HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

04 April 2007

Keluarganya bantah korban mengidap penyakit liver
Tewasnya Cliff di Kampus IPDN Berbau Misterius


Suasana duka yang menda-lam menyelimuti kediaman Keluarga Muntu-Rondonuwu di Perumahan Asgab Sapta-marga, Kombos, Kairagi (Ke-camatan Mapanget), kemarin (03/04). Meski begitu, sang kepala keluarga, Noldy Muntu dengan mata berkaca-kaca mencoba tegar, sedangkan sang istri Sherly Rondonuwu berkurung diri di kamar, me-ratapi kepergian putra ter-cinta mereka, Cliff Muntu. 
Cliff sendiri adalah praja yang sedang menimba ilmu di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), yang dilapor-kan meninggal mendadak di kampus yang terletak di Jati-nangor Sumedang, Jawa Ba-rat, Selasa (03/04) dini hari. Kepergian pelajar yang terke-nal cerdas dan memiliki segu-dang prestasi itu sungguh mengejutkan. 
Malah merebak kabar, me-ninggalnya pelajar asal Sulut itu berbau misterius. Pasal-nya, saat ditemukan terkulai pingsan (sebelum dilarikan ke rumah sakit), praja madya asal kontingen Sulut itu, se-dang berada di barak DKI se-usai latihan drumband. Lati-han drumband ini digelar pada pukul 22.00 WIB. Pada-hal, sudah ada peraturan bahwa semua praja harus su-dah kembali ke barak masing-masing pukul 22.00 WIB. Karena itu, latihan drumband malam menjelang dini hari itu melanggar peraturan. 
Tidak diketahui secara pasti juga, mengapa Cliff yang ber-asal dari Sulut mengikuti lati-han drumband untuk pekan olahraga Propinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Adakah kekerasan fisik yang dialami Cliff? Ada saksi melihat darah berceceran di bantal Cliff. Tapi hal ini dibantah pihak IPDN. 
“Kami sudah cek ke RS Is-lam Bandung (di mana Cliff di-bawa, red), dan katanya positif liver. Jadi ini bukan karena pemukulan,” ungkap Kepala Badan Diklat Dep-dagri, Diah Anggraini. Rektor IPDN, I Nyoman Sumaryadi ketika dikonfirmasi Komentar lewat telepon hanya me-ngatakan, bahwa Cliff me-ninggal kemungkinan akibat capek. 
“Mungkin yang bersang-kutan kelelahan,” tambah-nya seraya enggan berspe-kulasi adanya kekerasan fisik. ‘’Kita tunggu hasil visum dulu. Jika ditemukan ada bekas penganiayaan, maka saya minta kepolisian mela-kukan pengusutan,” kata Nyoman yang mengaku kehi-langan Cliff yang di matanya adalah mahasiswa berpres-tasi, bahkan ‘primadona’ kam-pus. 
“IPDN merasa kehilangan seorang mahasiswanya yang mempunyai prestasi yang mengembirakan,” pujinya. Dia kemudian menceritaan, Cliff ditemukan teman se-asramanya terkulai pingsan. Kemudian bersama staf, langsung dilarikan ke RS ter-dekat. 
“Setelah melihat yang ber-sangkutan tiba tiba pingsan, maka bersama staf dilarikan ke RS terdekat yaitu RS Islam. Tapi meninggalnya kita belum ketahui, apakah dalam as-rama atau di perjalanan,” ka-tanya. 
Sementara proses otopsi terhadap jenazah Cliff Muntu, telah selesai dilakukan. Namun dokter masih belum bisa memastikan sebab kema-tian Cliff. 
“Kita belum bisa menyim-pulkan sebab kematian kare-na pemeriksaan belum tun-tas,” kata ahli forensik RS Hasan Sadikin, Nurman He-riadi.
Menurut Nurman, untuk mengetahui sebab kematian Cliff secara pasti perlu dila-kukan pemeriksaan labora-torium. Dan hasilnya paling cepat bisa diketahui satu minggu ke depan. 
“Dan kalau pun sudah ada hasilnya, hanya penyidik yang boleh tahu. Jadi saya tidak bisa memberikan ketera-ngan,” kata ujar Nurman.
Hal yang sama juga dika-takan Kapolsek Jatinangor, AKP Bashori. Dia menutur-kan, pihaknya masih me-nunggu laporan tim forensik RSHS mengenai penyebab kematian Cliff. Ketika dibawa ke RS, sejumlah saksi me-ngaku melihat wajah Cliff terlihat berdarah. Tidak ha-nya itu, pada bantal yang digunakan untuk menopang kepala Cliff juga terdapat noda darah.
Ditanyai mengenai hal ini, Bashori mengatakan, lebam di bagian wajah jenazah Cliff bisa saja terjadi karena kematian Cliff yang sudah berlangsung sekian jam. “Kalau memang ada darah di bantal, ya akan kita selidiki. Kita juga sudah memeriksa beberapa orang praja yang membawa Cliff ke rumah sakit,” ujar Bashori. 
Sementara dari Manado, ayah Cliff, Noldy Muntu me-ngaku kaget mendapat berita soal kematian putra sulung-nya. Apalagi kasusnya masih mengandung tanda tanya besar. 
“Saya kaget saat ditelpon sa-lah satu dosen di IPDN. Me-mang menurut informasi itu, Cliff sakit parah (liver). Tapi saya masih ragu, karena saya tahu anak saya tak pernah mengalami sakit parah. Apa-lagi, waktu tes di Manado, pasti harus melewati tes kese-hatan. 
Memang Cliff pernah sakit. Itu sekitar dua minggu lalu usai mengikuti prajab. Cuma waktu itu, Cliff sakit panas biasa dan langsung sembuh,” ujar Noldy yang nampak tegar menerima kepergian putra kesayangannya yang me-rupakan lulusan terbaik Sulut dalam penerimaan IPDN ini.
Ditambahkannya, kasus kematian Cliff akan dise-rahkan kepada pihak ber-wajib untuk menyelidikinya. “Awalnya memang kami ke-beratan untuk diotopsi, na-mun karena mendapat pen-jelasan bahwa otopsi tidak memakan waktu lama dan demi kepentingan penyeli-dikan, kami setuju. Dan bila hasil otopsi memang ada in-dikasi kekerasan, kami harap pihak berwajib menyelidiki-nya,” tambah Noldy, sembari menuturkan bahwa sejak kecil Cliff ingin jadi polisi.(zal/mon)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin