|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
31 Agustus 2007
|
|
Sebuah omiyage dari negeri matahari terbit
“Pendidikan yang Berlandaskan Nilai-nilai Lama”(1)
Oleh:Dr Apner RM Matoneng MHum
|
Modernisasi pendidikan tidak harus meninggalkan yang lama dan mendatangkan yang baru. Akan tetapi di tengah-tengah arus modernisasi itu, justru yang lama harus tetap dipertahankan dan diperkaya dengan memasukkan unsur-unsur baru di dalamnya.
Mempertahankan yang lama sebagai sebuah identitas/karak-ter bangsa sangatlah penting di tengah-tengah derasnya arus glo-balisasi, demikianlah yang diper-juangkan oleh pemerintah Je-pang melalui Ministry of Educa-tion, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT).
Berawal dari sebuah reformasi pendidikan pertama di tahun 1871. Sejarah membuktikan bahwa semenjak reformasi pen-didikan pertama itu, sebutan mo-dernisasi pendidikan menjadi po-puler seiring dengan bergulirnya Restorasi Meiji. Komitmen Meiji terhadap peningkatan mutu pen-didikan, ditandai dengan lahirnya sebuah lembaga Kementerian Pendidikan Jepang, disusul de-ngan pendirian sekolah berdasar-kan prinsip-prinsip meritokrasi dan modernitas.
Reformasi ini telah mengubah bentuk kehidupan sosial dan po-la pikir orang Jepang dari tradi-sional menjadi modern dan ra-sional.
Waktu terus bergulir dan oleh tuntutan kemajuan zaman, ma-ka langkah yang ditempuh ada-lah reformasi pendidikan kedua tahun 1947. Reformasi pendidi-kan yang kedua ini melahirkan Undang-undang Pendidikan dan Undang-undang Sekolah yang meletakkan fondasi ideologi seko-lah yang egalitarian dan demo-kratis. Sistem sekolah berjalur tunggal SD-SMP-SMA-Universi-tas dengan waktu belajar 6-3-3-4 tahun.
Sembilan tahun pertama bersi-fat wajib belajar. Sistem berjalur tunggal ini bertahan hingga se-karang dan berhasil mewujud-kan impian bangsa Jepang men-jadi yang terbaik (the best) di Asia, dari segi penguasaan ilmu penge-tahuan dan teknologi. Bahkan keberhasilan Jepang menjadi “top five” dalam tes kompetensi siswa bersama Korea, Taiwan, Si-ngapura, dan Hong-kong, karena SDM dan pendidikannya unggul!
Sukses pendidikan Jepang dapat dibuk-tikan dengan ukuran-ukuran keberhasilan sebagai berikut: (1) High enrollment ra-tions at postcompulsory educati-on, (2) High retention/graduation rates at all education levels, (3) High daily attendance rates at elementary and secondary scho-ols, (4) high academic performan-ce, and (5) Relatively lower levels of school disorder problems and juvenile delinguencies/climes.
Dan suatu kenyataan, negara-negara berkembang antara lain Indonesia bahkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, pun akhirnya meniru keber-hasilan pengelolaan pendidikan Jepang.
Tetapi sebaliknya, Jepang sendiri malah mulai mencari pola pengelolaan pendidikan yang baru, untuk menjawab setiap perubahan dan tantangan glo-balisasi yang sedang melanda negeri ma-tahari terbit itu de-wasa ini.
Sebagaimana menurut Prof Hide-nori Fujita PhD, da-lam ceramahnya ten-tang “Japanese Education at Cross roads” (Tokyo, Juli 2007), bahwa reformasi pendidikan yang terjadi sekarang adalah untuk mengantisipasi lajunya “innovation of ICT, rise of know-ledgedriven economy, economic globalization, and multicultural society”.
Antisipasi global yang dimak-sudkan oleh Prof Hidenori Fu-jita PhD tersebut, menjadi tanggung jawab Lembaga Kementerian Pendidikan, Sains, Olahraga dan Kebu-dayaan, yang sejak tahun 2001 bergabung dengan biro IPTEK dan membentuk MEXT (Minis-try of Education, Culture, Sport, Science and Techno-logy).(bersambung)
Di bawah lembaga kemen-terian terpadu tersebut, refor-masi pendidikan ketiga yang dilaksanakan sejak Januari 2006 berhasil merevisi UU Pen-didikan dan formulasi Rencana Pendidikan.
Reformasi terbaru ini di-arahkan pada sebuah dunia pendidikan yang memiliki kepekaan terhadap perubahan yang sedang terjadi.(bersambung)
|
|