “Yang penting ada uang untuk makan dan kalau boleh juga untuk uang se-kolah anak-anak kami, karena kami ingin anak kami nan-tinya lebih baik dari kami,” ujar Musa yang enggan me-nyebutkan berapa pengha-silannya sehari-hari.
Diakui Musa, skill dan pe-ngetahuan yang dimilikinya bersama kawan-kawannya seprofesi memang sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih memadai. Karenanya, mereka sangat bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan sebagaimana yang dilakonkan mereka saat ini.
“Biar cuma ini yang kami bisa lakukan, asalkan halal dan berguna sudah cukup bagi kami. Namun kami bangga karena apa yang tidak berarti dan dibuang masya-rakat bisa kami jadikan itu kembali berarti,” kuncinya bangga.(imo)
|
|