|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
31 Agustus 2007
|
|
Inu ‘Bernyanyi’ Soal Borok
IPDN di Sidang Cliff Muntu
|
Bukan Inu Kencana kalau tidak ‘bernyanyi’ soal kebo-brokan di Kampus IPDN. Hal itu juga yang dilakukannya ketika menjadi saksi dalam kasus tewasnya praja IPDN asal Sulut, (Alm) Cliff Muntu di PN Jakarta Pusat, Kamis (30/08) kemarin.
Tanpa tedeng aling-aling, Inu menyebutkan, ada maha-siswa IPDN yang jelas-jelas sudah terganggu kejiwaan-nya, masih saja tetap diako-modir dalam perkuliahan di IPDN. “Ada yang gila, sebab ada yang menggonggong di kelas. Dia malah bilang ke sa-ya, Bapak harimau, di mana ekor Bapak?” kata Inu mence-ritakan si praja tersebut.
Belum cukup itu, Inu meng-ungkapkan kebobrokan IPDN lainnya. Inu pernah menemu-kan seorang praja putri mela-hirkan, padahal belum lama sampai setahun duduk di tingkat I. “Itu artinya, pada saat masuk ada yang hamil. Mengapa bisa lolos dari tes kesehatan? Memangnya ini sekolah bersalin,” kata Inu di hadapan majelis hakim yang diketuai Agung Raharjo.
Inu juga mengobral soal tes narkoba di IPDN. Katanya, ada trik praja IPDN untuk lolos dari tes narkoba. Tes urine dilewati dengan cara membeli sekan-tong air seni bebas narkoba. Harganya cuma Rp 50 ribu.
“Pada saat pemeriksaan air kencing itu, ada air kencing (bebas narkoba) yang dijual. Harganya Rp 50.000. Nah air kencing itu yang dites,” ung-kap Inu. Sehingga, kata Inu, hampir dipastikan semua pra-ja yang terindikasi mengguna-kan narkoba lulus tes. Tokh, air seni yang dipakai untuk tes bisa diganti dengan air se-ni bebas narkoba yang har-ganya cuma Rp 50 ribu.
Sedangkan peristiwa peng-aniayaan terhadap Cliff yang berujung pada kematian, me-nurut Inu, bukan satu-satu-nya. Hasil otopsi menyebut-kan testis Cliff pecah. Nah, menurut Inu, Cliff bukan pra-ja pertama yang mengalami peristiwa yang bisa mengan-cam kesuburan laki-laki itu. “Ini bukan kasus pertama. Se-belumnya ada seorang praja bernama Richard yang datang kepada saya dan berkata ‘Ba-pak, telur saya pecah’. Praja itu tampak kesakitan karena telah dipukul dengan meng-gunakan lutut di selangka-ngannya,” kata Inu yang di-lansir detik.com.
Menurut Inu, pemukulan praja oleh praja lainnya, ter-utama oleh senior terhadap yunior, sudah terjadi sejak angkatan pertama tahun 1990. Pihak berwenang IPDN pun seringkali menutup-nu-tupi dan bertindak lunak atas pelaku kekerasan itu. “Bebe-rapa orang yang terlibat da-lam tewasnya praja Wahyu Hidayat justru dinyatakan lulus. Lalu saya tanyakan ke senat, di buku laporan pendi-dikan ditambahkan halaman bahwa 9 orang itu dinyatakan tidak lulus. Tapi nyatanya, waktu ada kasus Cliff, mereka malah sudah jadi ajudan. Berarti (ketidaklulusan) itu bohong-bohongan,” tandas Inu.(dtc/*)
|
|