|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
05 April 2007
|
|
Untuk Direnungkan
Oleh:AP Farry Alan Malonda
|
Mahalnya kematian Yesus di atas kayu salib Seorang bapak setengah baya bekerja pada Sebuah perusahaan kereta api, dan tugas bapak ini mudah saja.
Beliau hanya bertu-gas menarik sebuah tuas yang menggerak-kan roda-roda raksa-sa yang saling berhu-bungan untuk me-ngangkat jembatan yang merintangi jalan kereta api itu, sehi-ngga kereta api terse-but dapat lewat dengan selamat. (tentu saja jika jembatan tersebut tidak diangkat maka kereta api itu akan mengalami kecelakaan yang sangat hebat).
Bapak ini mempunyai seorang anak satu satunya yang sangat dikasihi dengan segenap jiwa-nya. Suatu hari, anak bapak ini mengunjungi bapaknya dan ba-paknya membiarkan anaknya melihat-lihat tempat kerjanya. Sewaktu anak ini menghampiri roda-roda raksasa tersebut, tiba- tiba sang anak terpeleset dan jatuh di antara roda-roda raksasa tersebut. Malang baginya kaki anak kecil tersebut terjepit de-ngan eratnya di antara gerigi roda-roda raksasa tersebut.
Demi melihat kaki anaknya ter-jepit di antara roda-roda raksasa tersebut, sang bapak dengan serta merta berusaha menolong melepaskan kaki anak tersayang-nya tersebut dari jepi-tan gerigi roda terse-but.
Setelah berusaha se-kian lama, sang bapak ini masih belum bisa melepaskan kaki anak-nya tersebut. Sesaat kemudian, sang anak mulai menangis karena ketakutan. Tiba-tiba dari kesamar-samaran suara peluit kereta api tersebut dari kejauhan memberi tanda agar jembatan itu harus segera diangkat. Sesaat kemu-dian hati bapak ini menjadi sangat sedih dan ketakutan. Di dalam kecemasannya dia masih berusa-ha melepaskan kaki anaknya tapi masih tidak ada hasilnya. Tidak lama kemudian suara peluit kere-ta api tersebut terdengar semakin jelas dan dekat. Hati bapak ini seketika menjadi hancur bapak ini mulai menangis dengan sedih-nya.
Di dalam hati bapak ini muncul suatu keraguan, haruskah dia mengorbankan anak satu-satu-nya demi menyelamatkan kere-ta api itu yang penumpangnya tak ada satupun yang dia kenal? Na-mun jika dia memilih untuk me-nyelamatkan anaknya, maka be-rapa jiwa yang akan melayang de-ngan sia sia hanya gara-gara satu orang saja....???? Sesaat kemu-dian... bapak ini perlahan lahan mencium kening anaknya dengan penuh kasih sayang dan dengan hati yang sangat hancur lalu ba-pak ini mulai berdiri dan menuju ke tuas pengangkat jembatan ter-sebut dengan air mata yang membasahi sampai ke bajunya sang bapak ini melihat sekali lagi pada anak satu satunya itu. Se-saat kemudian bapak ini menarik tuasnya dan jatuh lemas dan me-nangis sejadi-jadinya tanpa be-rani melihat proses kematian anaknya yang sangat tragis yang tidak pernah dibayangkan oleh-nya demi menyelamatkan orang-orang yang ada di dalam kereta api itu, yang sama sekali tidak mengetahui, bahwa saat itu juga mereka telah bebas dari kematian yang kekal.
Saudaraku yang terkasih jika kita renungkan kembali kisah di atas bukankah cerita di atas te-lah terjadi 2000 tahun yang lalu, di mana Yesus telah disalib ha-nya untuk menebus dosa kita? Siapakah kita ini sehingga kita memperoleh keselamatan itu? Sesungguhnya kita ini tidak lebih dari pendosa yang tidak ada harga-nya. Tetapi kasih Yesus begitu besar... sehingga Dia rela mati di-atas kayu salib hanya untuk me-nebus dosa kita... (injil Yohanes 3:16). Saya mau katakan pada saudara bahwa hanya Yesus saja-lah yang rela mengorbankan nya-wanya bagi kita. Tak ada kasih yang demikian besar seperti yang dilakukan Yesus demi menyela-matkan kita.
Kematian Yesus itu tidak dapat dinilai dengan apapun yang ada didunia ini terlalu mahal dan sangat mahal untuk sebuah jiwa seperti saya dan saudara. Tapi, saya juga mau katakan sesuatu pada saudara... kematian Yesus 2000 tahun yang lalu bukan ha-nya untuk menebus dosa orang yang hidup pada zaman itu saja... tetapi darah-Nya yang tercurah 2000 tahun yang lalu masih ma-mpu dan Dia sanggup menyela-matkan kita.
Percayalah kepada Yesus sebab hanya melalui Dialah kita dapat diselamatkan. Dan bagi kita yang sudah percaya pada Yesus, janganlah kita menjual kematian Yesus dengan hal-hal yang bersifat duniawi... terlalu mahal harga sebuah nyawa itu.
Syaloom....
|
|