|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
05 April 2007
|
|
Prof Rondonuwu: IPDN,
Institut Preman Dalam Negeri
|
Salah satu yang sangat ter-pukul atas meninggalnya Cliff Muntu dalam kasus pengani-ayaan di Kampus IPDN (Insti-tut Pemerintahan Dalam Ne-geri) adalah Prof Ir Octavianus Rondonuwu MEc. Cliff adalah keponakan dari mantan Rektor UKIT Tomohon ini.
Saat ditemui wartawan di Minsel kemarin (04/04), pa-man Cliff ini terlihat begitu marah dan emosional atas kasus tersebut. Bahkan tanpa tedeng aling-aling, Prof Ron-donuwu melihat IPDN sebagai sekolah yang melahirkan para birokrat dan leader di peme-rintahan itu, perlu dievaluasi namanya.
‘’Tak sepantasnya julukan IPDN adalah Institut Pemerin-tahan Dalam Negeri, melain-kan sudah harus dirubah saat ini menjadi Institut Preman Dalam Negeri,’’ tukasnya. Se-bab institut yang dulunya ber-nama STPDN itu, kerap muncul berbagai kasus peng-aniayaan yang melibatkan sejumlah oknum mahasiswa di dalam kampus tersebut.
“Ini Kampus IPDN atau cu-ma sarang preman. Masakan anak didik atau praja, bisa jatuh korban meninggal dunia dengan aksi kekerasan serta penganiayaan. Ini berarti, IPDN harus dibubarkan atau kalau tidak seluruh dosennya diberhentikan dan diganti dosen yang baru,” kata Ron-donuwu yang merupakan sa-lah satu staf ahli di Pemkab Minsel.
Ditambahkannya, dalam meraih ilmu pendidikan di jenjang IPDN Jatinangor ter-sebut, bisa saja kini warga masyarakat menyimpulkan lain, di mana IPDN ternyata bukan mendidik calon camat. Tetapi hanya mendidik kawa-nan preman. ‘’Sedangkan da-lam kampus terjadi pembunu-han apalagi kalau sudah di luar kampus atau di daerah masing-masing,’’ ujarnya berang.
Pada bagian lain, kepergian Cliff Muntu, Praja Institut Pe-merintahan Dalam Negeri (IPDN) ternyata tidak saja me-ninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang diting-galkan, tetapi juga bagi teman temannya. Mahasiswa Ber-prestasi kelahiran Manado 8 Juni 1987 ini ternyata supel dalam bergaul dan juga setia kawan.
Berdasarkan pantauan ko-ran ini Rabu (04/04) kemarin di rumah duka, banyak te-man-teman almarhum yang datang melayat. Baik itu te-man sekelasnya semasa ber-sekolah di SMU 9 maupun te-man-teman gerejanya di GPDI Pusat, bahkan ada juga sejumlah adik kelasnya yang datang.
“Cliff itu orang yang rajin dan bertanggung jawab, se-lain itu dia orangnya aktif dan suka membantu teman-teman yang membutuhkan,” kata Nining Suteja, teman akrab almarhum di kelas III IPA2.
Lebih lanjut dikatakan Su-teja, Cliff adalah anak yang termasuk pintar dan rajin di sekolah serta aktif dalam kerohanian. Malah salah satu ayat pegangan Cliff yang sela-lu dia ingat yaitu dalam Filipi 1:21, yakni ‘’Karena bagiku hidup adalah Kristus dan ma-ti adalah keuntungan.’’ Bah-kan ayat ini dikatakan selalu diulang-ulang oleh Cliff ketika dia pulang Manado lalu.
“Terakhir bertemu pada saat dia (Cliff red) pulang untuk merayakan Natal, yaitu De-sember tahun lalu. Ada satu kalimat yang terucap dari mu-lutnya, yaitu sekeras apapun dia tidak akan lari. Mungkin maksudnya tantangan dan juga cobaan yang dia hadapi di kampusnya,” tutur Suteja yang diiyakan oleh Ira , Pris, Dewi, Fadli dan Ito teman sekelas almarhum.
Bahkan lanjut Ira, selain siswa, berprestasi Cliff orang yang tidak pernah bisa diam. Setelah kuliah di IPDN dia rajin berkomunikasi dengan kami teman-temannya. ‘’Ma-kanya, ketika mendengar kepergiannya, kami sangat terpukul. Tadi ketika kami membisikkan bahwa teman-teman sayang kepada Cliff, matanya seperti menangis dan langsung tertutup.’’
Sementara itu menurut Titi, salah seorang teman gereja al-marhum, Cliff dinilainya ada-lah pribadi yang menyenang-kan, setia kawan dan bertang-gung jawab. Cliff aktif dipela-yanan bahkan sempat men-jadi Quayers sebelum berang-kat kuliah ke IPDN. “Kena-ngan terakhir waktu jalan-jalan dengan dia Desember tahun lalu, dia bilang, tenang kwa Ti, kita pasti bale. Kita bale dengan dengan seragam lengkap. Ternyata itu tanda-tanda dia somo pigi. Dia pe maksud katu ini dia datang dengan seragam lengkap tapi sudah tidak bernyawa,” tutur Titi sambil terisak.
Bahkan dalam pantauan koran ini teman-teman Cliff rata-rata tak mampu mena-han air matanya ketika meli-hat jasadnya yang sudah ter-bujur kaku. Selain teman-te-man Cliff, tampak juga warga masyarakat yang ingin meli-hat baik itu kerabat maupun kenalan. Bahkan sejumlah PNS dilingkup pemkot juga hadir, begitu juga dengan Ca-mat Mapanget I, Sumam-pouw.
“Setelah hasil otopsi keluar kalau memang ada indikasi kekerasan, maka saya ingin diusut tuntas supaya jangan ada lagi korban-korban lain sepeti Cliff,” tutur Noldy Mun-tu, ayah almarhum. Ditam-bahkannya, Cliff adalah anak yang baik dan manja tapi punya pendirian. Tidak suka merokok, minum-minuman keras, aktif di gereja juga baik dan sayang terhadap kedua adiknya.
Sebagaimana informasi yang diperoleh, ibadah pemakaman Cliff akan digelar hari ini pukul 12 siang. Dari rumah langsung dibawa ketempat peristirahatan akhir di TPU Kairagi.(pen/tr-01)
|
|