|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Panggung Politik |
03 April 2007
|
|
Menelusuri ‘benang merah’ bencana alam Minut (1)
|
Menghadang Petaka dari Lereng Klabat
KABAR duka kembali memicu isak tangis rakyat Negeri Nyiur Melambai. Bencana tanah longsor menerpa kawasan Desa Tanah Putih, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Minggu 25 Maret 2005. Petaka itu terjadi hanya dua pekan setelah musibah serupa menerjang sejumlah wilayah, juga di Likupang. Nyawa manusia jadi korban. Sejumlah kawasan tergenang, jembatan putus dan gelombang pengungsian jadi imbas tak terelakkan. Gubernur Drs SH Sarundajang sendiri sudah menginstruksikan agar penyebab bencana ditelusuri sampai tuntas. Genderang perang terhadap perusakan lingkungan, saatnya ditabuh lebih keras. Menunda berarti menyiapkan ‘bom waktu’ bencana yang lebih dahsyat.
Secara tersirat, bencana di Mi-nut sudah ‘terdeteksi’ sejak be-berapa bulan terakhir. Penelu-suran dan laporan yang diper-oleh Komentar sejauh ini, ‘sinyal’ itu sudah ‘terbaca’ sejak awal ta-hun 2007. Pekan pertama Ja-nuari 2007, saat musim hujan mulai mengguyur daerah ini, sejumlah warga Desa Laikit dan Matungkas, Kecamatan Dimem-be sudah ‘menjerit’ meminta per-hatian pihak berkompeten ka-rena wilayahnya mulai ‘rajin di-datangi banjir kiriman’.
“Torang kasiang kalu hujan keras di malam hari, kurang tako-tako mo tidor. Karena kalau dulu yang datang dari gunung cuma air, sekarang so ada batang-batang pohon dan lumpur dalam jumlah besar yang cukup besar,” ujar Adri, warga Desa Laikit, se-perti dilaporkan Komentar, edisi 4 Januari 2007.
Pihak Pemkab Minut sendiri, ketika dimintai responsnya, menyatakan, sudah menerjun-kan sejumlah polisi kehutanan untuk memantau dan menga-wasi kawasan hutan Gunung Klabat. “Kami harapkan kepada masyarakat untuk tidak khawatir dan merasa cemas, sebab Pem-kab Minut proaktif dan akan te-rus melakukan pemantauan di kawasan Gunung Klabat,” kata Kabag Humas dan Protokoler, Ir Ronny Siwi, ketika itu
Hanya sehari kemudian, Ketua DPRD Minut, Sus Sualang Pa-ngemanan SPd, juga sudah me-ngeluarkan pernyataan bernada prihatin sekaligus himbauan agar masyarakat lebih waspada. “Berkaca dari sejumlah kasus yang terjadi di luar daerah, penyebab banjir yang menelan banyak korban bukan lagi air yang meluap dari sungai, me-lainkan debet air dalam jumlah besar yang tidak mampu lagi di-serap kawasan pegunungan karena maraknya illegal logging,” ujarnya seperti dikabarkan Ko-mentar edisi 5 Januari 2007.
Istri tercinta Wagub Sulut ini menambahkan, jika melihat tan-da-tanda yang mencurigakan se-perti adanya air beserta lumpur dalam jumlah yang banyak me-ngalir dari atas gunung me-masuki pemukiman warga, se-baiknya masyarakat yang berada di kaki Gunung Klabat berjaga-jaga. “Himbauan ini kami sam-paikan, bukannya untuk me-nakut-nakuti masyarakat, me-lainkan sekedar mengingatkan agar masyarakat terus mening-katkan kewaspadaan, apalagi hu-jan deras diperkirakan akan te-rus mengguyur Minut hingga per-tengahan bulan depan,” pung-kasnya waktu itu.
Nyatanya memang, musim penghujan belum berujung. Im-basnya, pekan terakhir Januari 2007, aliran air yang meng-genangi wilayah pemukiman su-dah mulai merepotkan warga be-berapa wilayah di Minut. Rabu, 24 Januari 2007, warga Airmadidi melaporkan, jalan di sepanjang Airmadidi ke Sawangan nyaris putus. Karena itu perlu ada upaya serius untuk menganti-sipasi segala kemungkinan (Komentar, edisi 25 Januari 2007).
Pemkab Minut di bawah pim-pinan Bupati Vonnie Anneke Pa-nambunan tentu bukannya tak melakukan apa-apa. Peringatan akan bahaya bencana sudah ber-ulang kali disampaikan. Pada penghujung Januari 2007, Pa-nambunan sendiri sudah mem-beri arahan jelas. Kala musim penghujan terus mengguyur, dia mengingatkan, “Bagi masyarakat yang bermukim di lereng gunung atau perbukitan serta bantaran sungai, dan lokasi yang rawan bencana, untuk tetap berhati-hati terhadap bencana longsor dan banjir. Jika sewaktu-waktu terjadi bencana, warga jangan segan-segan untuk membunyi-kan tatengkoren, membunyikan lonceng di gereja, serta bedug di mesjid, sebagai tanda peri-ngatan. Dan warga dapat sece-patnya mencari tempat-tempat yang aman,” katanya seperti diberitakan Komentar edisi 25 Januari 2007.
Pekan sebelumnya, Wakil Bu-pati Drs Sompie Singal, juga sudah menginstruksikan per-siapan serius seluruh jajaran terhadap kemungkinan ben-cana.
“Untuk menjaga dari hal-hal yang tidak kita inginkan terutama yang berkaitan dengan bencana alam, semua instansi yang ter-kait telah kita siagakan. Mulai dari aparat kepolisian, dalam hal ini Polhutbun dan BPLH (Badan Pengendalian Lingkungan Hi-dup,” ujarnya waktu itu (Komentar, 15 Januari 2007).
Dikatakan Singal, ben-tuk perha-tian terhadap antisipasi ben-cana alam, di-realisasikan dengan melakukan koordinasi. Bahkan persiapan-persiapan seperti pertemuan atau rapat dengan semua pihak dilakukan sesering mungkin. “Koordinasi ini kita lakukan intensif. Dengan pertimbangan jika sewaktu-waktu ada bencana, semua telah siap,” katanya kembali seraya menambahkan bahwa dalam hal ini pemkab juga telah menyediakan dana.
Senada dengan itu, Asisten II Pemkab Minut Welly Kumen-tas juga mengatakan bahwa penanggula-ngan bencana alam merupakan prioritas dari Pemkab Minut, sehingga keberadaan-nya terus diantisi-pasi.(landywowor/bersambung)
|
|