HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

27 March 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

KENANGAN BAGI PROF. DRS. WILLEM SENDUK 
TOKOH PENDIDIKAN, MASYARAKAT DAN GEREJA.

Oleh : Drs. Nico. H. J. Lumunon

 IKUTI BERITA LAIN

Suatu refleksi dari “The spiritual journey in the end of the twenties century generation in America”
Pengaruh Paradigma landscape Gereja Amerika terhadap Gereja Protestan Indonesia
Oleh : Pdt Danny Weku (bagian IiI/Habis)

 SURAT PEMBACA

Keberadaan TPA Sumompo Perlu Perhatian

 COMMENTAREN

Selamat Datang PNS Baru

 

Ia telah pergi menghadap sang Khalik pada 28 Februari 2006 dalam usia 84 tahun lebih. Umur panjang penuh ujian, pengapdian dan keteladanan. 
Anak desa kelahiran Tulap ini telah melalui didikan ayah bundanya, keluarga Senduk – Maengkom. Dari tekad pembinaan sang ayah, Supit Senduk, seorang guru keluaran sekolah guru kristen diKuranga Tomohon (Kweekschool) maka Wim, demikian ia biasa disapa dan mohon saya gunakan sapaan ini, mengikuti panggilan darah guru memasuki sekolah guru kristen Kuranga yang membentuknya menjadi guru sekolah sekaligus guru injil. Dalam situasi Perang Dunia II semangat Nipon mengalir padanya dalam pendidikan guru masa Jepang (Sihang gakoo). Dilanjutkan lagi kesekolah guru di Tondano dalam situasi semangat Indonesia yang ingin merdeka. Berlanjut pula pada sekolah guru tingkat atas di Tomohon .
Hubungan saya dengan almahum, seolah perasaan kakak beradik, lebih terpaut kerena ayah saya (DR. H.C Daniel Lumunon, almahum) yang menjadi pemimpin sekolah guru kristen Kuranga pada masa Wim bersekolah disana. Ibu saya menjadi Ibu asrama sekolah itu. Terlebih ayah Wim menjadi teman karib sesekolah ayah saya. Selanjutnya ayah saya menjadi Sehool opziener (Pengawas sekolah) yang turut membina Wim.
Sewaktu saya menjadi murid Louwerier school di Kaaten pada kelas V dan VI Meneer Senduk menjadi guru kelas saya. Ia selalu tempil rapih, sangat menguasai materi dan tegas disiplin. Ia mendidik dengan kebapakan yang berimbas kasih dan kemanusiaan yang tinggi, namun ia pun sewaktu-waktu dapat menegur keras. Pernah ada siswa yang terpergok menyontek, dengan tenang ia mendekat dan berbisik; “Hai anak muda, masukkan buku itu ke laci”. Pernah ada siswa yang bergaya mengandalkan fisik, sang guru berubah galak menggulung lengan baju “Mau coba-coba..? Ini anak Tondano !”
Pada tahun 1950/1951 sekolah menengah kristen (SMK) Tomohon dibawah Direktur Meneer E. A. Mangindaan (ayah mantan Gubernur Sulut) disatukan dengan Christelyke Midelbare Sehool (MS) Tomohon di bawah Meneer Pelenkahu. (Pengganti Meneer Van Der Post) Sehubung Meneer E. A. Mangindaan dan Meneer Pelenkahu diangkat menjadi Inspektur pendidikan di Makassar, SMP Kristen Tomohon di pimpin Direktrise Mevrouw Olwin I Rumokoy – Wowor ( Ibu dari dekan Fakultas Sastra UNSRAT, Dra Rilya Wahani. R)
Saya beruntung bertemu kembali dengan guru idola, yang Eks guru Mulo/MS, Meneer Senduk yang mengajar sejarah dunia, sejarah Indonesia dan Tata negara. Pada tahun 1953 ujian negera diperiksa di Makassar, namun nilai kami gemilang berkat binaan Meneer Senduk Cs. Pada tahun 1954 sewaktu Universitas Pinaesaan dibuka di Tondano, Wim masuk mahasiswa Fakultas Hukum di bawah Dekan Prof Mr. GMA Inkiriwang. 
Wim harus mengajar, tetapi setiap hari harus bersepeda dari Tomohon ke Tondano. Sangat aneh, lucu dan mengharukan saya melihat guru yang saya kagumi bersedia mengikuti perpeloncoan dengan kemeja terbalik, celana lusuh digulung berpapan nama “cecak kering”. Ternyata dari sekian mahasiswa yang sudah kawakan, Wim adalah yang pertama memperoleh capaian Propadeuse dan Candidat (C1). Pada tahun 1955 Prof Mr Ingkiriwang ditetapkan menjadi Dekan perguruan tinggi pendidikan guru (PTPG) Todano. Satu diantara tiga PTPG di Indonesia. Sewaktu saya menjadi mahasiswa di PTPG tahun 1956 Meneer Senduk menjadi Asisten Dosen dari Prof Inkiriwang dalam kuliah pengantar ilmu hukum. Dengan otak brilian Win menjadi buah sulung lahirnya sarjana muda pertama lulusan PTPG. Pada tahun 1962 ia menjadi buah sulung sarjana pendidikan IKIP Manado, Jurusan Hukum.
Saya mengikuti kuliah lanjutan karena terhambat pengolakan Permesta, nanti lulus sarjana muda pada tahun 1962 dan menjadi sarjana melalui FKPS (Fakultas Keguruan Pengetahuan Sosial) tahun 1965 dengan Meneer Senduk sebagai Dekan dan penguji.
Ternyata Drs Senduk harus membagi tugas kepercayaan dalam dunia politik sebagai Wakil Ketua selanjutnya Ketua DPR - GR kota Madya Manado. Lambang kota Manado sekarang adalah buah inspirasi masa kepemimpinannya.
Kedudukan tinggi tidak merubah kesederhanaannya walau ditopang gabungan pemilikan kebun cengkih dan kelapa warisan keluarga Senduk dan keluarga Rumambi (Marga sang Istri) selain penghasilan jabatan dan berbagai emolumen jabatan ia tampak sangat simpel, enggan pujian. kemeja Smar lengan panjang, pantalon dril agak luntur dan mengendur , naik kendaraan dinas tergolong tua. Ia mendiami rumah sekedarnya di jalan Stadion Klabat yang ternyata hanya pemberian Pemkot. Tetapi orang sangat menghormati dan menyeganinya. Ia dilantik Profesor di IKIP Manado sesudah Prop E. A. Worang yang sebagai Rektor. Ia dipercayakan Pembantu Rektor III dan I. itulah buah sulung gelar Profesor di IKIP Manado yang sekarang bernama UNIMA.
Sebagai ilmuan ia memberi diri pada beberapa Fakultas Swasta, sebagai Cendikiawan Kristen ia turut memelopori lahirnya perguruan tinggi Theologia (PTTH) di Tohomon sebagai cikal bakal Fakultas Theologia UKIT. Aktivitasnya dalam pengembangan pendidikan UKIT membawanya pada pelantikan sebagai Profesor oleh Rektor UKIT Prof DR. Med .S. J. Warouw mendahului pelantikan di IKIP Manado. Dalam masa pensiun PNS, beliau tidak menerima disapa pensiun guru/Dosen. Dalam transisi Rektorat, beliau diminta Badan Pekerja Sinode GMIM melalui yayasan perguruan tinggi untuk menjadi Wakil Rektor dan Rektor UKIT selama dua tahun.
Dalam pelayanan gereja ia aktif dalam organisasi pemuda geraja, guru yang juga guru injil selain guru agama disekolah. 
Pada sekitar kampus IKIP Manado ia menjadi penatua Kolom yang berkembangn menjadi Kanisah dari jemaat GMIM IMANUEL Bahu. Walau berbentuk dinding darurat/pitate, daerah pemukiman baru kleak berkembang cepat menjadi Jemaat berdir sendiri, Gereja MUSAFIR kleak dengan ketua jemaat Prof. W. Senduk. Pada sebidang tanah diatas bukit batu secara gotong royong jemaat membangun gereja bertingkat dua berupa Aula dibawah dan ruang ibadah diatas. Ia Bersemboyan, Jemaaat harus mempu mandiri, hindari meminta-minta bantuan dari luar Jemaat, apa lagi dola-dola orang dijalan. Berusaha keraslah dan topanglah senantiasa dalam doa.
Menjelang gedung gereja ditahbiskan, ada bagian yang sangat penting belum rampung antaranya mimbar sedangkan dana belum tersedia. Beliau mengarahkan Panitia dan Badan Pekerja menjawab dengan doa dan peribadatan. Maka mengalirlah berkat sumbangan Jemaat untuk podium, lampu-lampu, loud speake, pelengkapan kursi-kursi dan sebagainya, siap untuk acara pentahbisan. Puji Tuhan! 
Dalam kepemimpinan gereja, beliau telah menjadi Wakil Ketua Badan Pekerja Sinode GMIM selama tiga priode berturut-turut disamping jabatan kegerejaan lain. 
Beberapa perngalaman pribadi bersama beliau perlu saya catat. sewantu saya Sarjana Muda beliau berkata: “Nico, Kalau menurut saya Nico diperlukan bertugas penuh disini tetapi menurut Meneer Rul Kalempouw, Kepala perwakilan P dan K, dia sudah bicarakan dengan Oude heer (maksudnya Ayah saya), Nico mereka perlukan pergi dulu di Tomohon. Bersedia sementara ini sebagai asisten dosen luar biasa sambil kuliah Doktoral “ Ya Meneer” jawab saya dengan menyakini ini panggilan dan rencana Tuhan. 
Kami pernah bersama-sama menghadiri seminar di Denpasar Bali. Pada kesempatan lowong saya diajaknya ke objek-objek wisata, diperjalanan sekedar basa-basi saya membuka percakapan tentang materi seminar tadi. Ia bereaksi: “Nico, lupakan dulu seminar itu, kita nikmati sekarang keindahan alam ciptaan Tuhan”. 
Sebagai anggota jemaat Musafir saya adakalanya terlibat rapat digereja yang dipimpin beliau. Karena kesibukan Dinas saya terlambat masuk ruang rapat dan tidak sempat membawa Alkitab. Belaiu pun mengarahkan uraiannya bagimana kesediaan seseorang menjadi pelayan, untuk sepenuhnya memberi diri dan melengkapi diri. Oh, kita pe malo dang.!!
Ia pun pernah bilang, sekarang sedikit orang yang berani memberi nasehat karena sedikit orang yang masih dapat menjadi teladan.
Walau sakit beliau makin parah, ia berusaha mengenal pengunjungya dirumah sakit, ia menjabat tangan dan berseru: “Haleluyah, Puji Tuhan” 
Ia gudang pengetahunan, sampai dihari tua setiap kesempatan lowong ia manfaatkan untuk membaca, setiap bacaan apa saja yang dapat dijangkaunya membuat catatan pinggir atau lembar catatan. Penyesalan saya, saya tidak sempat mempertanyakan kumpulan karya tulisnya dan saya tidak sempat banyak bertanya pada manusia sumber ini, manusia langka. Ia telah pergi, kita kehilangannya tetapi banyak kenangan yang ditinggalkan untuk di teladani, antaranya kejujuran, kesedarhanaan, ketekunan, kepribadian, terutama keimanan pada Tuhan yang Maha Kuasa
Pada 2 Maret 2006 ia dilepas sebagai pahlawan yang telah menang. Tak cukup dengan kata, dicoba diusahakan wujud perbuatan; Upacara gerejani, upacara penghormatan PWRI karena beliau salah satu penasehat PWRI Sulut, penghormatan digedung gereja GMIM, di gedung DPRD Kota Madya Manado, di gedung UKIT di gedung UNIMA, Yang sangat mengharukan, masyarakat di rute yang dilalui hening sejenak terutama diseluruh di desa Tulap dari yang tua sampai anak-anak sekolah semua tingkatan membentuk barisan sepanjang pigiran jalan menyambut ngiang sirene Ambulans dengan penuh haru dan sedu dengan bendera merah putih setengah tiang, mulut membisu tetapi berkata dalam hati: “Selamat jalan ke rumah Bapa yang kekal, dikau pejuang sejati. Jasadmu kembali ke haribaan tanah leluhurmu.” 
(Selesai)

Penulis Mantan Ketua PWRI Sulut, Penasehat PWRI (Persatuan Wredatama Republik Indobesia) SULUT

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin