HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

07 April 2007

Sering dianiaya sampai 2 kali masuk rumah sakit 
Seorang Praja Sulut Lari dari Kampus IPDN


Aksi penganiayaan di Kampus IPDN (Institut Peme-rintahan Dalam Negeri), tidak hanya menimpa Cliff Muntu (alm) saja. Seorang teman seangkatannya asal kontingen Sulut, inisial GKP alias Aria terpaksa melarikan diri dari kampus di Jatinangor tersebut karena takut mengalami nasib sama dengan Cliff, yang tewas dianiaya. 
“Kalau dianiayai sudah se-ring terjadi. Bahkan saya sem-pat dua kali masuk rumah sa-kit akibat menerima pukulan. Di sana kalau muntah darah itu sudah biasa,’’ ungkap jebo-lan SMAN 3 Manado ini ketika ditemui Komentar di rumah-nya di Bilangan Tuminting, ke-marin (06/04). Aria sendiri mengatakan sudah kapok un-tuk kembali menyelesaikan studinya di IPDN. 
‘’Saya sudah tidak ingin kem-bali lagi. Pernah saya sampai dijemput senior dua kali un-tuk kembali ke kampus (pasca penganiayaan, red). Tapi kali ini, saya sudah benar-benar te-tapkan keinginan untuk tidak lagi menyelesaikan studi di IPDN karena sering dianiaya,’’ ungkap mantan Praja IPDN yang mundur sejak Desember 2006 lalu.
Aria kemudian menjelaskan bentuk-bentuk ‘perploncoan’ di Kampus IPDN yang sudah melewati batas toleransi. ‘’Se-ring mata ditutup dan kemu-dian dianiaya. Pukulan sering mereka alamatkan ke dada dan leher, bahkan sekali-seka-li ke alat kelamin,’’ katanya se-raya mengatakan, para pela-kunya oknum senior di IPDN. Malah dia menyesalkan, pela-kunya kadang senior asal se-daerah. 
Aria yang didampingi ibunya mengatakan, dulu dia sangat mendambakan masuk IPDN. Tapi setelah mengalami berba-gai penganiayaan, kini dirinya sangat membenci dengan nama IPDN. Sampai-sampai atribut IPDN telah dibuang-nya. ‘’Saya tidak mau lihat lagi atribut-atribut dari IPDN,’’ ungkap Aria yang dulunya pernah lari dari rumah sakit dengan baju di badan ke Sura-baya, karena takut dibawa lagi ke Kampus IPDN. 
Dulu dirinya pernah menge-luhkan berbagai penganiayaan yang diterimanya di Kampus IPDN kepada orang tuanya, namun waktu itu kedua orang-tuanya selalu menguatkan. Sebagai lelaki, kata ayahnya, biasa kalau cuma tes fisik. Tapi setelah dijelaskan, dan ada kasus meninggalnya praja IPDN, akhirnya orang tuanya bisa mengerti. ‘’Bayangkan, untuk senyum saja tidak boleh di kampus. Langsung kena pu-kul dari senior,’’ ungkap Aria yang mengharapkan bisa di-lindungi oleh Gubernur Sulut setelah kesaksiannya ini. 
Aria sendiri telah bertekad untuk pindah pendidikan, dan direncanakan akan sekolah bidang kepariwisataan di Bali. ‘’Saya sudah trauma dengan yang namanya IPDN,’’ ungkap Aria yang mengaku sangat kenal dekat dengan Cliff Muntu. Dia juga mengaku kenal dengan para tersangka pelaku pemukulan terhadap Cliff, meski hanya disebutkan inisial saja dalam berbagai pemberitaan. Dia juga meng-ungkapkan, saat ini sudah belasan mahasiswa yang ‘kabur’ dari IPDN karena aksi-aksi penganiayaan di kampus yang makin menakutkan. ‘’Mungkin kalau saya tidak la-ri, maka saya yang akan ber-nasib seperti Cliff. Cliff me-mang sewaktu mendapatkan penganiayaan selalu hanya diam,’’ katanya. 
Di sisi lain, Ketua DPRD Su-lut, Drs Syachrial Damopolii yang ditemui terpisah menga-takan, agar lembaga IPDN di-tutup saja. Menurut Yal sapa-an Damopolii, meninggalnya Cliff Muntu bukanlah kasus pertama di IPDN. “Ini meru-pakan kasus untuk yang ke-sekian kalinya. Karena itu persoalan ini harus disikapi secara tegas,” kata Yal.
Bentuk ketegasan tersebut, aku Damopolii adalah DPRD Sulut akan meminta Menteri Dalam Negeri untuk memper-tanggungjawabkan sekaligus menuntaskan persoalan ini. “Dan kalau tidak mampu, ma-ka kami meminta agar IPDN ditutup saja, jangan sampai terus-terusan menjadi tem-pat pembunuhan putra-pu-tra terbaik bangsa ini,” tu-kasnya.
Meninggalnya Cliff Muntu sendiri, aku Damopolii meru-pakan bukti kalau selama ini pemerintah kurang tegas menyikapi persoalan di IPDN. “Kalau sejak awal pemerintah, tegas, saya kira persoalan ini tidak perlu lagi terjadi. Dan ke-tegasan tersebut tidak hanya sebatas pada pencopotan rektor atau memecat pelaku, tetapi sistem dan mekanisme belajar-mengajar di IPDN tersebut perlu dikaji kembali,” jelasnya.
Sementara itu, atas tewasnya Cliff Muntu, praja tingkat II Madia Intitut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) pada Senin (02/04) lalu akibat pe-nganiayaan, membuat Guber-nur Sulut Drs SH Sarundajang menyurati IPDN, serta memin-ta Rektor IPDN Jatinangor, Ja-bar agar bertanggung jawab atas kasus kematian praja terbaik utusan Kota Manado ini.
Bahkan dalam surat berno-mor 420/172/sekr yang diki-rimkan sejak Kamis (05/04) ini, Gubernur Sarundajang menyatakan bahwa Pemprop Sulut sangat keberatan atas peristiwa tragis yang menim-pah salah-satu putra terbaik Sulut tersebut. Oleh karena itu tindakan kekerasan yang dialami Cliff Muntu di dalam kampusanya tersebut, menu-rut gubernur harus dituntas-kan.
Selain itu, dalam isi surat ter-tanggal 4 Maret 2007 tersebut, gubernur juga sempat me-nyentil pengkuan orang tua almarhum kepada Pemprop Sulut bahwa, semasa hidup, almarhum tidak pernah men-derita penyakit lever sebagai-mana yang dijadikan alasan pihak IPDN pascatewasnya alamrhum.
Kepada sejumlah wartawan akhir pekan lalu, Gubernur Sarundajang mengatakan bahwa persoalan ini, menjadi perhatian serius Pemprop Sulut. “ Kasus ini merupakan persoalan serius yang harus dituntaskan, sehingga ok-num-oknum yang terlibat dalam kasus penganiayaan ini harus ditindak sesuai dengan prosedur hukum yang berla-ku,” ujar gubernur pertama pilihan rakyat Sulut ini sem-bari meminta kepada kepada IPDN untuk tidak menutup-nutupi kasus ini.
Sementara itu, surat per-nyataan keberatan dan per-tanggungjawaban yang diki-rimkan Pemprop Sulut ini, ju-ga ditembuskan kepada Mentri Dalam Negeri RI, Menteri Pen-didikan Nasional, Kapolri, Badan Diklat Depdagri dan orang tua korban, dengan maksud pihak-pihak terkait menseriusi masalah ini, sehingga kedepan nanti tidak ada lagi praja IPDN yang tewas dalam pendidikan. 
DIPECAT
Pada bagian lain, terkait kasus Cliff, IPDN menggelar apel luar biasa dengan agenda pemecatan 4-5 praja tersangka penganiayaan Cliff Muntu. Inisial mereka yang di antara-nya dipecat adalah SN dari Gorontalo, JA dari Kalimantan Timur, GN dari Maluku Utara, dan AB dari Sulawesi Selatan, serta MA yang disebut-sebut dari Sulawesi Utara.
Selain diberhentikan secara tidak hormat, para nindya praja IPDN itu juga harus mengembalikan dana yang telah dikeluarkan negara un-tuk keperluan sekolah. Mereka juga harus mengembalikan dana sebesar Rp 13 juta. M Amrullah misalnya, harus mengmbalikan dana sebesar Rp 13,2 juta. Dia terhitung menjalani pendidikan di IPDN selama 922 hari. 
Jaka Anugrah Putra harus mengembalikan dana Rp 13,1 juta karena menjalani pendi-dikan di IPDN selama 920 hari. Sedangkan A Bustamil yang menempuh pendidikan selama 922 hari harus mengem-balikan dana pendidikan sebesar Rp 13,2 juta. Serta, Fendi Notobuwo harus me-ngembalikan Rp 13,1 juta de-ngan masa pendidikan 918 hari. Ketetapan tersebut diba-cakan pada saat apel luar biasa dengan agenda peme-catan tidak hormat 4 nindya praja IPDN di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (05/04). Upacara dipimpin Pembantu Rektor III Bagian Keprajaan, Indarto. 
Rektor IPDN I Nyoman Su-maryadi menjelaskan, peme-catan itu baru dilakukan kare-na salah satu praja, GA, masih dilakukan pendalaman pem-buktian. Diduga, praja yang menganiaya Cliff jumlahnya akan terus bertambah. “Yang tujuh lagi masih dalam pendalaman kepolisian,” kata Nyoman. Dalam pemeriksaan hari ini, pihak kepolisian juga memeriksa sekitar 27 rekan Cliff. “Namun mereka sudah pulang semua dari Polres Su-medang, yang belum kembali cuma satu yaitu nindya praja GA,” jelas Nyoman.
Menurut Nyoman, IPDN akan lepas tangan terhadap proses hukum yang akan ditempuh oleh keempat mantan praja IPDN. 
“Mereka kan sudah dipecat secara tidak hormat, kami tidak akan memberikan ban-tuan hukum. Kalau mereka mau cari pengacara ya silakan,” pungkas Nyo-man.(mon/oan/dtc) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin