|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
KENANGAN BAGI PROF. DRS. WILLEM SENDUK
TOKOH PENDIDIKAN, MASYARAKAT DAN GEREJA. (2)
Oleh : Drs. Nico. H. J. Lumunon
|
Ia dilantik Profesor di IKIP Manado sesudah Prop E. A. Worang yang sebagai Rektor. Ia dipercayakan Pembantu Rektor III dan I. itulah buah sulung gelar Profesor di IKIP Manado yang sekarang bernama UNIMA.
Sebagai ilmuan ia memberi diri pada beberapa Fakultas Swasta, sebagai Cendikiawan Kristen ia turut memelopori lahirnya perguruan tinggi Theologia (PTTH) di Tohomon sebagai cikal bakal Fakultas Theologia UKIT. Aktivitasnya dalam pengembangan pendidikan UKIT membawanya pada pelantikan sebagai Profesor oleh Rektor UKIT Prof DR. Med .S. J. Warouw mendahului pelantikan di IKIP Manado. Dalam masa pensiun PNS, beliau tidak menerima disapa pensiun guru/Dosen. Dalam transisi Rektorat, beliau diminta Badan Pekerja Sinode GMIM melalui yayasan perguruan tinggi untuk menjadi Wakil Rektor dan Rektor UKIT selama dua tahun.
Dalam pelayanan gereja ia aktif dalam organisasi pemuda geraja, guru yang juga guru injil selain guru agama disekolah.
Pada sekitar kampus IKIP Manado ia menjadi penatua Kolom yang berkembangn menjadi Kanisah dari jemaat GMIM IMANUEL Bahu. Walau berbentuk dinding darurat/pitate, daerah pemukiman baru kleak berkembang cepat menjadi Jemaat berdir sendiri, Gereja MUSAFIR kleak dengan ketua jemaat Prof. W. Senduk. Pada sebidang tanah diatas bukit batu secara gotong royong jemaat membangun gereja bertingkat dua berupa Aula dibawah dan ruang ibadah diatas. Ia Bersemboyan, Jemaaat harus mempu mandiri, hindari meminta-minta bantuan dari luar Jemaat, apa lagi dola-dola orang dijalan. Berusaha keraslah dan topanglah senantiasa dalam doa.
Menjelang gedung gereja ditahbiskan, ada bagian yang sangat penting belum rampung antaranya mimbar sedangkan dana belum tersedia. Beliau mengarahkan Panitia dan Badan Pekerja menjawab dengan doa dan peribadatan. Maka mengalirlah berkat sumbangan Jemaat untuk podium, lampu-lampu, loud speake, pelengkapan kursi-kursi dan sebagainya, siap untuk acara pentahbisan. Puji Tuhan!
Dalam kepemimpinan gereja, beliau telah menjadi Wakil Ketua Badan Pekerja Sinode GMIM selama tiga priode berturut-turut disamping jabatan kegerejaan lain.
Beberapa perngalaman pribadi bersama beliau perlu saya catat. sewantu saya Sarjana Muda beliau berkata: “Nico, Kalau menurut saya Nico diperlukan bertugas penuh disini tetapi menurut Meneer Rul Kalempouw, Kepala perwakilan P dan K, dia sudah bicarakan dengan Oude heer (maksudnya Ayah saya), Nico mereka perlukan pergi dulu di Tomohon. Bersedia sementara ini sebagai asisten dosen luar biasa sambil kuliah Doktoral “ Ya Meneer” jawab saya dengan menyakini ini panggilan dan rencana Tuhan.
Kami pernah bersama-sama menghadiri seminar di Denpasar Bali. Pada kesempatan lowong saya diajaknya ke objek-objek wisata, diperjalanan sekedar basa-basi saya membuka percakapan tentang materi seminar tadi. Ia bereaksi: “Nico, lupakan dulu seminar itu, kita nikmati sekarang keindahan alam ciptaan Tuhan”.
Sebagai anggota jemaat Musafir saya adakalanya terlibat rapat digereja yang dipimpin beliau. Karena kesibukan Dinas saya terlambat masuk ruang rapat dan tidak sempat membawa Alkitab. Belaiu pun mengarahkan uraiannya bagimana kesediaan seseorang menjadi pelayan, untuk sepenuhnya memberi diri dan melengkapi diri. Oh, kita pe malo dang.!!
Ia pun pernah bilang, sekarang sedikit orang yang berani memberi nasehat karena sedikit orang yang masih dapat menjadi teladan.
Walau sakit beliau makin parah, ia berusaha mengenal pengunjungya dirumah sakit, ia menjabat tangan dan berseru: “Haleluyah, Puji Tuhan”
Ia gudang pengetahunan, sampai dihari tua setiap kesempatan lowong ia manfaatkan untuk membaca, setiap bacaan apa saja yang dapat dijangkaunya membuat catatan pinggir atau lembar catatan. Penyesalan saya, saya tidak sempat mempertanyakan kumpulan karya tulisnya dan saya tidak sempat banyak bertanya pada manusia sumber ini, manusia langka. Ia telah pergi, kita kehilangannya tetapi banyak kenangan yang ditinggalkan untuk di teladani, antaranya kejujuran, kesedarhanaan, ketekunan, kepribadian, terutama keimanan pada Tuhan yang Maha Kuasa
Pada 2 Maret 2006 ia dilepas sebagai pahlawan yang telah menang. Tak cukup dengan kata, dicoba diusahakan wujud perbuatan; Upacara gerejani, upacara penghormatan PWRI karena beliau salah satu penasehat PWRI Sulut, penghormatan digedung gereja GMIM, di gedung DPRD Kota Madya Manado, di gedung UKIT di gedung UNIMA, Yang sangat mengharukan, masyarakat di rute yang dilalui hening sejenak terutama diseluruh di desa Tulap dari yang tua sampai anak-anak sekolah semua tingkatan membentuk barisan sepanjang pigiran jalan menyambut ngiang sirene Ambulans dengan penuh haru dan sedu dengan bendera merah putih setengah tiang, mulut membisu tetapi berkata dalam hati: “Selamat jalan ke rumah Bapa yang kekal, dikau pejuang sejati. Jasadmu kembali ke haribaan tanah leluhurmu.”
(Selesai)
Penulis Mantan Ketua PWRI Sulut, Penasehat PWRI (Persatuan Wredatama Republik Indobesia) SULUT
|
|