HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

22 March 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Suatu refleksi dari “The spiritual journey in the end of the twenties century generation in America”
Pengaruh Paradigma landscape Gereja Amerika terhadap Gereja Protestan Indonesia
Oleh : Pdt Danny Weku (bagian II)

 IKUTI BERITA LAIN

JAWABAN ATAS KOREKSI Ir. JOUTJE A. KOAPAHA, PhD
TERHADAP BABAK II PELURUSAN SEJARAH MINAHASA DAN MANADO (v)
Oleh Drs. Joutje Sendoh

 SURAT PEMBACA

Bantuan Gula Pasir 
Jangan Dimanfaatkan Oknum-oknum Tertentu

 COMMENTAREN

Demokrasi di Bolmong Sukses

 

Sekadar untuk diingatkan bahwa pada pundak kitalah diletakkan tradisi gereja Protestan untuk diamankan dan dipelihara serta dibentuk (ataupun di-rediscover/reshape) demi masa depan generasi atau gereja mendatang. Nilai-nilai Gereja Protestan yang Calvinistis yang telah mempengaruhi berdirinya Negara Amerika ini, pada mulanya, ketika dibawa oleh kaum Puritan merupakan nilai-nilai yang begitu kuat melekat karena telah terinternalisasi sedemikian rupa melalui spiritualitas yang bukan saja karena kematangannya tetapi keimanan yang militant.

Ketika berjumpa dengan ke-lompok-kelompok pendatang non puritan di koloni-koloni Ing-gris di Benua Amerika terjadilah apa yang boleh kami sebut se-bagai externalisasi nilai-nilai kepada sesama kelompok pen-datang seperti di Virginia di mana kelompok Anglikan yang pada mulanya sangat bersifat kebang-sawanan/aristocrat boleh ber-ubah bukan saja bagaikan Pres-byterian tapi seperti congre-gasional yaitu gereja yang kini disebut sebagai gereja yang in-dependent . Presiden pertama Amerika Serikat George Wa-shington adalah orang yang de-kat dan didukung oleh kaum puritan walaupun sebenarnya ia berlatar belakang Anglikan. Tidak heran kalau ada pernya-taannya seperti : “It is impossible to govern rightly without God and the Bible” demikian katanya. Kaum puritan atau di sini kita menyebutnya saja sebagai gereja pada waktu itu seperti memiliki suatu kekuatan tersendiri untuk mentransformasikan nilai-nilainya pada masyarakat imi-gran yang tengah mengalami pertumbuhan yang begitu cepat. 
Freedom yang dijamin oleh produk hukum Amerika adalah wujud nyata dari pengaruh gereja atau boleh juga dikatakan sebagai nilai gereja Protestan. Karena memang yang menjadi salah satu pilar dari perjuangan kaum puritan atau gereja pro-testan waktu itu adalah kebe-basann manusia sebagai cip-taan Allah. Kemudian dide-klarasikan dalam kemerdekaan: “…all men are created equal”. Nilai kemanusiaan atau huma-nisme Amerika ini terus diper-juangkan secara intens dan gigih sepanjang sejarah berdirinya Negara ini. Apabila diamati de-ngan jeli kesinambungan per-juangan nilai humanisme ini akan terlihat dampak negatifnya dalam pola kehidupan bergereja.
Selain itu dari waktu ke waktu, gereja di Amerika menunjukkan gejala yang sama dengan gereja-gereja lain di dunia ini, yaitu me-ngalami pasang-surut dalam perjalanannya bergereja. Se-hingga bentuk dan nilai-nilainya pun mengalami perubahan.
Kini mari kita melihat generasi pembentuk Paradigma Land-scape Gereja Protestan.
Sedikit dalam refleksi ini saya mengajak kita sekalian menoleh kepada generasi gereja yang lahir di akhir tahun 1940-an s/d permulaan tahun 1960-an atau boleh disebut kiprah ge-nerasi akhir abad lalu .Di antara generasi ini banyak masih hidup sampai sekarang karena me-mang usia harapan hidup di Amerika hampir mencapai 70 tahun (68 thn) dan banyak di an-tara mereka juga yang menjadi pimpinan dalam bangsa ini.
Menurut penelitian dan ana-lisis sosiologi (Agama) di Amerika Serikat ,Wade Clarc Roof tentang religion atau kepercayaan atau kerohanian (spiritual) di Amerika Serikat , sbb:
“Then as a youth in the la-te1960s,they dropped out in record numbers. It was not really until the 1970s as they dropped out of the religious establis-hment…In the 1980s we grasped better how same in the generation had turned to born again evangelical and
fundamentalist faiths, some to New Age beliefs, and even more had simply defected from religion altogether. Now in 1990s, when many in this generation are rear-ing children and facing midlife we observe yet another phase of their religious and spiritual saga. Now we have enough distance to grasp the broader evolving patterns and understand the role this generation 1s playing in re-shaping the American religious scene.” 
Setelah perang dunia kedua Amerika mengalami kesulitan besar bukan saja di bidang perekonomian tetapi juga di berbagai bidang yang lain termasuk kepercayaan. Gereja Protestan pun tak terhindar dari dampak pergumulan ini.. Apa lagi dengan terjadinya perang Vietnam lebih menyuburkan sikap pemberontakkan dari generasi ini terhadap culture yang sudah mapan .Memang dari data statistik menunjukkan gereja Protestan mengalami kemunduran mulai pada decade 60-an dan seterusnya hingga 80-an. (lihat table 1). Pada waktu itu masyarakat Amerika meng-alami goncangan spiritual se-hingga dari gaya hidupnya saja kelihatan begitu fluktuatif dari “hippies” di tahun 1970-an dan berubah “yuppies” pada tahun 1980-an. Dalam situasi sedemi-kian ini menyebakan orang mencari pegangan pada bentuk-bentuk keyakinan yang dapat memenuhi kebutuhannya. Ke-butuhan spiritual ini menye-babkan para generasi pencari (seekers) ini mengisi dengan mengikuti aliran-aliran mistik antara lain aliran mistik Timur yang dalam perkembangannya menjadi apa yang disebut de-ngan New Age Movement. Sementara yang lain mencari bentuk-bentuk yang baru dalam lingkungan gereja. Karena itu terjadilah peningkatan jumlah anggota bagi gereja-gereja kecil dan sekte. (lihat table 1) ,karena dapat menawarkan suatu pe-ngalaman baru dalam kehidu-pan kerohanian. Sedangkan mereka yang tidak masuk dalam denominasi dan atau gereja-gereja independent tertentu mem-bentuk suatu persekutuan atau ministry atau gereja-gereja baru. Dan inilah yang menjamur pada tahun 1990-an hingga sekarang ini.
Di tahun 1990-an ketika ge-nerasi ini telah menemukan kembali nilai Gereja yang pernah ditinggalkan maka terjadilah reshaped atau modifikasi ber-gereja. Bentuk ini yang secara kasat mata dapat kita saksikan di layar kaca setiap hari. Ibadah yang bergaya kontemporer. Suatu paradigma baru dalam bergereja yang kalau kita per-hatikan secara lebih ekstra hati-hati maka akan nampak sebe-narnya akan pergeseran nilai protestannya. Karena yang ter-jadi sebenarnya bukan hanya bentuk luarnya tapi nilai dasar bergereja bergeser dari pusat.
Dalam ibadah kontemporer, orientasinya telah bergeser. Bukan lagi pada Allah tetapi pada manusia. Karena mulai dari hal yang prinsip dalam beribadah ,yaitu menyangkut motivasinya sudah bukan lagi pada apa yang manusia itu hen-dak persembahkan kepada Tu-han melainkan apa yang dapat menyenangkan audience (peserta ibadah). Sekarang ini ada kecendrungan apabila se-seorang masuk suatu gereja, ia akan memilih mana yang sesuai dengan kebutuhannya. Kalau ia mau kesembuhan datanglah ia ke gereja A. Kalau ia mau yang agak gembira, di gereja B yang dipilihnya dan kalau ia hendak menghilangkan pikiran yang sedang kusut, ya pengkhotbah yang lucu dicarinya, maka ber-gegaslah ia ke gereja C dan ji-kalau ia ingin berjumpa dengan selebriti dan bintang yang lagi ngetop maka gereja Z menjadi pi-lihannya. Sehingga terkesan ge-reja itu adalah untuk memuas-kan keinginan manusia. Tidak bedanya gereja itu diperlakukan sebagaimana tombol chanel di rumah kita untuk memilih yang menjadi favorit kita.Inilah pe-ngaruh serta dampak negatif dari kebebasan dan paham humanisme Amerika.
Menyangkut pergeseran ini masih ada satu hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan prinsip, makna dan nilai gereja Protestan. Contoh yang dapat dikemukankan di sini ialah mengenai system bergereja. Di mana nilai bergereja nampak dipengaruhi oleh kecendrungan para generasi seekers sebagai-mana yang ditulis dalam buku American Values bahwa “they cherish the freedom of individual expression,yet agree there should be greater respect for aut-hority”.Hal mana terlihat dalam perjalanan gereja di tahun 1990-an juga terjadi reshaped struktur dan sistem gereja. Apalagi Demokrasi di Amerika adalah demokrasi yang berhasil yang sebenarnya sebagai produk gereja dan kini turut mengambil bagian dalam mempengaruhi gereja.
Memang Gereja Protestan masih melihat akan adanya otoritas Allah dalam Kerajaan-Nya,termasuk dalam Kerajaan-Nya yang kita pahami bersama ialah Gereja Am yang di dalam-nya Gereja Protestan. Sejak Reformasi Gereja Protestan se-kalipun terlepas dari Gereja Roma tapi tetap mengupayakan menciptakan terjadinya kera-jaan” Allah di bumi seperti di Surga”.Dan itu nampak dari li-turgi gereja kita yang dibuat sedemikian rupa agar benar-benar Allah di dalam Tuhan Yesus Kritus sebagai Raja mela-lui Roh Kudus menjadi nampak sedang memegang tampuk kepemimpinan dan meme-rintah di dunia ini. Oleh karena itu jemaat datang ke gereja sebagai warga kerajaan Nya yang hendak memper-sembahkan dan memuliakan nama Nya bukan datang karena mencari roti atau butuh hiburan dls.Juga di dalam Kerajaan ada orang-orang yang dipercayakan oleh Raja itu untuk turut memimpin bersama Dia serta mengatur penyelenggaraan Kerajaan Nya. Dalam Kerajaan ini menjadi pemimpin dan memerintah bukan hanya karena keinginan mayoritas anggota tapi karena kehendak Kristus. Tradisi gereja protestan ketika mengadakan pemilihan pelayan gerejanya, itu sebenar-nya merupakan bentuk ketaat-an jemaat dalam mengejawan-tahkan firman Allah (Alkitab) melalui proses pemilihan. Se-hingga yang terpilih itu orang yang cocok dengan firman yang diimani. Jika benar hasil pemi-lihan sebagai ketaatan seperti tersebut di atas maka tidak di-ragukan lagi bahwa hasil pemilihan itu adalah berasal dari Kristus.(bersambung)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin