|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Pemanasan Global;
Menanti Bumi Tenggelam!
|
Paparan benua (continental), hanya mencakup 7-8 persen seluruh luas lautan dengan kemiringan landai sampai kedalaman 200 meter, kemudian menurun tajam hingga kedalaman 3-5 km (kedalaman rata-rata lautan 4 km). Dataran abisal ini seragam kedalamannya menutupi daerah dasar lautan yang rata dan sangat luas.
Jika diamati perbandingan ‘massa’ daratan dan lautan dengan mengandaikan seluruh daratan dunia diratakan maka yang tersisa hanyalah massa air dengan kedalaman lebih dari 3 km. Kebanyakan pegunungan tertinggi di bumi berkisar antara 5 sampai 8 km seperti pegu-nungan Himalaya dengan pun-cak elevasi tertinggi di gunung Everest (8.850 m). Sedangkan kedalaman palung-palung laut berkisar antara 7 sampai 11 km dengan palung terdalam Ma-riana di Pasifik 11.033 meter (panjang 1.554 mil, lebar 44 mil). Jika ditenggelamkan gunung Everest ke laut terdalam dunia ini masih tersisa massa air di-atasnya dengan kedalaman le-bih dari 2 km (2,183 m).
Bumi diciptakan Tuhan de-ngan sempurna. Berbagai pro-ses biologi, fisika, kimia di alam semesta ini berjalan dengan baik. Darat, laut dan berbagai flora/fauna yang mendiaminya dijadikan untuk mendukung kehidupan manusia. Tudung kutub utara dan kutub selatan yang diselimuti es menjaga kestabilan rotasi bumi dalam sistem tata surya. Demikian pula stratifikasi vertikal daratan, lautan dan atmosfer bumi meng-hasilkan kenyamanan hidup bagi yang tinggal di permu-kaannya. Energi yang didapat dari cahaya matahari sebagian dimanfaatkan bumi lewat tumbuh-tumbuhan dan ber-bagai organisme lainnya, menye-diakan sumber pangan bagi makhluk hidup di dalamnya.
Jika lebih banyak energi hilang di angkasa dibanding yang ditangkap dari matahari, planet ini akan dingin. Jika energi sedikit yang menghilang maka planet ini bergerak panas. Dewasa ini, ketika di pedesaan cuaca sejuk, maka akan terasa panas di perkotaan. Bangunan, jalan aspal dan trotoar di per-kotaan mengabsorbsi lebih ba-nyak cahaya matahari. Di pede-saan lebih sejuk karena adanya evaporasi (penguapan) air di danau/sungai dan dari tum-buhan di hutan-hutan. Hal ini terjadi tak lepas dari berlang-sungnya proses sistem alam yang merupakan suatu kesa-tuan besar ekosistem bumi.
Sebagian sinar matahari yang masuk dipantulkan ke angkasa dan diserap oleh gas-gas atmos-fer yang menyelimuti bumi. Sinar itu pun kemudian ter-perangkap di bumi dan situasi ini terjadi seperti dalam rumah kaca yaitu pada saat panas ma-suk terperangkap, menghangat-kan seisi rumah kaca tersebut. Fenomena ini dinamakan efek rumah kaca, sedangkan gas-gas penyerap sinar disebut gas rumah kaca. Apabila efek rumah kaca tidak terjadi, bumi akan menjadi tempat yang tidak nyaman untuk dihuni, karena akan bersuhu lebih dingin. Gas rumah kaca (seperti: CO2, CH4, N2O, HFCS, PFCS, dan SF6) di-hasilkan dari kegiatan antro-pogenik berupa penggunaan energi untuk berbagai keperluan seperti ‘pembakaran’ bahan bakar fosil, mulai dari memasak sampai pembangkit listrik. Karena kegiatan tersebut umumnya dilakukan manusia maka seiring dengan mening-katnya populasi (per 26/02/2006= 6.5 milyar orang) kon-sentarsi gas rumah kaca pun meningkat. Akibatnya, semakin banyak sinar-panas yang ter-perangkap di dalam bumi. Saat ini, iklim berubah perlahan tapi pasti, suhu bumi pun memanas dan inilah yang dinamakan sebagai pemanasan global (glo-bal warming). Umumnya masya-rakat telah mengetahui dan selalu mendengar mengenai isu pemanasan global. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perla-kuan manusia terhadap ling-kungan, perilaku terhadap bumi yang didiaminya. Banyak yang kurang menyadari berbagai sumber-sebab-akibat dari pe-manasan global terhadap peng-huni bumi ini. Padahal telah ba-nyak bukti dan fakta ilmiah ber-bicara mengenai dampak pema-nasan global yang menyebabkan perubahan ekologis bumi; ter-ancamnya kesehatan manusia seiring dengan berubahnya iklim, meningkatnya suhu di-sertai naiknya air laut. Perlahan-lahan daratan bumi terutama wilayah dataran rendah yang didiami berkurang; efeknya dapat menghilangkan pulau-pulau dari peta dunia termasuk Indonesia.
Tidak mengada-ada pema-nasan global saat ini bukan hanya merupakan isu semata namun merupakan fakta di-mana manusia sedang meng-hadapinya, sedang menanti kapan bumi tenggelam.
Perubahan Iklim. Musim panas semakin panas dan musim dingin semakin dingin. Di saat kemarau terjadi keke-ringan sedangkan di saat hujan terjadi kebanjiran. Kondisi iklim tidak lagi pasti, tidak stabil karena perubahan curah hujan dan suhu. Kenyataan ini mem-berikan gambaran bahwa iklim bumi memang sedang berubah tak terduga. Kondisi perubahan ini dapat dirasakan oleh masya-rakat dengan adanya banjir karena curah hujan yang ber-lebihan, bahkan belakangan ini hujan batu es mulai terjadi di beberapa kota di Indonesia. Awal tahun ini dan pada beberapa tahun sebelumnya hampir selu-ruh wilayah mengalami keban-jiran termasuk Sulawesi Utara. Bukan merupakan siklus, selain memang dampak langsung akibat kerusakan lingkungan, berkurangnya hutan dan daerah resapan air, justru yang kurang disadari sebenarnya berhubu-ngan erat dengan pemanasan global.
Di belahan dunia bagian utara, musim dingin saat ini turut merenggut korban jiwa seperti di Jepang dan Rusia. Untuk me-nyisihkan salju yang luar biasa tebal, Jepang mengoperasikan mesin keruk spesial. Di India ratusan orang meninggal akibat kedinginan. Sementara di Australia mencatat tahun 2005 sebagai tahun yang paling panas. Kepanikan juga melanda warga Rusia gara-gara salju turun tapi bukan salju putih seperti biasa, melainkan salju merah. Badai pasir yang terang-kut dari Mongolia menimbulkan fenomena ini (Ananova,14/3/2006). Selain turut memperluas gurun di dunia, salju merah yang mengguyur Rusia hanya beberapa pekan setelah salju kuning menyelimuti wilayah Pulau Sakhalin di Rusia timur jauh akibat oleh polusi dari pabrik minyak dan gas.
Peningkatan Suhu. Badan dunia PBB lewat Intergovern-mental Panel on Climate Change (IPCC, 1990) menyimpulkan bahwa sejak akhir 1980-an pemanasan global terlihat nyata dan meningkat tajam 0.3 - 0.6 derajat Celcius. Tahun 1987 dan 1988 tercatat sebagai dimu-lainya suhu global rata-rata tertinggi, pemecah rekor di Si-beria, Eropa Timur dan Amerika Utara. Pada tahun yang sama juga diikuti terjadinya banjir besar di Korea dan Bangladesh. Bangladesh, di awal 1991 me-ngalami banjir lagi disertai angin puyuh yang menimbulkan ba-nyak korban jiwa. Survey WWF (2006) melaporkan bahwa la-pisan es di pegunungan tertinggi dunia, Himalaya, telah mencair dengan cepat dan berpotensi menimbulkan kesulitan paso-kan air bagi ratusan juta orang di wilayah ini. Himalaya memiliki cadangan air (beku) terbesar di dunia setelah wilayah kutub. Lelehan es-nya mengaliri su-ngai-sungai besar Asia (Gangga, Indus, Brahmaputra, Mekong, Thanlwin, Yangtze, dan Sungai Kuning). Namun peningkatan suhu menjadikan lapisan es menurun cepat dengan laju 10-15 m/tahun, sehingga berpo-tensi menimbulkan banjir. Se-telah cadangan es habis, keke-ringan pasti melanda (Live Science.com). Ratusan juta orang di China, India, dan Nepal bahkan yang tinggal jauh dari Himalaya bergantung pada pasokan air dari pegunungan ini. Banyak di antara mereka hidup pada daerah rawan banjir yang sebagian besar lahan pertaniannya mengandalkan sungai-sungai tersebut. Bebe-rapa penelitian mengindi-kasikan temperatur bumi bisa meningkat lagi 2 derajat Celcius di atas masa sebelum industri, dalam waktu kurang dari 20 tahun saja. Tanda-tanda kenai-kannya sudah terlihat dimana-mana. Kini rata-rata suhu tahu-nan di Nepal telah meningkat 0.06 Celcius, dan tiga sungai yang bersumber dari salju telah berkurang alirannya. Sedang-kan gletser Gangotri di India telah turun 23 m/tahun (bbc.co.uk, 2006). Bukti lain ju-ga terlihat bukan hanya di Hima-laya, Kilimanjaro (5.895 m) gu-nung tertinggi kebanggan Afrika yang oleh suku-suku setempat disebut gunung putih/berca-haya (Kilima Dscharo/Njaro) puncaknya yang diselimuti salju kini mulai hilang. Foto udara yang diambil tahun 1993 dan 2000 menunjukkan perbedaan mencolok pada bagian atas gunung yang menjulang di Tanzania itu, lapisan saljunya tampak semakin sedikit diban-ding foto awal (theclimategroup. org). Sesungguhnya hal ini hanya bukti lain dari efek kenaikan suhu bumi, banyak contoh yang kita rasakan sendiri seperti makin menipisnya salju di Puncak Jaya-Papua atau makin panasnya kota-kota di Indo-nesia.
Pertengahan tahun lalu, seorang penjelajah kutub dari Inggris mengatakan bahwa suhu udara musim panas di Kutub Utara meningkat dengan laju yang sangat cepat. Bagian-bagian yang seharusnya berupa es kini menjadi air. Ben Saun-ders, membatalkan rencananya untuk meluncur dengan ski dari Rusia melalui Kutub Utara ke Kanada karena terheran-heran pada banyaknya es yang me-leleh. Ini adalah kali ketiga ia berada di Kutub Utara selang tiga tahun terakhir (Reuters, 2005). Studi terbaru NOAA (National Oceanic & Atmospheric Administration) menunjukan bahwa tahun 2005 memang merupakan tahun terpanas kedua (setelah 1998). Pening-katan temperatur global rata-rata tahun lalu sebesar 0.3 Celcius (0.54 Fahrenheit) sedikit lebih panas dibanding tahun 2002, 2003, 2004 (diurutkan berdasarkan tahun terpanas satu abad terakhir).
Pencitraan satelit NASA (National Aero-nautics and Space Adminis-tration) dengan sensor AMSR-E Jepang (Advanc-ed Microwave Scanning Ra-diometer-EOS) menunjukkan bahwa pemanasan yang paling signifikan terjadi di wilayah Artik-Kutub Utara, di mana tu-dung esnya telah menyusut dras-tis selang 1978-2003 (foto). (bersambung)
|
|