HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

04 April 2007

Pelajar Cerdas itu Telah Berpulang, Gubernur Berduka


Mendengar kabar kematian Cliff Muntu, Gubernur Sulut Drs SH Sarundajang mewakili masyarakat dan Pemrop Su-lut menyatakan turut berbela-sungkawa sedalam-dalam-nya. ‘’Bagi orang tua yang di-tinggalkan kiranya mampu dan tabah dalam pergumulan ini, “ ujar Sarundajang yang me-ngaku prihatin dan sedih de-ngan kejadian ini.
Gubernur sendiri mengata-kan, telah menginstruksikan kepada perwakilan Pemda Sulut di Jakarta, untuk mem-persiapkan segala sesuatu terkait pemulangan jenazah Cliff Muntu. Namun begitu, hingga kemarin petang, Pem-prop Sulut belum mendapat informasi resmi dari pihak IPDN, terkait kasus tewasnya praja IPDN asal Sulut ter-sebut. 
“Kalau informasi resminya dari IPDN ataupun Mendagri saya belum terima, namun saya sudah mendapat infor-masi dari staf dan rekan-re-kan saya, yang mana ada praja asal Sulut tewas saat menjalani pendidikan di IPDN,’’ kata gubernur. 
Sementara itu, Kepala Ba-dan Kepegawaian Daerah (Kaban BKD) Pemprop Sulut, Drs Jefrry Korengkeng me-ngatakan, dalam kasus ke-matian praja IPDN utusan Kota Manado ini, pihak lem-baga pendidikan IPDN harus bertanggungjawab sepenuh-nya, sebab keberadaan praja IPDN di bawah pengawasan dan tanggung jawab lemba-ga.
Sekadar diketahui, Cliff Muntu merupakan salah satu praja IPDN angkatan 2005-2006. Selama menjalani pendidikan di IPDN, Jatinagor Jawa Barat, jebolan SMAN 9 ini dikenal sebagai praja yang rajin dan pintar, sehingga ketika masuk sebagai praja IPDN putra sulung dari Noldi Muntu dan Sherly Rondo-nuwu ini diangkat sebagai Ketua Kontingen Sulut. 
Bahkan sejak SMA, pria kelahiran Manado 20 tahun silam itu sudah cerdas. Ketika masuk ke IPDN, Cliff berbekal Nilai Evaluasi Murni (NEM) yang cukup tinggi, yaitu 8,26. “Cliff lulus SMA di Manado tahun 2005 dengan nilai STTB 8,5,” kata Kasubag Ad-ministrasi Praja IPDN Endang Tri Setiasih.
Pria bertinggi badan 172 cm itu merupakan murid jurusan IPA. Pemuda beragama Kris-ten Protestan itu masuk ke IPDN pada 2005 setelah ada Surat Keterangan berupa edaran Mendagri tentang calon PNS No 892.22/852/Diklat tertanggal 26 Mei 2005. 
Kecermelangan Cliff di bangku sekolah juga berlanjut hingga di bangku IPDN. Menurut Rektor IPDN, I Nyoman Sumaryadi, Cliff adalah praja yang baik dan prestasinya cukup menonjol.
Karena prestasinya yang bagus itulah maka Cliff ditunjuk sebagai Ketua Kontingen Sulawesi Utara. “Kalau tidak punya kre-dibilitas, tidak mungkin dia jadi Ketua Kontingen Sulut. Keterampilan dan sikap mentalnya baik,” kata Nyo-man. 
KASUS
Kasus tewasnya mahasiswa IPDN (sebelumnya STPD), Cliff Muntu bukan satu-satunya. Sejak 1990-an sampai 2005 tercatat 35 praja tewas di kampus tersebut. Namun dari total praja yang tewas, hanya 10 kasus saja yang terungkap di media massa.
Banyaknya kasus praja IPDN yang tewas ini didasar-kan hasil riset yang dilakukan dosen IPDN, Inu Kencana. Inu melakukan riset terkait diser-tasi doktornya — yang belum disidangkan — di Universitas Padjajaran. Disertasi itu ber-judul Pengawasan Kinerja STPDN Terhadap Sikap Ma-syarakat Kabupaten Sume-dang. 
Inu yang ditemui di depan kamar mayat RS Hasan Sadi-kin, Jalan Pasteur, Bandung, Selasa (03/04), mengungkap-kan, kekerasan di kampus IPDN bak fenomena gunung es. “Hal-hal yang terungkap di media massa hanya sebagian kecil dari yang terjadi di ling-kungan kampus itu,” kata-nya.
Data-data yang berhasil di-himpunnya dan dimasukkan dalam disertasinya, antara lain tentang kasus kematian di kampus yang berlokasi di Sumedang, Jawa Barat itu. Menurut dia, sejak 1990-an terjadi kematian sekitar 35 praja. Namun yang terungkap hanya 10 orang.
Tahun 1994, Madya Praja Gatot dari Kontingen Jatim yang meninggal ketika men-jalani latihan dasar militer dan dadanya retak.
Tahun 1995, Alvian dari Lampung, meninggal di barak tanpa sebab.
Tahun 1997, Fahrudin dari Jateng, meninggal di barak tanpa sebab. 
Tahun 1999, Edi meninggal dengan dalih sedang belajar sepeda motor di lingkungan kampus. Tahun 2000, Pur-wanto meninggal dengan dada retak. Tahun 2000, Obed dari Irian Jaya, meninggal dengan dada retak.
Tahun 2000, Heru Rahman dari Jawa Barat yang mening-gal akibat tindak kekerasan. Kasusnya sempat menjadi bahan berita. Kasusnya dilim-pahkan di pengdilan. Tahun 2000, Utari meninggal karena aborsi dan mayatnya ditemu-kan di Cimahi.
Tahun 2003, Wahyu Hidayat yang juga ramai diberitakan meninggal karena tindak ke-kerasan. Kasusnya dilimpah-kan ke pengadilan. Tahun 2005, Irsan Ibo meninggal karena dugaan narkoba. “Data ini saya kejar sendiri ketika saya berada dalam pengurusan senat. Yang aneh pelanggaran berat yang me-nyebabkan kematian, hanya sedikit sekali praja yang terlibat yang dikeluarkan,” beber Inu.(zal/oan/dtc)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin