CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Panggung Politik

04 April 2007

Menelusuri ‘benang merah’ bencana alam Minut (2) 
Menghadang Petaka dari Lereng Klabat

 

 IKUTI KOLOM TABEA

 

KABAR duka kembali memicu isak tangis rakyat Negeri Nyiur Melambai. Bencana tanah longsor menerpa kawasan Desa Tanah Putih, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Minggu 25 Maret 2005 lalu. Petaka itu terjadi hanya dua pekan setelah musibah serupa menerjang sejumlah wilayah, juga di Likupang. Nyawa manusia jadi korban. Sejumlah kawasan tergenang, jembatan putus dan gelombang pengungsian jadi imbas tak terelakkan. Gubernur Drs SH Sarundajang sendiri sudah menginstruksikan agar penyebab bencana ditelusuri sampai tuntas. Genderang perang terhadap perusakan lingkungan, saatnya ditabuh lebih keras. Menunda berarti menyiapkan ‘bom waktu’ bencana yang lebih dahsyat. Berikut lanjutan laporannya.

‘Signal bencana’ yang sudah disebut-sebut (dan diperingatkan) secara intens sejak awal tahun, ternyata kemudian berbuah kenyataan. Minggu 11 Maret 2007, banjir dan longsor menerjang sejumlah kawasan di Minut. Belasan rumah di Desa Klabat Jaga 6 terendam air setinggi 1,5 meter. Rendaman air juga menghajar sejumlah wilayah di desa Maen, Desa Rinondoran dan Desa Pinenek Di kedua desa yang disebut terakhir, dikabarkan tak kurang dari 12 sampai 15 rumah ikut diterjang banjir. “Ini disebabkan meluapnya sungai yang ada,” kata Jubir Pemkab Minut, Drs Ronny Siwi kepada Komentar waktu itu (11/03). Ya, banjir kali ini merupakan kiriman dari gunung, yang membuat Sungai Aren meluap.
Wakil Bupati Drs Sompie Singal sendiri langsung turun lapangan meninjau, sekaligus memberikan bantuan bagi masyarakat yang dilanda bencana. Para pejabat terkait dari Pemkab Minut, termasuk pimpinan dan anggota DPRD, serta pejabat Pemprop pun terjun ke lokasi. Di Rondor dan Pinenek tidak ada korban jiwa manusia, namun dilaporkan seekor ternak sapi hanyut dibawa air sungai. Sementara sejumlah warga harus mengungsi ke tempat aman.
Korban tewas tercatat adalah warga Desa Klabat, masing-masing Welly Pansode (26), istrinya Selvi Yongenger (25) dan anak mereka, Yunita Pansode (3), yang akhirnya berhasil ditemukan Tim SAR bersama masyarakat dalam keadaan tewas, Senin (12/03). Dari pantauan langsung koran ini di lokasi kejadian, jasad ayah, ibu dan anak tersebut, ditemukan dalam waktu yang berbeda. Yunita ditemukan pada pukul 14.30 WITA hari Minggu, dan langsung dimakamkan. Sementara Selvi ditemukan Senin (12/03) di aliran Sungai Mewelanen, sekitar pukul 13.00 WITA, sedangkan Welly ditemukan sekitar pukul 15.00 WITA. 
Banjir itu juga mengakibatkan putusnya jembatan yang menghubungkan antara kampung Ambon ke Likupang Dua, yang praktis menyebabkan puluhan warga ‘terisolir’ yang berdampak pada ekonomi, komunikasi maupun sosial kemasyarakatan. Pasalnya, kalau selama ini aktivitas dapat terhubung oleh adanya jembatan, kini setelahnya sarana tersebut putus, warga pun harus menggunakan perahu maupun rakit. 
Berbagai upaya un dilakukan pascabencana. Asisten II Bidang Pembangunan Pemkab Minut, Ir Willy Kumentas ketika itu mengatakan, untuk melakukan pemulihan di wilayah Likupang, pihaknya telah mengirimkan tim yang saat ini tengah melakukan pendataan. Sedangkan menyangkut perbaikan jembatan maupun proses normalisasi tebing sungai, Kumentas mengatakan hal itu akan secepatnya dilakukan. 
Imbas dari bencana pertama itu, total kerugian diperkirakan mencapao sekitar Rp 12.5 Miliar. “Jika dikalkulasikan, nilai kerusakan yang disebabkan bencana banjir ini diperkirakan mencapai Rp 12,5 Miliar. Di mana kerusakan terparah dialami oleh Desa Pinenek yang wilayahnya telah terkikis sungai, dan selanjutnya adalah Desa Rinondoran yang sebagian wilayahnya tertutup dengan pasir. Bahkan di wilayah ini berdasarkan pengamatan sudah tidak layak lagi untuk ditempati kembali. Dengan demikian akan ada upaya dari pemkab untuk melakukan relokasi, atau paling kurang warga yang jumlahnya sekitar 20 kepala keluarga akan disarankan mencari tempat yang aman,” jelas Wakil Bupati Minut, Drs Sompie Singal, Rabu (14/03) lalu. 
Pemulihannya tentu saja membutuhkan dana tak sedikit. “Untuk perbaikan sarana infrastruktur yang rusak, paling kurang dibutuhkan dana sekitar Rp 9,7 Miliar. Ditambah lagi dengan rencana pembuatan dam, sebagai upaya normalisasi sungai yang sudah menggerus desa, yang nilainya juga diperkirakan mencapai sekitar Rp 5 Miliar. Sehingga untuk maksud tersebut kita akan menyampaikannya pada pemerintah pusat,” ujar Singal.
Saat upaya pemulihan baru saja dimulai, dua pekan kemudian longsor kembali menerjang Minut. Minggu (25/03), pasangan suami istri Herson Kahindutu (54) dan Lin (50), warga Desa Tanah Putih, Kecamatan Likupang Barat (Minut), dilaporkan meninggal terkubur longsor. Kejadian yang diperkirakan berlangsung pada pukul 06.00 WITA tersebut, disebabkan tingginya curah hujan selama beberapa hari hingga menyebabkan runtuhnya tanah yang labil. Menurut Camat Likupang Barat, Drs F Sompie, korban adalah pekerja kebun yang tengah membuat kopra. 
Untuk itu, Bupati Minut Vonnie Anneke Panambunan mengingatkan warga, agar dalam puncak musim penghujan warga waspada. “Kepada masyarakat khususnya yang berada di perbukitan serta tebing-tebing, agar mencari tempat-tempat yang lebih aman,” ujar bupati seperti dikutip jubirnya, Ir Ronny Siwi. Selain itu, bupati juga mengatakan agar pemerintah, khususnya pada camat dan hukum tua, turut pro aktif dalam mengingatkan warga yang tinggal di daerah rawan longsor. 
Apakah kemudian cukup sampai di situ? Tentu saja tidak! (landywowor/bersambung)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin