HOME : FOOTBALL

Berita Opini Pembaca dan Redaksi 

26 June 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Petaka Dunia Pendidikan


MAKSUD dan tujuannya sangat baik, tetapi kenyataannya justru dianggap membawa petaka. Sebab tidak sedikit orang menjadi korban akibat program ini. Mungkin itulah gambaran singkat terhadap sistem Ujian Nasinal (Unas) yang sementara dilaksanakan pemerintah. 
Sepintas lalu jika dilihat, Unas bertujuan baik yaitu mengukur kualitas lulusan pada jenjang pendidikan menengah. Dan sekaligus menjadi standar mutu pendidikan yang sementara ini diprogramkan harus terus menjadi baik. Karena salah satu sasaran pembangunan saat ini adalah peningkatan mutu pendidikan pada semua jenjang. Dan itu telah ditopang dengan anggaran yang tidak sedikit, termasuk adanya ketentuan bahwa minimal 20 persen dari total APBD, harus diarahkan untuk pembiayaan pendidikan.
Ketika pemerintah mulai melaksanakan program-programnya, termasuk didalamnya Unas, ternyata harus berbenturan dengan kondisi riil di lapangan. Secara umum, program ini belum bisa diterima karena nampaknya sebagian besar sekolah, baik yang ada di perkotaan maupun pedesaan, belum siap.
Ini kita bisa lihat pascapelaksanaan Unas, ternyata muncul riak-riak di mana-mana. Tak sedikit orangtua murid maupun murid itu sendiri, yang melayangkan protes karena menilai pelaksanaan Unas telah merugikan mereka. Bahkan saat ini sedang berimbas pada desakan, Mendiknas, Bambang Soedibyo harus mundur dari jabatannya.
Memang sebagai akibat pelaksanaan Unas, banyak siswa yang harus mengulang pada tahun berikutnya. Sebagai gambaran, untuk Sulut sendiri, dari total peserta Unas MSA/SMK sebanyak 18.293 orang, yang lulus sebanyak 17.411 siswa sementara 882 (4,82 persen) dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang pada tahun berikutnya.
Ironisnya lagi, diantara 18.293 siswa yang gagal tersebut, salah satunya adalah Sri Rahayu Potabuga, siswi SMAN 1 Tutuyan Bolaang Mongondow. Yang bersangkutan dikenal sebagai siswa berprestasi, yaki juara umum sekolah, bahkan juara pertama seleksi pra-Olimpiade Sains se-Bolmong Tahun 2005.
Melihat fenomena ini, maka mungkin ke depan memang harus ada pembenahan. Disamping pemerintah pusat memperbaiki sejumlah sistem yang mungkin masih kurang, sekolah-sekolah yang ada juga harus memacu diri untuk lebih melihat kualitas, bukan sekedar mementingkat kuantitas. Tentu tujuannya satu yakni meningkatkan kualitas SDM bangsa di masa datang.(**)


 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin