HOME : FOOTBALL

Berita Kota Tomohon dan Sekitarnya

25 March 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Kabasaran, Tarian Budaya Idola Mancanegara 


KONON, Tarian khas Minahasa, Kawasaran (kabasaran), hanya bisa disaksikan sebelum para leluhur Tanah Toar Lumimuut pergi berperang melawan musuh. Namun sekarang, Tarian Perang yang menjadi salah satu aset budaya Minahasa ini, telah menjadi sajian menarik bagi warga Minahasa bahkan turis domestik dan mancanegara, untuk dinikmati sebagai penganan ringan dalam suatu hajatan formal maupun nonformal. 
Di Tomohon sendiri, ada satu kelompok Tari Kabasaran bentukan pemerhati budaya, Prof Dr JWP Mandagi, yang telah dikenal luas masyarakat Minahasa bahkan masyarakat Sulut pada umumnya, yakni Kelompok Tumou Tou Lestari. Resmi berdiri sejak 8 Februari 1985, kelompok Tarian Budaya Minahasa yang bermarkas di Kelurahan Paslaten I dan Paslatan II (Dulu Paslaten) ini, masih tetap eksis hingga sekarang, kendati banyak rintangan yang harus dilalui agar bisa bertahan.
Salah satu personelnya, Lodewiyk Wuisan (59), mau membagi cerita singkat tentang kelompok Tari Kabasaran yang dipimpinnya. Kepada wartawan harian ini, Lodewiyk sempat menuturkan beberapa kenangan manis saat membawakan Tarian Kabasaran, khususnya di era tahun 80-an. Betapa tidak, kelompok ini ternyata pernah menjamu tamu penting yang datang ke Sulut. Sebut saja Jenderal TNI Try Sutrisno, Megawati Soekarno Putri sebelum menjadi Presiden, Soesilo Soedarman, serta pejabat negara lainnya. 
Namun kenangan yang mungkin tak akan dilupakan Lodewiyk adalah ketika mereka menyambut tamu negara, Presiden Soeharto dan Presiden Philipina, Ferdinand Marcos. Demikian juga saat keluarga Kerajaan Belanda, Ratu Beatrix dan Pangeran Williams, berkunjung di salah satu resort terkemuka di Kota Tomohon, Lokon Resting Resort beberapa waktu lalu. Apalagi usai pementasan, para tamu ini terlihat gembira dan langsung melayangkan pujian terhadap Tari Kabasaran kelompok Tumou Tou Lestari. 
Karena kelompok Tarian Budaya ini mulai dikenal masyarakat luas, termasuk di negara luar, Lodewiyk kemudian diminta untuk melatih satu kelompok Tari Kabasaran dari Belanda, yang datang belajar di Sulut beberapa tahun silam. Tujuannya tidak lain, karena masyarakat Belanda ingin menyaksikan tarian ini dipentaskan di Tanah Belanda. “Yang datang belajar waktu itu memang orang Minahasa yang sudah lama tinggal di Belanda. Tapi mereka dilatih karena warga Belanda ingin menikmati Tarian Kabasaran ini,” kata suami tercinta Min Mantow yang pernah melatih kelompok serupa di Bekasi dan Jakarta.
Ketika tahun berganti, tak bisa dipungkiri usia para pemain kabasaran ini juga ikut bertambah tua. Kendati demikian, mereka masih tetap mendapat kepercayaan untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung ke daerah ini. Seiring perkembangan jaman, tentu para tamu-tamu ini bukan berasal lagi dari era tahun 80-an. Sebut saja Grup Band terkemuka di Indonesia, SLANK, serta penyanyi terkenal Iwan Falz dan Dedy Mizwar. Nah, ketika para artis ini menginjakkan kaki di Bumi Nyiur Melambai beberapa waktu lalu, Kelompok Tumou Tou lah yang menyambut mereka.
Bayaran mereka juga ternyata terbilang murah, dengan harga standar sehari pentas yakni sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. Tapi harga ini juga bisa bertambah ketika order melebihi satu hari ataupun jumlah personel ditambah. “Rata-rata empat pasang penari sekali main dibayar 500 ribu. Tapi kalau diminta banyak pemain, tentu harganya kita naikkan juga. Tapi yang pasti, kami bangga mendapat tawaran dan bisa tampil meski dengan bayaran yang pas-pasan,” ujar Penatua Kolom II Jemaat Maranatha Paslaten ini, sembari mengaku dirinya bahkan sebagian besar anggota kelompok, hanya berprofesi sebagai tibo dan pedagang pasar serta petani.
Namun dibalik kebanggaan seorang Lodewiyk, tersembunyi kegusaran dan rasa kuatir akan keberadaan Tari kebanggaan Tou Minahasa ini di kemudian hari. Sebab ditakutkan, tarian ini akan punah suatu waktu, seiring perkembangan jaman di era globalisasi sekarang. Makanya setiap kali mendapat order, kelompok ini selalu berusaha agar mereka bisa tampil, meskipun bayarannya tergolong kurang mencukupi kebutuhan kelompok. Dengan harapan, Tarian ini bisa terus dilihat dan dinikmati warga dan tidak akan punah. “Kalau kita tidak lagi tampil, bisa saja kedepan sudah tidak ada lagi penari kabasaran yang tampil di hadapan masyarakat. Jadi misi kami adalah terus tampil, untuk mempertahankan budaya ini agar tidak punah,” katanya.
Lodewiyk juga terus-menerus mengingatkan kepada anggota kelompoknya agar tetap melatih diri, bahkan melatih kelompok lain agar ada regenerasi terhadap Tari Kabasaran. Di samping itu, dia berharap agar pemerintah memberi perhatian terhadap Tarian Kabasaran dan aset budaya lainnya seperti Tarian Maengket, agar bisa dinikmati generasi yang akan datang. “Sebaiknya juga Tarian ini dilatih di sekolah-sekolah. Itu harapan kami,” kuncinya. Semoga…(dav) 


  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin