|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Diskenariokan ‘perangi’ OPM?
Radikal Filipina Bidik Basis di Papua
|
Kelompok radikal dari Filipina dan sejumlah tempat lainnya di-kabarkan sedang mendirikan basis di Papua. Mereka ditenga-rai atas restu sebuah institusi mi-liter, masuk agar bisa meme-rangi pendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM). Demi-kian diungkap Uskup Papua Nu-gini, Giles Cote seperti dilansir situs theaustralian.news.com.au, Senin (27/03).
“Informasi kami mengindi-kasikan militan jihad sudah ma-
suk ke Papua. Mereka berse-kongkol dengan pihak TNI dan Polri,” kata uskup Cote. Namun kabar tersebut dibantah Dino Kusnadi, juru bicara Kedubes Indonesia di Canberra, Aus-tralia. “Tidak benar ada kelom-pok militan agama tertentu yang didukung TNI di Papua,” kata Kusnadi.
Akhir-akhir ini hubungan Indonesia-Australia kembali memanas menyusul keputusan negeri kanguru tersebut, memberikan visa perlindungan sementara kepada 42 dari 43 warga Papua, yang mendarat dengan kapal kecil di Cape York Australia, Januari silam.
Kepada the Australian di Kiunga Papua Nugini, Uskup Cote yakin kelompok radikal dari Mindanao Filipina Selatan, Sulawesi, dan bagian utara Indonesia lainnya telah masuk di Papua. Ia juga ragu dengan pernyataan pemerintah Indo-nesia kepada Australia bahwa para pencari suaka asal Papua tak akan mendapat pengania-yaan, seandainya mereka di-paksa kembali ke Indonesia. Saat ini Gereja Katolik di sana membantu sekitar 6000 warga Papua yang tinggal di 17 pe-nampungan pengungsi di Pa-pua Nugini,.
“Mereka takut pulang karena khawatir akan dipenjara atau akan mendapat perlakuan yang lebih buruk. Kami mendapat informasi bahwa mereka takkan selamat jika kembali ke Papua,” tambah Cote. Uskup Cote percaya ribuan anggota TNI telah dipindahkan dari Aceh ke Papua. “Saya khawatir tak lama lagi akan ada gelom-bang pengungsi yang melintas perbatasan untuk meminta perlindungan,” ujarnya.
Sedangkan Nick Chesterfield, organiser OPM di Australia, mengatakan pernyataan uskup Cote itu mendukung klaim OPM bahwa milisi-milisi kelompok jihad dipersenjatai TNI untuk menghancurkan gerakan pro-kemerdekaan. Ia menjelaskan pihak separatis yakin milisi-milisi itulah yang bertanggung jawab atas sejumlah pembunu-han dalam minggu-minggu terakhir di sekitar kota Timika, lokasi perusahaan tambang emas Freeport asal AS.
Chesterfield mengungkapkan komentar Cote senada dengan komentar OPM. Kelompok se-paratis ini yakin tentara Indo-nesia sudah diterbangkan dari Lhokseumawe di Aceh, menuju kota Enarotoli, Nabire dan Manokwari di Papua.
Namun Kusnadi membantah ada relokasi pasukan TNI, dan kelompok jihad tidak didorong untuk beraksi di Papua.
“Saya tidak mempertanyakan kredibilitas uskup, melainkan sumber informasinya. Tak ada penambahan pasukan di Papua,” tegas Kusnadi.
Sementara itu Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia menolak mengo-mentari klaim uskup Cote ter-sebut.(aus/win)
|
|