|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
30 Agustus 2007
|
![]() |
Di bulan Agustus peringatan Kemerdekaan Indonesia, yang biasanya mulai digelorakan lagu-lagu yang membangkitkan semangat nasionalis dan patriotis, relatif sepi dan senyap.
Bahkan lebih diwarnai oleh berbagai gejolak kesibukan se-sama anak bangsa, bentrok ti-dak sepaham karena tidak lagi “Merdeka” akibat penjajahan yang terjadi karena keangku-han dan kerakusan sesama anak bangsa. Tarik ulur, beda pendapat karena berusaha/mengusahakan agar kita beda dengan mereka, torang badiri sandiri jo! Entah benar agar le-bih diefektifkan pelayanan atau cuma karena agar posisi ‘ku’ le-bih kuat kalau kita pisah de-ngan mereka.
Memperdaya kekuatan aturan yang dibuat untuk lebih efektif-nya pelayanan masyarakat (Otonomisasi). Kenyataan ini terlihat dari berbagai kegiatan yang ditujukan untuk meme-cahkan kesatuan dan persatu-an, hanya karena kerakusan kekuasaan dan merasa lebih be-sar/lebih berperan dan lebih pen-ting dari sesama anak bangsa se-hingga mau agar ditonjolkan.
Tanpa disadari praktik-prak-tik seperti ini lebih menguatkan proses gombalisasi (Negara-ne-gara maju menggombali negara-negara berkembang) dan mele-mahkan semangat juang anak-anak bangsa, sehingga tidak mampu memainkan peran da-lam era globalisasi. Seharusnya gelora globalisasi harus dimain-kan oleh generasi kini turunan Sam Ratulangi, karena jauh se-belum bola globalisasi bergulir sinyal Bapak Sam Ratulangi te-lah menangkapnya dan menge-lorakannya.
Sekilas Pengalaman Masa Lalu
Di zaman para pendiri bangsa ini, mereka bersatu untuk ber-juang menegakkan kedaulatan bangsa, demi kesatuan dan per-satuan Indonesia dan tegaknya kedaulatan bangsa dan negara Pancasila dan UUD 1945. Per-juangan tidak hanya dilakukan dalam negeri, tapi juga di luar negeri, mereka berjuang untuk kemerdekaan sebuah negara Pan-casila, agar mendapat penga-kuan dari masyarakat dunia.
Hal ini juga banyak melibat-kan tokoh-tokoh dari Sulawesi Utara; seperti perjuangan ba-pak Babe Palar, beberapa kali melakukan negosiasi dan ber-hasil menggerek Sang Merah Putih di gedung PBB di New York, yang mungkin perjua-ngannya masih kurang dikenal oleh generasi kini karena ku-rang diperkenalkan.
Negosiasi-negosiasi yang di-lakukan oleh tokoh Sam Ratu-langi, yang rela mengorbankan kepentingan pribadinya dan ke-luarga, demi kemerdekaan nega-ra Pancasila, yang mendapat pe-ngakuan dunia, sehingga dia dapat mengambil peran sebagai pemimpin mahasiswa Asia, saat menuntut ilmu di luar negeri.
Perjuangan tokoh Arnold Mo-nonutu di luar negeri dengan Perhimpunan Indonesia, per-juangan Mr Maramis dan banyak lagi tokoh-tokoh Su-lawesi Utara.(bersambung)
|
|