HOME : FOOTBALL

Berita Sanger dan Talaud 

25 March 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Oma Flora, ahli pembuat senjata tajam Mengais Rezeki Pengrajin Besi 

Laporan: Meidy Pandean, Tahuna

 

 IKUTI BERITA LAIN

Bertahan Hidup dengan ‘Kipung’

HAWA laut yang terasa panas berhembus langsung dari Samudera Pasifik. Te-rik mentari tak bisa lagi mengusik halimun yang menebar dingin kawasan Kampung Lenganeng yang terletak di puncak gunung di balik Kota Tahuna. Di bawahnya tampak perahu serta kapal yang datang dan pergi dari Teluk Ta-huna, bagai noda hitam di tengah kabut laut yang terus memanjang hingga ke horison samudera tak terjangkau mata. 
Seorang perempuan berusia 66 tahun, agak terkesima saat wartawan koran ini menjum-painya di pondok Keluarga De-rek-Ruitan. Oma Flora, begitu namanya disapa. Dia sangat di-kenal warga Kampung Lenga-neng. Maklum, sebagai peng-rajin besi, Oma Flora mewarisi pekerjaan ini secara turun-temurun. 
Tak seperti cerita Mpu Gan-dring, yang membuat keris Ken Arok hingga menjadi mitos di Ta-nah Jawa. Atau pedang Raja Ar-thur yang ditempa seorang de-wa. Tapi, Keluarga Derek-Ruitan, adalah generasi ahli pembuat pedang yang masih tersisa di antara sedikit tradisi “Kipung” di Tanah Sangihe. Kipung adalah para pandai besi yang di masa kejayaan kerajaan-kerajaan Sangihe, mereka menjadi pe-nempa alat perang kerajaan, seperti pedang, tombak, ta-meng, alat-alat masak dan per-hiasan. Pedang “Kinawalang”, adalah sebuah pedang paling kesohor kesaktiannya milik raja Kerajaan Tabukan David Pa-pukule Sarapil, yang sangat di takuti perompak Mangindano. Pedang sakti yang bisa terbang sendiri dan mengeluarkan api ini ditempa seorang Kipung Kerajaan Tabukan. Di Tanah Jawa, seorang penempa pe-dang adalah seorang pria yang gelarnya “Mpu”. Kata Mpu ber-makna pembuat pedang sakti. 
Di Sangihe sejak masa kera-jaan Saluhang (Salurang), Tabu-kan, Kendar, Manganitu, Ka-longan, Tahuna, Siau, Mando-lokang, Bobontehu, para ahli pe-nempa pedang kerajaan di sebut “Kipung”. 
Kini Oma Flora, menjadi sang penerus generasi Kipung Sangi-he. Di pondok huniannya, ia ting-gal dengan 12 orang yang ter-diri dari anak dan cucunya. Le-tak pondok itu di pinggiran jalan Dusun II, Kampung Lenganeng, Kecamatan Tabukan Utara, Ka-bupaten Kepulauan Sangihe. Klenengan besi yang tertumbuk keras dan ada yang mendesing terkikis menyaput sunyi sore berhujan. Semangat Kipung telah tumbuh dalam keluarga Oma Flora. 
Pedang atau keris dan badik tak sembarang di buat. Hi-tungan buku menjadi per-soalan magis dan mistik yang diyakini, dan setiap pemesan tak berani mengatakan ini mitos. 
Keluarga Oma Flora berkum-pul dan bekerja serta meramu potongan besi-besi untuk dija-dikan pedang, pisau dan ber-macam-macam barang tajam lainnya untuk dijual ke pa-saran.
Menyimak kisah hidup Kipung dan mungkin cerita kegetiran hidup sebuah keluarga yang bersandar pada hasil dari buah irama ketukan besi. 
Oma Flora merupakan potret teladan para ibu yang tak terjebak tradisi hedonist, yang suka solek, boros, materialis, ju-ga ‘karlota’. Ia membesarkan anak-anaknya dengan hanya bermodalkan besi, namun tidak bertangan besi. Ketegaran hi-dupnya pantas dicermini, karena sepeninggal mendiang suami-nya, Oma Flora tetap tegar membanting tulang, memotivasi anak-anak bahkan cucu, me-rentas dan mengais hidup di jalan Kipung. Suatu realita yang mungkin bermakna kegetiran hidup, dibanding pragmatisme orang kota yang suka hidup foya dan serba enak. Jalan Kipung yang dialami keluarga Oma Flora telah mengajak setiap pribadi bahwa hidup adalah suatu perjuangan yang tak pernah usai ditelan waktu. “Inilah hidup yang perlu kita syukuri bahwa Ghenggona (Tuhan) tak pernah meninggal-kan hambanya bila ketekunan kita dalam kerja dan doa selalu ada di setiap detik waktu dan detak jantung,” ungkap Oma Flora lirih dalam aksen sastra bahasa Sangihe.(***) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin