CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

07 April 2007

Sorga dan neraka, suatu keadaan atau tempat?
Mirip Salah Satu Suara di Taman Eden

Oleh:Pdt Piet H Sambur STh

 IKUTI BERITA LAIN

UU Kementerian Negara Menyandera Presiden?(2)
Oleh:Benny K Harman

SURAT PEMBACA

Kajati Sulut Luar Biasa

 COMMENTAREN

Memaknai Paskah Yesus Kristus


“Di manakah sorga dan neraka?” Pertanyaan filosofis yang sekaligus agamawis ini kerap mengusik benak manusia dari abad-abad. Adakah sorga dan neraka benar-benar merupakan tempat seperti yang diajarkan kepada kita selama ini oleh agama atau justru hanyalah suatu 
keadaan semata? 
Adakah yang disuarakan oleh Alkitab yang telah survive dari ber-bagai upaya pemusnahan selama berabad-abad oleh berbagai pemi-mpin bangsa-bangsa (Kaisar-kaisar Romawi, pemimpin-pemimpin ne-gara-negara komunis, dkk-nya) tentang surga dan neraka sebagai suatu tempat atau justru pemaha-man rasio manusia tentang surga dan neraka sebagai suatu keadaan yang benar?
Fakta Bukanlah Mitos
Selaku orang yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang infallable (tidak dapat dijatuhkan) dan innerant (tanpa salah), maka apa yang dituliskan Alkitab ten-tang Taman Eden, tentang Allah Pencipta yang menciptakan alam semesta termasuk Taman Eden, tentang kisah Adam dan Hawa, tentang Setan, tentang kejatuhan manusia dalam dosa, semua itu merupakan fakta yang nyata dari kitab suci. Sebab jika semua fakta Alkitab di atas merupakan mitos, maka tentunya Allah Pencipta, Ta-man Eden, Adam dan Hawa, Setan dan kejatuhan manusia dalam do-sa juga adalah mitos. Suatu per-nyataan yang terlalu berani dan tidak masuk akal, sebab kenyataan hidup sehari-hari saja menunjuk-kan bahwa manusia begitu jahat dan berdosa. Hal yang membuk-tikan bahwa manusia zaman kini adalah pewaris sah dari kejatuhan total Adam dan Hawa ke dalam do-sa, (kecuali kita belum pernah no-nton Sergap, Buser, TPK, Sidik, In-vestigasi, dll). Menganggap semua itu mitos bukan saja keliru, tetapi menghujat. Masalah sorga dan ne-raka yang merupakan tempat bu-kan keadaan, merupakan fakta ya-ng jumlahnya bertimbun-timbun disajikan dalam Alkitab
Mirip Salah Satu Suara di Taman Eden?
Pertanyaan “Di manakah sorga dan neraka?” Sekaligus jawaban bahwa surga dan neraka merupa-kan suatu keadaan, sangat mirip dengan salah satu suara di Taman Eden. 
Di Taman Eden tersebut ada ba-nyak suara. Yang pertama, suara Allah Pencipta yang penuh kasih, yang mencipta manusia dengan tu-juan supaya manusia dapat berse-kutu secara indah dengan-Nya. Be-rikutnya, suara Adam dan Hawa; lalu suara kicau merdu burung-bu-rung dan keindahan-keindahan lain yang tentu sangat mempeso-na. Suara Allah Pencipta yang ma-nis itu termasuk ketika Dia mem-buat peraturan, “tetapi pohon pe-ngetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau ma-kan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16, LAI). Sayang sekali bahwa Adam dan Hawa melanggar perintah tersebut karena mengikuti salah satu suara lain di Taman Eden itu, yaitu suara ular tua alias suara setan, yang dengan cara yang sangat licik meni-pu manusia dengan mengatakan yang sebaliknya, “Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3:4,5, LAI). Allah Pencip-ta berkata: “Kamu pasti mati!” Iblis merubahnya dengan: “Sekali-kali kamu tidak akan mati.” Suara bah-wa sorga dan neraka itu merupa-kan keadaan bukan tempat mirip dengan suara: “Sekali-kali kamu tidak akan mati.” 
MungkinkahYesus Ialah Seora-ng Pembohong yang Keterlaluan?
Apakah orang-orang percaya se-panjang segala abad merupakan orang-orang yang dibodohi oleh Yesus serta para nabi dan rasul? Apakah kita orang-orang percaya di zaman ini juga adalah orang-orang yang telah tertipu?
Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juru Selamat orang-orang percaya mengatakan: “”Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk me-nyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, su-paya di tempat di mana Aku bera-da, kamupun berada. (Yoh. 14:3,4 LAI ). 
Kalau kita mengkorelasikan ayat-ayat yang diucapkan Yesus terse-but, dengan salah satu anak kali-mat dalam Pengakuan Iman Rasu-li, “yang sudah naik ke sorga, du-duk di sebelah kanan Allah Bapa” Apakah Pengakuan Iman itu me-nyatakan naik ke keadaan? Dalam ayat-ayat di atas, dinyatakan kata “tempat” dan kata “situ” sebanyak lima + dua kali = tujuh kali. Apakah Yesus terlalu bodoh memilih kata-kata “tempat” dan “situ” sehingga sampai tujuh kali salah mengu-capkan kata-kata itu. Atau mung-kinkah Ia seorang pembohong yang keterlaluan? 
Apakah orang-orang percaya di abad-abad pertama sangat bodoh untuk mengucapkan pengakuan tersebut? Padahal saat itu kalau seseorang berani mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, maka ia berada di dalam bahaya besar, ka-rena diancam oleh hukuman mati berupa dipancung, disalibkan, di-lemparkan untuk menjadi santa-pan binatang buas yang lapar dan diasingkan ke pulau yang terpencil, dsb. Yang mengherankan adalah orang-orang percaya kala itu (laki-laki, perempuan dan bahkan an-ak-anak) walaupun di bawah anca-man kematian yang mengerikan, dengan gagah berani mereka me-nyongsong kematian. Adakah ala-san di balik hal tersebut? Tentu-nya karena mereka mempunyai ke-yakinan akan adanya sorga selaku suatu tempat yang akan mereka tempati ketika mereka mening-galkan dunia ini, tepat seperti yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus Kris-tus. 
Apakah kaum martir, kaum Injili (yang menjadikan kegiatan pem-beritaan Injil tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat yang mati, dikubur dan bangkit, se-bagai gaya hidup), kaum Ortodoks dan kaum Dispensasionalis, yang juga mempercayai adanya sorga dan nereka juga sudah ditipu oleh Yesus Kristus, nabi-nabi dan rasul-rasul yang ada dalam Alkitab? Ten-tunya tidak.
Suara yang Mirip Sepanjang Zaman
Sejak awal dunia, suara Iblis ter-us menggema via para pengikut-nya. Di masa hidup Musa, seorang Firaun pernah berucap: “Siapakah Tuhan itu yang harus kudengar-kan firman-Nya untuk membiar-kan orang Israel pergi? Tidak ke-nal Aku Tuhan itu dan tidak juga Aku akan membiarkan orang Israel pergi.” (Keluaran 5:2). Charles R Darwin, (1809-18820) yang juga alumnus Sekolah Teologi, yang ak-hirnya menentang doktrin pencip-taan dengan mempercayai bahwa manusia adalah hasil evolusi ber-juta tahun dari makhluk rendah sampai menjadi kera, lalu kemudi-an menjadi manusia.
Sigmund Freud, (1856-1939) an-ak seorang pendeta, yang kemudi-an menjadi sangat anti agama, lalu berpendapat: “Bahwa agama de-ngan ajaran sorganya adalah pro-yeksi dari jiwa yang resah, karena kesusahan hidup. Dengan diimi-ng-imingi, dengan dimanipulasi bahwa nanti waktu mati masuk sorga maka manusia yang resah dapat sedikit terhibur.” Karl Marx, (1818-1883) yang juga alumnus Sekolah Teologi tapi kemudian meninggalkan iman Kristennya, sambil berucap: “Agama adalah ca-ndu bagi rakyat.” Pemimpin pemi-mpin agama yang pro kapitalisme, melalui agama mereka telah mem-bius masyarakat proletar/jelata de-ngan janji-janji bahwa orang mis-kin adalah pewaris Kerajaan Sorga (bandingkan: Matius 5:3). Ia kemu-dian menganjurkan perlawanan rakyat secara brutal. Lenin, murid-nya yang paling berdedikasi me-nerapkan ajaran Marx secara ketat ketika ia memimpin revolusi Bols-hevik, dan mengambil alih peme-rintahan di Kekaisaran Rusia Ra-ya, dengan membantai puluhan juta lawan politiknya, terutama ka-um rohaniawan. Penerusnya Josef Stalin, menjadi diktator komunis yang paling sadis karena membu-nuh lebih banyak orang lagi, de-ngan mengirim mereka kekamp ke-rja paksa di Siberia yang terkenal sebagai tempat yang sangat ding-in. Stalin juga menembak mati sa-lah satu anak laki-lakinya karena mencoba menentang kehendaknya. 
Negara Utopia itu¯tepat semacam sorga keadaan, yang sama rata sa-ma rasa, yang paling makmur di dunia, tidak pernah menjadi ke-nyataan. Terbukti dengan koyak-nya tirai besi negara adidaya Sov-yet dan juga runtuhnya tembok Berlin simbol pembatas negara utopia impian komunisme. 
Masalah Ketidakpekaan Ka-um Agamawan Terhadap Keti-dakadilan Sosial
Harus diakui bahwa pendapat te-ntang sorga dan neraka meru-pakan keadaan dan bukan tempat, memiliki latarbelakang kekecewa-an. Kekecewaan terhadap kaum agamawan yang abai terhadap masalah-masalah ketidakadilan sosial. Mereka sibuk berkhotbah tentang berkat-berkat, tentang so-rga dan neraka, sementara itu ada banyak ketidakadilan sosial yang merajalela di sekeliling mereka. Me-reka bukan saja tidak peka, tetapi malah sering terlibat dalam usaha mengompori orang-orang yang ti-dak adil, atau bahwa memberikan tempat yang terhormat dalam ja-batan keagamaan bagi para peru-sak sosial tersebut. Di gereja-gereja kita misalnya, bukan rahasia lagi bahwa ada banyak pelaku KKN ya-ng malahan diangkat menjadi pe-mimpin gereja, semacam penatua begitu (walaupun tentu tidak se-mua penatua bermental seperti itu). Ketika kemabukan merajalela, pendeta-pendeta kita diam saja. Yang lebih parah lagi, ada pendeta-pendeta yang karena tamak akan uang dan harta, selalu berkhotbah, “banyak memberi dapat banyak berkat.” Berilah pada hamba Tu-han, beri, beri. Sehingga ada ba-nyak pendeta yang begitu kaya raya sementara jemaatnya hidup ngos-ngosan. Kalau sudah memberi ba-nyak tetapi orang yang memberi tetap miskin siapa yang salah? Ya-ng salah adalah si pemberi, karena imannya kurang besar. Masalah-nya sekarang, apakah dengan adanya kaum agamawan yang ti-dak peka akan menyebabkan ki-ta melakukan kekeliruan yang lebih parah lalu menjadikan ki-ta anti Alkitab dengan melontar-kan pendapat yang mirip dengan pendapat kaum komunis?
Adakah Pegangan yang Otori-tatif bagi Kita Selaku Orang Be-riman? 
“Di manakah sorga dan nera-ka?” Untuk menjawab pertanya-an tersebut, otoritas mana yang kita pakai? Tentunya selaku or-ang beriman, otoritas yang kita pakai adalah Alkitab, Firman Al-lah yang infallable (tak dapat di-jatuhkan) dan inerrant (tanpa salah). Alkitab yang sudah dise-rang secara hebat di sepanjang zaman. Pada waktu Perjanjian Lama, Raja Yosiah telah mem-bakarnya. Ada banyak pengu-asa-penguasa di abad-abad per-tama kekristenan juga menyu-ruh mengumpulkan dan mem-bakar Alkitab. Gereja yang resmi pun pernah begitu anti kepada penyebaran Alkitab, sehingga mengeksekusi mati siapa yang berani menerjemahkannya. Namun Puji Tuhan Alkitab tetap survive.(**)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin