|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Kabupaten/Kota diminta pro
aktif
Dana Terbatas, Disbun Kesulitan Atasi Busuk Pucuk
|
Akibat keterbatasan dana, hingga saat ini Dinas Perkebunan (Disbun) Sulut masih kesulitan untuk mengatasi penyebaran penyakit busuk pucuk yang diperkirakan telah menyerang sekitar 1.500 hektar lahan kelapa. Menurut Kepala Disbun Sulut, Ir F Tairas kepada Komentar, Selasa (27/06) kemarin, anggaran APBD yang dialokasikan untuk mengatasi penyebaran busuk pucuk hanya mampu membiayai vaksinasi seluas 600 hektar lahan kelapa.
“Anggaran APBD sangat terbatas, jadi kami hanya mampu menyediakan 125 liter vaksin fungisida. Kalau 1 liter vaksin fungisida biasanya digunakan untuk 30 sampai 40 pohon, berarti anggaran tersebut maksimal hanya mampu membiayai vaksinasi sebanyak 5.000 pohon kelapa. Nah, kalau satu hektar lahan kelapa rata-rata mencapai 100 pohon, berarti yang dapat divaksinasi hanya berkisar 50 hektar,” kata Tairas seraya menambahkan, kasus busuk pucuk paling banyak ditemukan di Kabupaten Minahasa Selatan.
Oleh karena itu, lanjut Tairas, upaya penanganan penyakit busuk pucuk akan dimaksimalkan dengan cara memanfaatkan dana di tingkat kabupaten/kota. Khusus kabupaten/kota yang mendapatkan alokasi dana dari pusat telah diimbau untuk mendukung pembiayaan program pencegahan penyebaran busuk pucuk.
“Saya harap pemerintah kabupaten/kota pro aktif dalam mengatasi masalah ini,”tutur Tairas.
Menurut Tairas, pencegahan penyebaran busuk pucuk juga akan diupayakan melalui swadaya masyarakat. Karenanya, sosialisasi tentang cara-cara pencegahan penyebaran busuk pucuk saat ini sedang gencar dilakukan.
“Petani yang lahan kelapanya terserang busuk pucuk tidak perlu menunggu instruksi dari Disbun. Sebaiknya petani langsung melakukan upaya pencegahan dengan cara menebang pohon yang terserang busuk pucuk,” tegasnya. (rol)
|
|