HOME : FOOTBALL

Berita Opini Pembaca dan Redaksi 

01 May 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Pendidikan, Kualitas atau Gengsi


BAGI bangsa Indonesia, tanggal 2 Mei merupakan hari yang penuh arti dan bersejarah. Tepat pada tanggal itulah bangsa ini merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tentu pada kesempatan ini kita tidak akan membahas lebih jauh soal hari bersejarah itu, tetapi lebih penting adalah bagaimana implementasi pendidikan itu sendiri bagi masyarakat.
Memang soal pendidikan ini sudah menjadi program prioritas, apalagi sejak merebaknya reformasi di negeri ini. Tak tanggung-tanggung hal ini langsung diimplementasikan dalam bentuk Undang-Undang, yang antara lain mengatur bahwa pada setiap pengalokasian anggaran APBN atapun APBD propinsi dan kabupaten-kota, minimal harus meberikan 20 persen anggarannya untuk sektor pendidikan.
Tetapi apa yang kemudian terjadi, implementasinya hanya sebatas Undang-Undang saja. Sebab kenyataannya tidak ada daerah yang menerapkan alokasi anggaran 20 persen untuk pendidikan, termasuk yang ada di Sulut. Tentunya ini merupakan pembangkangan terhadap Undang-Undang. 
Tetapi sayangnya, pembangkangan ini juga dilakukan oleh pemerintah pusat. Sebab dalam APBD tahun 2006 ini, dana pendidikan hanya dialokaskan sebesar Rp 36,7 triliun atau 9,6 persen dari total APBN. Tidak sampai setengah dari ketentuan yang diatur dalam konstitusi. 
Terlepas dari keseriusan pemerintah menjalankan kebijakan disektor pendidikan ini, yang sangat penting juga bahwa ternyata sebagian besar tujuan pendidikan itu sendiri telah melenceng dari yang sebenarnya. Bisa kita lihat di mana-mana, dengan gampangnya orang mengantongi satu gelar, jangankan S1, gelar S3 pun bisa diperoleh hanya dengan membayar sejumlah uang.
Begitu juga di mana-mana berdiri yayasan pendidikan yang tujuannya bukan lagi untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), tetapi lebih condong pada mencari keuntungan (bisnis).
Jelas hal-hal semacam ini melecehkan dunia pendidikan. Bahkan bisa membuat semangat generasi muda untuk memacu SDM, semakin pudar. Sebab yang terjadi saat ini, pendidikan sudah dinomorduakan, yang penting adalah gelarnya dulu. Dengan demikian, saat ini pendidikan bukan lagi ditujukan untuk peningkatan SDM, tetapi lebih pada gengsi-gengsian. Semoga ini bisa jadi perenungan kita menjelang Hardiknas 2 Mei.(**)

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin