HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

23 March 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Catatan Pasca Bencana di Sulawesi Utara
Ada Apa dengan Tondano Ii 

Oleh: audy WMR wuisang (bagian I)

 IKUTI BERITA LAIN

Suatu refleksi dari “The spiritual journey in the end of the twenties century generation in America”
Pengaruh Paradigma landscape Gereja Amerika terhadap Gereja Protestan Indonesia
Oleh : Pdt Danny Weku (bagian IiI/Habis)

 SURAT PEMBACA

PKL di Pusat Kota Perlu Perhatian Pemkot Manado

 COMMENTAREN

Hasil CPNS, Upaya Eliminir Praktik KKN

 

“… Oh Minahasa tempat lahirku… 
Sungguh bangga rasa hatiku, memandang keindahanmu. 
Namamu mashyur di Nusantara 
Karena cengkih, pala dan kopra, harumkan pasaran dunia. 
Danau Tondano dan sawah ladangmu …” 

Tondano terancam tenggelam? Benar. Tapi apakah ini disadari oleh masyarakat sekitar Ibu Kota Kabupaten Minahasa (dulu) ini? Sebagian kecil ya, dan sebagian terbesar pastilah tidak. Rang-kaian bencana yang terjadi sejak akhir tahun 1990-an dan sema-kin dahsyat pada akhir-akhir ini menunjukkan trend yang me-ngerikan, dan bukan tidak mungkin Tondano tenggelam. Setelah peran historis dan kul-tural serta politis Tondano “teng-gelam”, maka kini secara fisik-pun Tondano terancam tengge-lam. Artikel ini, mengajak se-mua, bukan hanya orang atau Tou Tondano untuk memikirkan posisi kota sejarah bagi Mina-hasa ini pada masa-masa men-datang. Tulisan inipun bisa menjadi lanjutan dari artikel dengan judul yang sama yang pernah dipublikasikan salah satu media di propinsi ini beberapa tahun lalu.
Bagi beberapa orang, tulisan Tondano terancam “tenggelam” mungkin terasa bagaikan se-buah dramatisasi. Tetapi, bila dibandingkan antara posisi dan letak “Minawanua” atau Ton-dano Tua yang terletak di Desa Toulour, di mana sebagian terbe-sarnya sudah terendam air, ma-ka ancaman tersebut baru tera-sa. Selain itu, bagi mereka yang menghabiskan waktu dan masa kecil di Tondano, tahu belaka, betapa permukaan Sungai Ton-dano sudah meningkat bebera-pa meter dibanding 20-25 tahun silam. Tentu, naiknya permu-kaan sungai Tondano bukan ter-jadi tiba-tiba, alias sim salabim, jadi dan naiklah permukaan sungai tersebut. Sama halnya dengan terendamnya sebagian daerah di Desa Toulour dewasa ini. Semua proses tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, me-lainkan akumulasi dan proses panjang dari perusakan lingku-ngan yang terjadi di seputar Danau Tondano.
Jika ditelusuri lebih jauh, proses-proses pembabatan hutan, baik di daerah perke-bunan Koya, Tounsaru, Peleloan dan Urongo yang telah berubah menjadi areal pendidikan; Ke-mudian ditambah dengan peng-gundulan hutan yang dirubah menjadi perkebunan di daerah utara Tataaran dan Koya, serta juga terutama pembabatan hu-tan di Pegunungan Lembean, me-nyebabkan ancaman tersebut menjadi semakin riil. Dengan semakin jarangnya pepohonan yang dulunya rindang dan lebat, maka daya resap air menjadi berkurang, pada gilirannya kerusakan hutan menyebabkan bukan hanya air yang dialirkan ke Danau Tondano, tetapi juga lumpur. Akumulasi lumpur inilah yang menyebabkan pendangkalan danau, sehingga pada gilirannya memaksa permukaan danau dan sungai Tondano naik.
Memang, untuk tahun-tahun ini, mendengar kata “Tondano Tenggelam” pastilah dianggap sekedar olok-olok, atau cari sen-sasi. Tapi, sebagaimana dunia diramalkan menghadapi naik-nya permukaan air laut akibat pemanasan global, demikian juga sebetulnya ancaman teng-gelamnya Tondano. Artinya, areal-areal yang lebih rendah, semisal desa-desa di Kota Tondano yang dipinggiran Su-ngai Tondano, bukan tidak mung-kin terendam, meskipun dalam hitungan puluhan tahun. Dan selain arena perjuangan Perang Tondano ikutan tenggelam, juga sejumlah desa lain semisal Koya dan Tataaran serta puluhan desa lain seputaran Danau, ha-rus menyingkir ke real yang lebih tinggi. Tapi … memang, bukan dalam hitungan hari, minggu dan bulan, tapi tahunan, bah-kan puluhan tahun.
Kompleksitas Persoalan 
Bilapun pemerintah memiliki good will (kemauan baik) atau juga political will dalam me-nanggulangi persoalan ini, tidaklah berarti masalah dengan mudah diatasi. Mengapa? Ka-rena mengatasi persoalan pen-dangkalan Danau Tondano, bu-kanlah persoalan lingkungan semata. Persoalan perusakan Lingkungan di Minahasa, ter-utama seputar Danau Tondano, bukan persoalan Lingkungan semata. Apabila teropong per-soalannya dilihat semata ma-salah lingkungan, maka solusi yang dihadirkan pastilah partial, tidak menyeluruh. Proses pe-rusakan dan pembabatan hutan dan pohon di Pegunungan Lem-bean dan di areal Perkebunan sebelah barat Danau Tondano, serta di Selatan, daerah Kakas dan Langowan, tidak masalah tunggal. Bukan semata “keti-daktahuan” penduduk yang me-rambah hutan. Bukan juga semata iseng-iseng menebangi hutan buat dijadikan “bahan bakar tradisional” untuk mema-sak. Lebih dari itu, sebuah per-masalahan sosial yang melibat-kan masalah kemiskinan.
Karena itu, penghijauan kem-bali atau reboisasi tidak me-nunjukkan manfaat yang op-timal. Karena memang meng-atasi masalah pendangkalan, hanya dengan menangani per-soalan-persoalan yang terkait Lingkungan, tidak menyelesai-kan salah satu akar persoalan. Bagaimana mungkin masyara-kat tidak tergoda melakukan ekstensifikasi areal pertanian dan menebangi hutan apabila hidupnya morat-marit? Bagai-mana mungkin masyarakat tertarik melanggengkan bibit po-hon dalam rangka penghijauan sementara kebutuhan keseha-rian mereka masih ragu didapat darimana? Ironisnya, kadang tudingan penyebab pendang-kalan secara semenamena dibebankan kepada para pen-duduk yang dianggap “kanibal” terhadap pohon-pohon penting itu. Tapi tidak pernah peduli bahwa memang hanya pohon dan lahan itu yang mungkin me-reka kais untuk menyambung hidupnya.
Bila sudah terkait dengan ma-salah kemiskinan, maka kebija-kan dan proses penyembuhan, pasti akan menjadi lebih rumit. Dalam konteks prilaku dan kecenderungan elit politik yang lebih kapitalis, mementingkan modal, mementingkan dunia usaha, maka problematika ke-miskinan tetap belum akan ter-sentuh komprehensif. Kon-sentrasi dana, sayangnya tidak-lah ke Usaha Kecil Menengah. Buktinya, bukannya diupaya-kan mencari market (pasar) alternatif bagi ‘Cap Tikus’ mi-salnya, justru larangan yang dituai. Artinya, terserah mau diapakan hasil Pohon Seo, dan terserah mau digimanakan ‘Cap Tikus’ itu, yang penting dilarang. Padahal, justru ‘Cap Tikus’ ini menjadi salah satu sumber penghasilan utama banyak pe-tani. Apa alternatif yang di-siapkan bagi petani Cap Tikus? Tidak ada, yang penting dilarang dulu.
Atau, kemanakah target pe-nguatan kelompok ekonomi le-mah dan usaha kecil lainnya apabila tidak menyentuh ke-lompok miskin? Kita tentu layak bertanya. Karena memang, ke-kisruhan persoalan penanganan kemiskinan bermuara ke ba-nyak masalah sosial lainnya, bukan hanya persoalan pen-dangkalan Sungai dan Danau Tondano. Memang persoalan dan ancaman pendangkalan bermuara pada core (inti) per-soalan pilihan pembangunan kita. Kita, termasuk Minahasa (dulu), tidaklah memberi per-hatian dan mengapresiasi upaya mengangkat kehidupan petani. Selalu yang diutamakan adalah “mencari investor”, meski mayo-ritas penduduk Minahasa ada-lah petani. Karena sejak dulu fa-vorit adalah “investor” dan sering dengan kategori yang diimpikan “kakap”, akhirnya sentuhan pembangunan jadi tidak relevan dan tidak bersignifikansi (ber-makna) positif bagi mayoritas penduduk Minahasa.
Akhirnya … justru bukan pe-merintah dan program peme-rintah terutama yang berupaya melestarikan sungai dan danau Tondano.(bersambung)
Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan.

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin