|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
11 April 2007
|
Jangan hanya oknum praja pelaku penganiayaan terha-dap Cliff Muntu saja yang diproses hukum, tapi Pim-pinan IPDN dalam hal ini rek-tornya, harus juga diadili. Se-bab Rektor IPDN, I Nyoman Su-maryadi, adalah orang yang paling bertanggungjawab di institusi tersebut. Demikian aspirasi para pengunjukrasa yang datang dari berbagai ormas, organisasi kepemuda-an dan mahasiswa Sulut da-lam wadah ‘Solidaritas kema-tian Cliff Muntu’ di lintasan Patung Wolter Mongisidi dan kemudian dilanjutkan ke Kantor Gubernur Sulut, ke-marin (10/04).
Selain itu pendemo juga me-nuntut agar IPDN dibubarkan atau dilebur ke universitas dan perguruan tinggi negeri yang tersebar di seluruh In-donesia. Aksi pernyataan si-kap para ormas kepemudaan yang difasilitasi KNPI Sulut ini terdiri dari Pemuda GMIM, GAMKI, GMKI, Ikatan Nyong dan Noni Sulut, Purna Pas-kibraka, KM Fisip Unsrat, Pemuda Madrasah, Pemuda Katolik, Brigade Manguni, Mi-lisi Waraney, Pemuda Panca-sila, GRAK, Anshor dan Banser.
Dalam aksi ini yang dimulai pukul 09.30 WITA ini, para orator dari masing-masing or-mas menggelar orasi secara bergantian, yang sasasarannya mengecam aksi brutal dan sis-tem premanisme yang berke-dok pembinaan ala militer, serta memintakan supaya Rektor IPDN dicopot dan diadili.
Sekretaris Pemuda GMIM, Frangky Mokodompis dalam orasinya, meminta gugatan yang dilayangkan gubernur harus tegas, sebab apa yang dialami Cliff Muntu, bukan lagi sebuah persoalan internal keluarga tetapi merupakan persoalan warga Sulut secara global. Bagi Mokodompis, sis-tem yang diterapkan di IPDN tidak ubahnya sebuah aksi premanisme yang hanya mem-buat musibah bagi siswa-siswa IPDN yang tidak lain delegasi perwakilan dari se-mua wilayah di Indonesia.
Sedangkan Ketua KNPI Sulut, Jefry Delarue, mengha-rapkan supaya pihak DPRD mengambil sikap politis terha-dap persoalan ini, mengingat persoalan ini adalah persoalan warga Sulut. Pihak KNPI Sulut menghendaki supaya pemerin-tah daerah memfasilitasi ke-luarga Clif Muntu, untuk ter-bang ke Jakarta berhadapan langsung dengan presiden.
Bagi KNPI, upaya untuk menghentikan sejenak peneri-maan praja IPDN tidaklah cukup. Langkah yang tepat adalah pembubaran IPDN yang sudah menjadi momok yang menakutkan. Sementara itu Teddy Kumaat yang merupa-kan perwakilan dari Fisip Unsrat Manado, menekankan bahwa IPDN bukanlah satu-satunya sekolah yang bisa mencetak pemimpin-pemimpin yang handal, sebab pihak Fisip di universitas dan sekolah tinggi yang lain juga dianggap mampu mencetak dan memproduksi pe-mimpin-pemimpin yang handal, sehingga sangat layak kalau IPDN dibubarkan, karena menerap-kan bentuk premanisme.
Sejumlah dosen Unsrat seperti Toar Palilingan dan PD III Fisip dan Ayahanda Cliff Muntu, turut hadir dalam aksi ini. Setelah semua ormas menggelar orator secara bergantian, selang berapa saat Banser dan Anshor Sulut yang dikomandani anggota DPRD Sulut, Benny Rhamdani, bergabung dan menyatakan agar IPDN dibubarkan. Turut hadir dalam aksi ini Ketua F-PDIP DPRD Sulut, James Karinda SH. Karinda dalam orasinya mengatakan, bahwa sikap ini akan diteruskan dan ditindaklanjuti pihak DPRD Sulut. Setelah puas berorasi, para pengunjuk aspirasi mem-bubarkan diri, tinggal KNPI dan Anshor dan Banser Sulut yang menggelar longmarch menuju Kantor Gubernur.
Pada bagian lain, anggota DPD asal Sulut, Marhany Pua di Ja-karta mengatakan, DPD sudah membentuk tim investigasi yang dijadwalkan hari ini bertolak ke kampus IPDN untuk mencari ta-hu penyebab dan motif kematian Cliff Muntu. Menurut Pua, kejadian tersebut disebabkan lemahnya sistem pengawasan yang dilakukan Rektor IPDN. Untuk itu, dia meminta, agar Rek-tor harus bertanggungjawab. “Rektor IPDN harus bertanggung jawab serta dipecat dari jaba-tannya,” pintanya. Jika nantinya hasil investigasi pihaknya bah-wa Cliff Muntu memang tewas akibat penganiayaan, maka DPD akan merekomendasikan agar IPDN dibubarkan, sebab hal itu sudah bertentangan dengan UU Sisdiknas.(ran/zal)
|
|