|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Sejarah Gereja Gerakan Pentakosta
Oleh: Pdt D. S Tulangow S.Th (Bagian I)
|
Meniti sejarah Gereja Gerakan Pentakosta (Pinkster Beweging) masuk ke Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan tokoh pendirinya, yakni Rev Johannes Gerhard Thiessen, yang dilahirkan di Kitchkas, Ukraina, 22 November 1869.
Tamatan Seminary Theologia St. Chrischona di Switserland, dan Tamatan Sekolah Kedok-teran di Roterdam, yang me-nikah dengan Anna Maria Vink, mengawali pelayananya, sebagai Utusan Injil di Pulau Sumatera pada Tahun 1901.
Rev Johanes Thiessen ber-sama isterinya meninggalkan negeri Belanda, dan diutus oleh Doopgzinke Kerk sebagai guru injil ke daerah Sumatera Utara untuk bekerja melayani suku Batak. Dapat dikatakan bahwa pada mulanya Rev Jo-hannes Thiessen yang kemu-dian hari biasa disapa dengan panggilan Papa Thiessen, membawa Injil yang holistik maksudnya sambil menginjil juga membantu pelayanan ke-sehatan masyarakat disekitar-nya. Ia mendirikan Gereja dan juga rumah sakit. Selama me-layani di Pekantan + tahun la-manya Tuhan mengaruniakan anak tiga orang putra dan tiga orang putri yang semuanya lahir di Sumatera.
Bersama keluarganya, papa Thiessen pun kembali ke Ne-geri Belanda, karena telah selesai menunaikan tugas di Sumatera hingga tahun 1916.
Pada waktu itu gerkan Pen-takosta yang dimulai di Ame-rika Serikat melanda benua Eropa. Kebangunan Rohani terjadi di mana-mana dan ku-asa Roh kudus dinyatakan da-lam setiap kebaktian kebangu-nan Rohani. Kebangunan Ro-hani yang diikutinya di Swit-zerland.
Dari Switzerland Papa Thie-ssen kemudian ke Jerman dan berkenalan dengan pastor Jo-nathan Paul, perintis Pinskter Beweging (Gerakan Pentakos-ta) di Jerman dan juga Br Roelof Polman pelopor Pinskter Beweging di Belanda. Setelah mengalami baptisan Roh Kudus, Tuhan memperbaharui visi dan misi Papa Thiessen.
Selanjutnya, pada Tahun 1921 Papa Thiessen bersama keluarganya meninggalkan Belanda dan kembali ke In-donesia. Mereka tidak kembali di Pulau Sumatera melainkan ke pulau Jawa dengan mem-bawa visi baru dari Tuhan de-ngan predikat Evangelist (penginjil). Beberapa pelopora-liran Pentakosta lainnya ber-gabung dengan Papa Thiessen antara lain: Br John Bernard dari Liverpool, Inggris dan Weenink Van Loon Hoofd On-derwyzer (Kepala Sekolah), mereka dari satu persekutuan yang bernama ‚’’De Bond Voor Evangelistie’’ yang membentuk suatu yayasan” De Zendings Vereeniging”. Yayasan ini mengelola/mengasuh sebuah sekolah Kristen yakni Hollands Chineesche school met de Bijbel, sebagai pimpinan Sekolah ditunjuk Wenink Van Loon.
Di samping itu, di Kota Te-manggung terdapat pula ya-yasan Zwakzinhigenzorg yg di-sponsori oleh Pa Van Steur. Yayasan tersebut bergerak di bidang penampungan anak-anak terlantar yang mempu-nyai sebuah Panti Asuhan yang pimpinannya adalah sus-ter M A Van Alt, semua tokoh tersebut ternyata adalah sim-patisan Gereja Gerkan Penta-kosta yang diperkenalkan oleh John Bernard, rekan Papa Thiessen.
Dalam waktu yang hampir bersamaan bulan Maret 1921 datang pula dua penginjil dari,” Bethel Tempel” dari Seatle Amerika Serikat yakni Pdt C E Grosbeck dan Pdt DR Van Klaveren. Keduanya mem-bawa serta keluarganya. Me-reka tiba di pelabuhan Batavia dengan menumpang KM Suwa Maru pada bulan Maret 1921. Namun keduanya langsung menuju ke Denpasar Bali.
Namun sangat disayangkan karena pada waktu itu oleh pe-merintah Hindia Belanda me-nyatakan bahwa Pulau Bali tertutup untuk penginjilan se-bab Pulau Bali telah dijadikan sebagai pulau wisata untuk menarik para pelancong dari luar negeri supaya boleh me-ningkatkan pendapatan keua-ngan dari pemerintah yang ada. Oleh karena itu kedua pe-nginjil tadi tidak dapat berbuat banyak sekalipun sempat memberitakan injil di pulau dewata ini tapi hasilnya tidak menggembirakan. Dan pada bulan Desember 1922 kedua-nya berangkat menuju ke Surabaya. Di Surabaya mere-ka berpisah, Pdt Van Klaveren menuju Jakarta dan berga-bung dengan Gerkan Penta-kosta (Pinkster Beweging) pim-pinan Papa Thiessen. Sedang-kan Pdt Groesbeck tetap di Su-rabaya dan giat mangadakan penginjilan (Camp Meetings) dan kebanyakan yang hadir di dalam camp meeting itu ada-lah pemuda-pamuda berdarah campuran Belanda Indonesia. (Ambon, Minahasa, Timor). Kemudian Pdt Groesbeck ber-temu dengan Van Gesel seo-rang karyawan BPM di Ce-pu.Dan mereka bersama-sa-ma bergabung pada perseku-tuan De Bond Voor Evangelisa-tie yang pada waktu itu kero-haniannya lebih maju daripa-da orang-orang Kristen lain-nya. Ibu moeke Wynen salah seorang yang aktif pada or-ganisasi ini, dan dialah mem-perkenalkan penginjil dari Seatle USA ini pada organisasi tersebut. De bond Voor Evange-lisatie berpusat di Bandung dan pimpinannya adalah an-tara lain Wenink Van Loon yang waktu itu telah berga-bung bersama-sama dengan Pinkster Beweging Pimpinan Papa Thiessen.
Pada tanggal 29 Maret 1923 tibalah di Cepu Rev Johannes Thiesen bersama Wenink Van Loon (pimpinan‚ De bond Van Evangelistie dari Bandung dan mengadakan kebaktian. Dan keesokan harinya adalah hari Jumat Agung (Goede Vrijdag) Tanggal 30 Maret 1923 di-umumkan akan diadakan baptisan air di daerah pasar sore. Jumlah yang dibaptis pada waktu itu adalah 13 jiwa yang nama-nama mereka sbb: Jan Jeckel, Ny Jeckel, tn F G van Gesel Ny van Gesel, Ch C De Vriew, Tn Frists S Lu-moindong, Tn Win Vincentie, Ny Vincentie, Tn Agust Kops, Corie Eiderbrink, Anton leter-man, Tn Sambow Ignatius Paulus Lumoindong, Ny SIP Lumoindong Vincentie.
Mereka dibaptis oleh Pdt Thiessen dan Pdt Groesbeck, dalam kebaktian Kebangunan Ronahi di Cepu Tanggal 29-30 Maret 1923 itu terjadi peme-nuhan Roh Kudus pada mere-ka yang mengikuti Kebaktian dan acara pembaptisan air. Sehingga tanggal 29 Maret 1923 sebagai hari berdirinya Pinkster Beweging oleh Rev Johannes Thiessen.
Papa Thiessen dan Wenink Van Loon kembali ke Bandung dan menersukan pelayanan disana. Sedangkan dari Cepu Api Pentakosta terus menjalar dengan disertai kuasa dan mukjizat – mukjizat ke Suraba-ya dan hampir seluruh Jawa Timur. Para Pelopor aliran Pentakosta ini membagi wila-yah pelayanan mereka. Se-dangkan Rev Johannes me-milih Kota Bandung sebagai basis pelayanannya.
Pada mula pelayanannya di Bandung Papa Thiessen menye-wa gedung pangadilan negeri (Landraadzaal) sebagai tempat kebaktian, karena pada malam hari dan minggu tentunya tidak dipergunakan.(bersambung)
Setiap kebaktian yang dia-dakan di tempat tersebut se-lalu mendapat perhatian ba-nyak pengunjung karena ku-asa Tuhan dan Mukjizat ba-nyak dinyatakan.
Banyak orang bertobat dan lahir baru, yang sakit disem-buhkan dan menerima Tuhan Yesus Kristus pribadi. Pernah dalam Khotbahnya Papa Thie-ssen mengatakan : Pada hari-hari biasa orang-orang jahat diadili dan dijatuhkan huku-man di ruangan ini, tetapi da-lam kebaktian ini mereka yang bertobat dari segala dosa dan kejahatannya meneriman anugerah pengampuanan dari hakim agung yaitu Yesus Kristus. Ada sekelompok orang Kristen yang sudah lama berdoa untuk dipenuhi dengan Roh Kudus kemudian meneri-ma kepenuhan Roh Kudus an-tara lain : Mama Litson, Ke-luarga Tefer, Keluarga Kuilen-begr, Keluarga Droop, dan ma-sih banyak lagi utk disebutkan satu persatu. Dalam waktu re-latif singkat, kebaktian dalam ruangan pengadilan tersebut sudah tidak dapat menam-pung para pengunjung yang semakin banyak sehingga tim-bul hasrat untuk membangun gereja sendiri.Tuhan mengge-rakkan hati Zr Kuilsoonlaan (sekarang jl. Marjuk No. 11) untuk dibangun gedung gere-ja. Dengan pertolongan Tuhan berdirilah gereja (gedung) Pinkster Beweging yang perta-ma di Bandung diberi nama BETHEL. Gedung gereja ini dapat menampung + 300 orang. Dan tempat inilah papa Thiessen kemudian dibantu oleh anak-anaknya mengabar-kan injil yang penuh kuasa dan heran.
Untuk memenuhi ketentuan dari pemerintah dari Hindia Belanda, maka papa Thiessen mangajukan permohonan untuk memberitakan injil di daerah Jawa barat pada tanggal 04 April 1923. Permohonan tersebut dikabulkan oleh pemerintah dan dikeluarkan Surat Keputusan No. 28 Tertanggal 04 Juli 1924 dari Gouvernour Generral Butitenzorg. Dengan SK tersebut palayanan papa Thiessen mendapat pengakuan pemerintah dan pelayanannya semakin meluas ke kota-kota lainnya.
Dalam dekade 30 tahun (1923-1953) atau sampai meninggalnya rev. Johannes Thiessen (beliau meninggal pada tanggal 1 Maret 1953) dalam usia 83 tahun, Gereja Gerakan Pentakosta sudah menyebar ke beberapa kota di pulau jawa, di Makassar Sulawesi Selatan sampai ke pedalaman tanah Toraja, dan di Minahasa, Sulawesi Utara.
Dan dalam dekade 30 tahun berikutnya Gereja Gerakan Pentakosta atau sampai tahun tahun 1980 telah meluas ke pedalaman kalimantan timur dan Barat, serta Sumatera Selatan atau Lampung sampai ke Sumatera Utara dan Sanger Talaud, Sulawesi Utara.
Dari tahun 1990 sampai sekarang GGP (Pinkster Beweging) telah meluas ke propinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat serta Maluku.
Saat ini, penyelenggaraan Hari Ulang Tahun ke 83 Tingkat Nasional tahun 2006 Gereja-Gerakan Pentakosta Di Pusatkan Di Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara, dengan tema “Bangkit menjadi penuai (Yohanes 4:35). Dimana kegiatan menghadapi HUT tersebut, seperti seminar sehari Selasa, 28 Maret 2006 dengan topik Kepemimpinan Transformasional, dengan pembicaranya dari unsur Teolog, Birokrat, maupun LSM.
Peserta seminar itu dari para pemimpin atau Pelayan GGP se Indonesia yang diperkirakan akan dihadiri + 300 orang, yang nantinya akan dilaksanakan Pusdiklat Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di Maumbi.
Selanjutnya, akan dilaksanakan ibadah Syukur Rabu, 29 Maret 2006, pukul 10.00 Wita di GGP Antiokia Airmadidi, dengan pelaksana Pdt Dolfie Tulangow S.Th sebagai ketua, dan Pdp. Roy H Lengkong SH sebagai sekretaris.(***)
|
|