HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

24 March 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Catatan Pasca Bencana di Sulawesi Utara
Ada Apa dengan Tondano Ii 

Oleh: audy WMR wuisang (bagian II)

 IKUTI BERITA LAIN

Suatu refleksi dari “The spiritual journey in the end of the twenties century generation in America”
Pengaruh Paradigma landscape Gereja Amerika terhadap Gereja Protestan Indonesia
Oleh : Pdt Danny Weku (bagian IiI/Habis)

 SURAT PEMBACA

Gubernur dan Alokasi Dana Desa(ADD)

 COMMENTAREN

Mencermati Pelantikan Rektor UKIT

 

Akhirnya … justru bukan pemerintah dan program pemerintah terutama yang berupaya melestarikan Sungai dan Danau Tondano. Justru lembaga-lembaga asing, Non Government Organization (LSM) yang giat melakukan program penyadaran masyarakat, advocacy masyarakat miskin, dalam melestarikan aliran sungai dan danau. 
Tetapi … sejauh manakah kelompok masyarakat sema-cam ini melakukan tugasnya sementara pemerintah tidak cukup siuman memperhati-kan persoalan itu? Pemegang otoritas adalah pemerintah. Tanpa support penuh dan ke-pedulian yang mendalam pe-merintah, maka sangat sulit diharapkan pencegahan yang komprehensif. Hanya melalui kerja sama yang komplementer antara semua pihak, maka persoalan yang kusut masai dan kompleks antara persoa-lan lingkungan dan masalah sosial ini bisa ditangani secara baik.
Tondano terancam tengge-lam. Memang bukan sekarang. Tapi nanti. Artinya, kita se-dang mewariskan Kota Tonda-no yang penuh sejarah kepada anak cucu kita dengan mem-bentuknya menjadi “sesuatu yang lain”. Atau sedang meme-rosokkan kota sejarah di Mina-hasa ini kebentuk yang ahis-toris, alias kehilangan sejarah-nya. Kita semua. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga kita yang berdiam di seputar Da-nau Tondano, sedang berupa-ya “menenggelamkan” kota itu, akibat frustasi mendalam terhadap tuntutan kehidupan dan tuntutan keseharian.
Tondano: Kehilangan Sega-lanya? 
Berkali-kali, saya menyebut-kan Tondano sebagai kota se-jarah dan kota budaya, selain juga menyebut arti pentingnya dalam konteks politik. Ton-dano, menjadi saksi bisu per-tarungan berlarut-larut antara penjajah (Spanyol dan Belanda) dengan para walak Minahasa pada tahun 1600-1800an. Berkali-kali pada tahun tahun tersebut Tondano menjadi arena tumpah darah, sebagian melibatkan nyaris seluruh walak di Tanah Minahasa. Yang kemudian pada akhirnya berujung pada bumi hangus perkampungan Minawanua, perkampungan Tondano per-tama di tepi Danau Tondano, mengikuti alur sungai Tonda-no. Fakta sejarah ini, justru jauh lebih kokoh ketimbang mengenal Tondano hanya se-bagai kota yang melahirkan Sam Ratulangi.
Kota Tondano ini pula, yang kemudian menjadi Ibu Kota Kabupaten Minahasa untuk sekian waktu lamanya. Se-bagai “capital city” atau Ibu Ko-ta, Tondano menjadi pusat bu-daya Minahasa, terlebih ka-rena pada masa itu Minahasa selain sebagai kesatuan politik (kabupaten) juga menjadi kesatuan Budaya (melingkupi seluruh etnis Minahasa. Di ko-ta ini pula, diletakkan Rumah Tua Minahasa yang saat ini sudah nyaris tinggal puing, selain kuburan Pahlawan Na-sional Sam Ratulangi. Di Kota ini jugalah pada masa lalu, aktivitas budaya Minahasa coba dipelihara melalui rang-kaian aktivitas budaya yang melibatkan seluruh sekolah di Minahasa. Jadi, tidak salah bila Tondano menjadi satu Kota bermakna cultural bagi Minahasa, meskipun Batu Pinabetengan berada jauh di sebelah selatan.
Sayangnya, kini bagi Mina-hasa, Tondano sudah kehila-ngan predikatnya sebagai pu-sat politik, karena Minahasa sudah termekarkan menjadi empat Daerah: Kota Tomohon, Kabu-paten Minahasa Induk, Kabu-paten Minahasa Selatan dan Kabupaten Minahasa Uta-ra. Sudah agak sulit menerima konsensus dan kesepakatan bahwa Tondano masih menja-di pusat Politik Minahasa. Bahkan menyebutnya sebagai pusat budaya, juga menjadi semakin sulit. Tinggal kena-ngan dan rasa hormat terha-dap “bekas” Ibu Kota Kabupa-ten Minahasa sajalah yang melatari rasa “segan” Kabupa-ten lain terhadap Tondano yang semakin kehilangan greget dan geliatnya. Terlebih karena akselerasi pertumbu-han ekonominya relatif ter-tinggal dari beberapa kota lain semisal Tomohon.
Menghadapi ancaman dari Sungai dan Danau Tondano yang semakin dangkal, sung-guh dikhawatirkan, Tondano kehilangan segala-galanya. Kehilangan predikat pusat budaya, pusat politik dan kini juga terancam kehilangan se-jarahnya. Karena bahkan “na-ma besarnya” boleh dikata su-dah “tenggelam” dan hanya tinggal nama. Apakah untuk sekadar mempertahankan sejarahnyapun kita tidak bisa? Dan kalau harus bisa, apa dan bagaimana seharusnya mela-kukannya? Sungguh sebuah pertanyaan yang harus dija-wab. Bukan cuma oleh Bupati Kabupaten Minahasa Induk, tetapi juga harus dijawab oleh Universitas Manado yang se-harusnya diberi nama Univer-sitas Tondano atau Universitas Minahasa. Karena di atasmu, adalah areal yang dulu me-nyanggah danau, dan anda menyumbang terhadap proses pendangkalan danau itu. Jadi, bila dituntut namamu menjadi Universitas Tondano ataupun Universitas Minahasa, karena memang anda berhutang atas tanah itu. Berhutang atas se-jarah dan eksistensi tanah itu. Tapi bahkan sekadar meneliti, mengkaji dan mengupayakan konservasi atas kerusakan itu-pun, masih amat sulit dila-kukan oleh UNIMA. Sejarah dan kontribusi apa jadinya yang dihadirkannya bagi upaya menyelamatkan Tondano dan sejarahnya?
Tanggung jawab juga harus dijawab oleh para petinggi dan pemuka di Tanah Tondano. Baik elit politik, maupun elit agama dan tokoh informal lainnya. Sudah cukup lama Tondano terlelap, dan kini kita dibangunkan dari mimpi buruk, betapa kita menyum-bang atas meningkatnya kua-litas bencana di Manado. Kita membiarkan penduduk meru-sak hutan, kita membiarkan pemerintah tidak memperhati-kan petani, kita sangat per-misif (membolehkan semua) dengan semua pelanggaran tersebut di atas. Jadi, kita se-mua bertanggung jawab atas mundurnya Kota Tondano. Meski masih belum terlambat, kita perlu menyadari betapa berat langkah itu. Tetapi, biarlah kita terlambat sebelum kita ‘Kehilangan Segalanya”.
“… Oh Tempat lahirku Mi-nahasa . 
Aku rindu setiap masa, Aman Damai dan Sentosa”.(*) 

Penulis, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan.

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin