|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
(Suatu refleksi dari “The spiritual journey in the end of the twenties century generation in
America”)
Pengaruh Paradigma landscape Gereja Amerika terhadap Gereja Protestan Indonesia
Oleh Pdt Danny Weku
|
Hampir semua gereja Protestan masa kini mengalami pergumulan yang sama menghadapi tuntutan perubahan dalam hidup bergereja. Apalagi gereja-gereja di Amerika dapat dikatakan tidak ada yang terhindar dari tuntutan “perkembangan” ini. Bagaikan manusia memerlukan pakaian demikian pula gereja dituntut memenuhi akan perkembangannya.
Yang dimaksud dengan “perkembangan” ialah perubahan dalam nilai-nilai dan gaya (style/mode) dalam gereja-gereja protestan masa kini. Pada gereja Protestan yang boleh dikatakan cukup besar seperti Gereja Masehi Injili di Minahasa yang memiliki lebih dari 800 jemaat (congregations) telah memperdebatkan dalam sidang-sidangnya untuk beradaptasi dengan apa yang disebut dengan“arus tuntutan zaman untuk bergereja”. Itu semuanya demi menghindari baik secara pribadi maupun secara berkelompok yang memiliki keinginan memisahkan diri dari persekutuan jemaat karena menganggap kehidupan bergereja tidak relevan lagi dengan trend gaya hidup masa kini.
Bagaimana sebenarnya gereja harus bersikap menghadapi tuntutan ini,itulah menjadi tanggungjawab kita bersama untuk mencarikan jalan keluar yang paling tepat: yaitu yang benar,yang baik dan yang kontekstual. Sebagaimana yang kita sadari bersama bahwa memang sudah menjadi tanggungjawab kita sebagai pemimpin gereja Protestan untuk di satu pihak kita gereja protestan harus terbuka sebagaimana memang telah menjadi semboyan reformasi yaitu ‘ecclesia semper reformanda” dan di lain pihak tradisi reformasi yang telah memberi dasar, struktur dengan segala bentuk pengajarannya, dimana kita juga harus memiliki sikap tegar sebagaimana Marthen Luther selaku reformator dengan berani berkata : “di sini aku berdiri”. Demikian juga tentunya kita seecara gamblang dan berani harus mengaku dan menyatakan serta memperkenalkan dengan penuh keyakinan akan jatidiri dari protestantisme dalam makna pengajaran “sola scriptura-nya”. Sekedar untuk diingatkan bahwa pada pundak kitalah diletakkan tradisi gereja Protestan untuk diamankan dan dipelihara serta dibentuk (ataupun di-rediscover/reshape) demi masa depan generasi atau gereja mendatang.
Nilai-nilai Gereja Protestan yang Calvinistis yang telah mempengaruhi berdirinya Negara Amerika ini, pada mulanya, ketika dibawa oleh kaum Puritan merupakan nilai-nilai yang begitu kuat melekat karena telah terinternalisasi sedemikian rupa melalui spiritualitas yang bukan saja karena kematangannya tetapi keimanan yang militant.
Ketika berjumpa dengan kelompok-kelompok pendatang non puritan di koloni-koloni Inggris di benua Amerika terjadilah apa yang boleh kami sebut sebagai externalisasi nilai-nilai kepada sesama kelompok pendatang seperti di Virginia dimana kelompok Anglikan yang pada mulanya sangat bersifat kebangsawanan/aristocrat boleh berubah bukan saja bagaikan Presbyterian tapi seperti congregasional yaitu gereja yang kini disebut sebagai gereja yang independent . Presiden pertama Amerika Serikat George Washington adalah orang yang dekat dan didukung oleh kaum puritan walaupun sebenarnya ia berlatar belakang Anglikan.. Tidak heran kalau ada pernyataannya seperti : “It is impossible to govern rightly without God and the Bible” demikian katanya. Kaum puritan atau di sini kita menyebutnya saja sebagai gereja pada waktu itu seperti memiliki suatu kekuatan tersendiri untuk mentransformasikan nilai-nilainya pada masyarakat imigran yang tengah mengalami pertumbuhan yang begitu cepat.
Freedom yang dijamin oleh produk hukum Amerika adalah wujud nyata dari pengaruh gereja atau boleh juga dikatakan sebagai nilai gereja Protestan. Karena memang yang menjadi salah satu pilar dari perjuangan kaum puritan atau gereja protestan waktu itu adalah kebebasann manusia sebagai ciptaan Allah. Kemudian dideklarasikan dalam kemerdekaan: “…all men are created equal”. Nilai kemanusiaan atau humanisme Amerika ini terus diperjuangkan secara intens dan gigih sepanjang sejarah berdirinya Negara ini. Apabila diamati dengan jeli kesinambungan perjuangan nilai humanisme ini akan terlihat dampak negatifnya dalam pola kehidupan bergereja.
Bersambung……………………………………..
Selain itu dari waktu ke waktu ,gereja di Amerika menunjukkan gejala yang sama dengan gereja-gereja lain di dunia ini, yaitu mengalami pasang-surut dalam perjalanannya bergereja. Sehingga bentuk dan nilai-nilainya pun mengalami perubahan .
Kini mari kita melihat generasi pembentuk Paradigma Landscape Gereja Protestan.
Sedikit dalam refleksi ini saya mengajak kita sekalian menoleh kepada generasi gereja yang lahir di akhir tahun 1940-an s/d permulaan tahun 1960-an atau boleh disebut kiprah generasi akhir abad lalu .Di antara generasi ini banyak masih hidup sampai sekarang karena memang usia harapan hidup di Amerika hampir mencapai 70 tahun (68 thn) dan banyak di antara mereka juga yang menjadi pimpinan dalam bangsa ini.
Menurut penelitian dan analisis sosiologi (Agama) di Amerika Serikat ,Wade Clarc Roof tentang religion atau kepercayaan atau kerohanian (spiritual) di Amerika Serikat , sbb:
“Then as a youth in the late1960s,they dropped out in record numbers..It was not really
Until the 1970s as they dropped out of the religious establishment…In the 1980s we
grasped better how same in the generation had turned to born-again evangelical and
fundamentalist faiths,some to New Age beliefs,and even more had simply defected
from religion altogether .Now in 1990s, when many in this generation are rearing children and
facing midlife we observe yet another phase of their religious and spiritual saga.Now we have
enough distance to grasp the broader evolving patterns and understand the role this generation 1s
playing in reshaping the American religious scene.”
Setelah perang dunia ke II Amerika mengalami kesulitan besar bukan saja di bidang perekonomian tetapi juga di berbagai bidang yang lain termasuk kepercayaan. Gereja Protestan pun tak terhindar dari dampak pergumulan ini.. Apa lagi dengan terjadinya perang Vietnam lebih menyuburkan sikap pemberontakkan dari generasi ini terhadap culture yang sudah mapan .Memang dari data statistik menunjukkan gereja Protestan mengalami kemunduran mulai pada decade 60-an dan seterusnya hingga 80an. (lihat table 1). Pada waktu itu masyarakat Amerika mengalami goncangan spiritual sehingga dari gaya hidupnya saja kelihatan begitu fluktuatif dari “hippies” di tahun 1970-an dan berubah “yuppies” pada tahun 1980-an. Dalam situasi sedemikian ini menyebakan orang mencari pegangan pada bentuk-bentuk keyakinan yang dapat memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan spiritual ini menyebabkan para generasi pencari (seekers) ini mengisi dengan mengikuti aliran-aliran mistik antara lain aliran mistik Timur yang dalam perkembangannya menjadi apa yang disebut dengan New Age Movement. Sementara yang lain mencari bentuk-bentuk yang baru dalam lingkungan gereja. Karena itu terjadilah peningkatan jumlah anggota bagi gereja-gereja kecil dan sekte.(lihat table 1) ,karena dapat menawarkan suatu pengalaman baru dalam kehidupan kerohanian. Sedangkan mereka yang tidak masuk dalam denominasi dan atau gereja-gereja independent tertentu membentuk suatu persekutuan atau ministry atau gereja-gereja baru. Dan inilah yang menjamur pada tahun 1990-an hingga sekarang ini.
Di tahun 1990-an ketika generasi ini telah menemukan kembali nilai Gereja yang pernah ditinggalkan maka terjadilah reshaped atau modifikasi bergereja. Bentuk ini yang secara kasat mata dapat kita saksikan di layar kaca setiap hari. Ibadah yang bergaya kontemporer. Suatu paradigma baru dalam bergereja yang kalau kita perhatikan secara lebih ekstra hati-hati maka akan nampak sebenarnya akan pergeseran nilai protestannya.Karena yang terjadi sebenarnya bukan hanya bentuk luarnya tapi nilai dasar bergereja bergeser dari pusat.
Dalam ibadah kontemporer,orientasinya telah bergeser . Bukan lagi pada Allah tetapi pada manusia. Karena mulai dari hal yang prinsip dalam beribadah ,yaitu menyangkut motivasinya sudah bukan lagi pada apa yang manusia itu hendak persembahkan kepada Tuhan melainkan apa yang dapat menyenangkan audience (peserta ibadah). Sekarang ini ada kecendrungan apabila seseorang masuk suatu gereja, ia akan memilih mana yang sesuai dengan kebutuhannya. Kalau ia mau kesembuhan datanglah ia ke gereja A.Kalau ia mau yang agak gembira, di gereja B yang dipilihnya dan kalau ia hendak menghilangkan pikiran yang sedang kusut, ya pengkhotbah yang lucu dicarinya,maka bergegaslah ia ke gereja C dan jikalau ia ingin berjumpa dengan selebriti dan bintang yang lagi ngetop maka gereja Z menjadi pilihannya. Sehingga terkesan gereja itu adalah untuk memuaskan keinginan manusia. Tidak bedanya gereja itu diperlakukan sebagaimana tombol chanel di rumah kita untuk memilih yang menjadi favorit kita.Inilah pengaruh serta dampak negative dari kebebasan dan paham humanisme Amerika.
Menyangkut pergeseran ini masih ada satu hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan prinsip, makna dan nilai gereja Protestan. Contoh yang dapat dikemukankan disini ialah mengenai system bergereja . Dimana nilai bergereja nampak dipengaruhi oleh kecendrungan para generasi seekers sebagaimana yang ditulis dalam buku American Values bahwa “..they cherish the freedom of individual expression,yet agree there should be greater respect for authority”.Hal mana terlihat dalam perjalanan gereja di tahun 1990-an juga terjadi reshaped struktur dan system gereja.Apalagi Demokrasi di Amerika adalah demokrasi yang berhasil yang sebenarnya sebagai produk gereja dan kini turut mengambil bagian dalam mempengaruhi gereja.
Memang Gereja Protestan masih melihat akan adanya otoritas Allah dalam Kerajaan-Nya,termasuk dalam Kerajaan-Nya yang kita pahami bersama ialah Gereja Am yang di dalamnya Gereja Protestan. Sejak Reformasi Gereja Protestan sekalipun terlepas dari Gereja Roma tapi tetap mengupayakan menciptakan terjadinya kerajaan” Allah di bumi seperti di Surga”.Dan itu nampak dari liturgi gereja kita yang dibuat sedemikian rupa agar benar-benar Allah di dalam Tuhan Yesus Kritus sebagai Raja melalui Roh Kudus menjadi nampak sedang memegang tampuk kepemimpinan dan memerintah di dunia ini. Oleh karena itu jemaat datang ke gereja sebagai warga kerajaan-Nya yang hendak mempersembahkan dan memuliakan nama-Nya bukan datang karena mencari roti atau butuh hiburan dls.Juga di dalam Kerajaan ada orang-orang yang dipercayakan oleh Raja itu untuk turut memimpin bersama Dia serta mengatur penyelenggaraan Kerajaan-Nya. Dalam Kerajaan ini menjadi pemimpin dan memerintah bukan hanya karena keinginan mayoritas anggota tapi karena kehendak Kristus. Tradisi gereja protestan ketika mengadakan pemilihan pelayan gerejanya, itu sebenarnya merupakan bentuk ketaatan jemaat dalam mengejawantahkan firman Allah (Alkitab) melalui proses pemilihan. Sehingga yang terpilih itu orang yang cocok dengan firman yang diimani. Jika benar hasil pemilihan sebagai ketaatan seperti tersebut di atas maka tidak diragukan lagi bahwa hasil pemilihan itu adalah berasal dari Kristus. Dan siapapun yang terpilih dan menerima delegasi tanggungjawab kepemerintahan dalam Kerajaan-Nya/jemaat harus menyadari bahwa ia adalah seorang pemimpin spiritual yang dipercayakan untuk mengurus bagian Kerajaan Allah .
Jadi sebenarnya bukan saja hanya sebagai moderator (ini bahasa gereja protestan yang dipengaruhi oleh paham demokrasi Amerika) tetapi tidak dapat disangkal adanya pendelegasian kewenangan kuasa (yang harus dipahami secara rohani) oleh Kristus sendiri untuk menjadi hamba-hamba-Nya mengatur masyarakat Kerajaan (gereja) dan menyusun system dan struktur kepemimpinannya yang dalam bangku kuliah dipelajari dalam ilmu Hukum Gereja.
Kemenangan demokrasi Amerika terhadap Kerajaan (Inggris) dan sytem kepemerintahan gereja-gereja independent Amerika seperti kelompokGereja Conggregasional, turut berimplikasi pada Kerajaan Allah di bumi. Karena ketika saat ini terjadi pembauran nilai dengan kecendrungan kaum generasi seekers sebagaiman telah disingung di atas, kalau dapat disebut disini yang nampak sekarang bukan lagi Kerajaan Allah tetapi Republik Allah. Dimana para pelayan gereja sering hanya dilihat dari hasil pemilihan oleh anggota jemaat. Sehingga apa yang dikatakan rasul Paulus dalam surat Roma 11:36 “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia,dan kepada Dia bagi Dial ah kemmuliaan sampai selama-lamanya” telah bergeser menjadi dari jemaat,oleh jemaat dan kepada jemaat serta bagi jemaatlah kemuliaan itu.
Dalam lingkungan kedua kecendrungan yang tengah menggejala ini gereja-gereja protestan Indonesia harus siuman dan bangkit serta melihat ini sebagai tantangan untuk bereaksi secara lebih kritis, kreatif dan aktif..Janganlah kita hanyut dan ikut terbawa arus.
Saatnnya kita secara bersama menderap langkah sebagaimana Tema sidang raya kita ini:
“The new beginning of a new era of the Indonesian Protestant churches in USA”.(*)
|
|