|
|
|
![]() |
![]() |
|
Sem N Makaluase dan Pilkada Sangihe
Menghadang Laju Kaum Ambisius
|
PROSES pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kabupaten Kepulauan Sangihe terus mendapat perhatian berbagai kalangan. Seorang pengamat masalah sosial, politik dan kemasyarakatan seperti Sem N Makaluase, punya apresiasi tersendiri. Baginya, proses suksesi kali ini bukan tak mungkin memunculkan sosok-sosok ambisius. Makanya, langkah mereka harus dihadang.
Riak-riak politik selama proses pilkada, baginya memang menarik untuk dicermati. Keinginan besar dari mereka yang merasa pantas jadi pemimpin tentu patut di-apresiasi secara positif.
Yang jadi soal, menurut Sem (begitu panggilan akrabnya) apabila sang kandidat sudah tidak sekadar mengemas ambisi namun telah menjadi sosok yang ambisius. “Boleh ada ambisi tapi jangan ambisius,” tegasnya.
Mengapa? Sebab sosok yang ambisius kelak cenderung melahirkan ide dan gagasan yang aneh-aneh, penuh ke-lucuan dan tidak logis. Pemicunya, karena dalam diri sosok yang ambisius tersimpan karakter pribadi pemimpin yang otoriter, feodal, diktator bahkan pembohong. Sikap itu akan bermuara pada keinginan untuk menguntungkan diri sendiri, loba serta menjadi lahan subur berseminya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Ini yang menurut Sem, sejalan dengan pandangan Langevel, salah seorang pakar ilmu jiwa yang mengatakan, “Berkata-katalah kamu supaya saya dapat mengatakan siapa engkau sebenarnya.” Ya, dari kata-kata seseorang dapat diketahui visi kedepannya. “Namun saya percaya rakyat Sangihe sudah paham karakter sosok calon pemimpin seperti itu,” tukasnya.
Terkait dengan itu, dia berhara para kandidat di Pilkada Sangihe untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat dalam menentukan pilihannya. “Tak perlu harus sampai melakukan rekayasa politik atau kamu-flase dengan cara yang berko-notasi penyesatan apre-siasi dan aspirasi hati nurani rakyat. Karena jika mereka salah memilih, yang akan merasakan akibatnya nanti adalah masya-rakat sendiri,” tukasnya.
Bagi calon emimpin yang baik, menurut dia, akan lebih terhormat bila menjunjung tinggi hukum dan perundang-un-dangan yang berlaku. Dengan begitu, seorang kandidat sebaiknya mengikuti saja aturan main, misalnya tahapan pilkada, sebagaimana yang sudah ditetapkan bersama oleh ins-titusi yang berkompeten. “Makanya, untuk sekarang, sa-ran saya, setiap kandidat yang sedang berupaya lolos menjadi bakal calon kiranya bisa menahan diri dari prilaku yang menalahi ketentuan. Misalnya mendahului kampanye dalam segala bentuk,” ujar dia.
Suksesi, tambah Sem, bukan-lah tujuan akhir, tetapi meru-pakan alat untuk mencapai tu-juan yaitu membangun daerah dan mensejahterakan rakyat Sangihe dan masa depan itu ditentukan oleh rakyat berda-sarkan pilihan aspirasinya.(law)
|
|