|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
12 April 2007
|
|
Mengantisipasi
‘Mass Diving Tourism’ Industri Pariwisata
Sulut(1)
Oleh: JR Pahlano Daud
|
Mau dibawa kemana pembangunan pariwisata Sulut? mengandalkan wisata bahari pada ekosistem alam, sumberdaya potensial sekaligus ‘fragile’ rentan oleh eksploitasi/aktifitas manusia. Diperlukan pembenahan orientasi ‘ekonomi’ ke ekologi, perubahan ‘diving system’ dengan meng-instal kombinasi beberapa modul baru sebagai fungsi DAD (Diver Aggregation Devices).
Dengan demikian tekanan tu-ris/penyelam pada terumbu alami bisa dibatasi sekaligus mengan-tisipasi kecenderungan konsep pembangunan yang ada saat ini: mass tourism ke arah eco tourism.
‘Diving’ atau aktifitas menyelam telah menjadi ‘booming’ bagi sek-tor pariwisata. Perekonomian ber-bagai negara yang memiliki garis pantai-terumbu saat ini sangat bergantung pada banyaknya jum-lah penyelam rekreasi (recreati-onal diver). Keuntungan yang di-dapat dari wisata bawah air meru-pakan sektor utama pendapatan pada beberapa negara tropis. Mi-salnya jumlah turis Jerman yang menyewa hanya satu pesawat di awal tahun 1990-an sekurang-ku-rangnya telah memberikan keun-tungan sebesar 25 persen dari GNP Maldives. Tidak mengheran-kan terdapat ketergantungan ‘SCUBA dollars’ dari beberapa ne-gara tujuan diving termasuk Indo-nesia. Perkembangan pariwisata khususnya pada ekosistem pesisir laut merupakan industri terbesar yang berkembang pesat di planet ini. WTO (2002) mengestimasi pendapatan sektor ini sekitar 25 persen dari total ekspor negara-negara sekitar Pasifik (pasific rim) dan lebih 35 persen khusus un-tuk kepulauan Karibia. Belum se-optimal Karibia yang sebenarnya rendah dalam nilai keanekara-gaman hayati, pariwisata bahari Indonesia diestimasi memberi ke-untungan setiap tahunnya sebe-sar 1,6 miliar dolar. Seiring de-ngan program pemerintah lewat WOS 2009 dan tahun Pariwisata 2010 yang diharapkan memberi keuntungan multiplier effect bagi masyarakat, sektor ini terlihat bergeliat mempersiapkan diri de-ngan bertumpu pada pariwisata bahari. Namun, kearah mana pembangunan pariwisata ini se-harusnya di arahkan? Siapa yang akan diuntungkan?
Pariwisata wilayah pesisir laut bersumber pada nilai ekologi ke-ragaman hayati karena semakin tinggi keanekaragaman (biodiver-sity) akan semakin tinggi daya jual-nya. Sulawesi Utara yang terletak strategis di wilayah ‘Wallacea’ dan merupakan pusat dari wilayah ‘Coral Triangle’ memiliki keunikan tersendiri dalam potensi keaneka-ragaman laut. Sebut saja TN Bu-naken, selat Lembeh, pulau Tiga, sepanjang pesisir Bolmong, seme-nanjung Minahasa sampai di ke-pulauan Sangihe dan Talaud. Ke-anekaragaman, keunikan dan keindahan lingkungan alam tro-pis inilah yang menjadi sumber-daya potensial penting-modal le-bih yang dimiliki dibanding dae-rah/negara lain sekaligus menjadi tanggungjawab besar kita untuk mengelolanya secara lestari ber-kelanjutan.
Kuantitas Merubah Kualitas
Pariwisata berbasis lingkungan alam (pariwisata bahari) dikelom-pokkan dalam jenis wisata minat khusus yang aktivitasnya berkai-tan dengan kelautan, baik yang dilakukan di atas permukaan ma-upun di bawah permukaan laut. Sampai saat ini pemberian sertifi-kat selam oleh berbagai organisa-si selam dunia meningkat sangat pesat. Berarti pasar wisata selam ‘expand’ mengalami pertumbu-han. Hal yang menarik turis memi-nati objek wisata bawah air teruta-ma adalah keindahan panorama bawah laut lewat aktivitas snorke-ling, diving ataupun glass sub bot-tom. Namun, jangan dikira akti-fitas ini tidak memberi efek nega-tif terhadap obyek wisata yang di-kunjungi. Banyak penelitian yang menunjukan hal tersebut dan United Nation Environment Pro-gramme (UNEP 2003) telah mengi-dentifikasi fakta-fakta umum ba-gaimana pariwisata-aktifitas re-kreasi memberi dampak negatif yang beragam terhadap lingku-ngan dan sumberdaya alam.
Ketika manusia sadar, penasa-ran dan tertarik akan keberadaan dunia bawah air maka peralatan selam seperti SCUBA akan dilirik-nya, yang tentunya membawa ke-untungan bagi pengembang dan penjual jasa dibidang ini. Dewasa ini, kurang disadari bahwa leda-kan wisata selam sebenarnya te-lah mengakibatkan tekanan berat pada ekosistem coral dan ekosis-tem sekitarnya, langsung lewat kontak fisik terutama berhubu-ngan dengan kemahiran selam ‘buoyancy control’ (keseimbangan tubuh dalam air). Penyelam/snor-keler dapat menginjak, menyen-tuh dan mematahkan coral, me-ngganggu/mengangkat sediment tempat hidup organisme, mem-beri dampak pada dinding terum-bu lewat ‘bubbles’, ‘harrasment’ pada organisme yang langka sam-pai pada banyaknya jumlah ‘flash’ dari underwater camera; mengo-leksi, memanah ikan untuk kese-nangan serta tak bertanggung-jawab terhadap kebersihan tem-pat penyelaman. Lewat berbagai fasilitas pendukungnya, dari pe-ngoperasian perahu sampai pada resort, pembangunan fasilitas wi-sata selalu diikuti dengan mening-katnya aktifitas transportasi (hilir-mudik perahu motor, pelemparan jangkar yang sembarangan) seca-ra langsung mempengaruhi kebia-saan/kelakuan organisme laut. Secara tidak langsung namun pasti sedimentasi, polusi dan pe-nyuburan nutrient yang dihasil-kan mempengaruhi organisme dan keseluruhan ekosistem. Be-lum lagi komplikasi tekanan yang umum diketahui bersumber dari tempat lain seperti pencemaran, sampah, masukan sedimen lewat aliran-aliran air/sungai, peneba-ngan hutan/mangrove serta kegi-atan penggalian dan reklamasi; aktifitas penangkapan ikan yang merusak (dinamit dan sianida) dan penambangan karang/coral yang nyata memusnahkan terum-bu. Terdapat pula sebab-akibat dari proses ekologi yang lebih kom-pleks hingga menimbulkan gejala kerusakan lainnya mulai dari pe-manasan global, pemutihan coral, melimpahnya pumparade atau ‘crown of thorn starfish’ (hewan pemakan coral) sampai mening-katnya organisme agen bioerosi yang mematikan coral.
Terumbu coral dunia saat ini be-rada dalam krisis (Nature, 2004; IUCN 2006). Tingginya ketergan-tungan terhadap sumberdaya laut menyebabkan terjadi eksploitasi besar-besaran terutama yang ber-dekatan dengan pemukiman pen-duduk. Aktifitas manusia menga-ncam 88 persen terumbu di Asia Tenggara yang memiliki ekosistem pesisir terbaik dunia, mengancam nilai bio-ekologi dan ekonomi penting bagi masyarakat. Dari 50.875 km2 terumbu coral di Indo-nesia, hanya 5 persen saja memi-liki kondisi yang sangat baik. Kon-disi dan status terumbu karang Indonesia saat ini terancam rusak parah, mengalami degradasi di hampir semua kepulauan dan da-lam resiko punah. Ironisnya, ba-nyak daerah tujuan wisata bahari tidak berdaya dan masa bodoh de-ngan masalah ini. Pada saat siklus perkembangan pariwisata berada di puncaknya dalam meraih keun-tungan, permasalahan ini sering diabaikan dan dilupakan.
Meskipun pendidikan mengenai lingkungan perairan dari para pe-nyelam rekreasi (recreational di-ver) meningkat dan ‘wajib’ bagian dari kursus pelatihan selam, pe-nambahan pelampung ‘buoy’ un-tuk mengurangi dampak pelem-paran jangkar perahu dan pro-gram-program penyadaran telah diketahui namun tetap ancaman dan tekanan terhadap ekosistem pesisir meningkat seiring bertam-bahnya jumlah turis. Secara um-um, sasaran wisata selam relatif hanya mencakup areal yang kecil di sepanjang pantai-terumbu. Di-ving-diving spot ini menarik dan atraktif karena memiliki karakte-ristik tersendiri. Saat ini terdapat kurang lebih 120 spot yang terse-bar di Sulut dan sekitar 60 persen berpusat di TN Bunaken dan selat Lembeh. Pulau Bunaken sendiri memiliki spot terbanyak berjum-lah 16 spot. Setiap tahun rata-ra-ta dikunjungi 9000 turis dari luar dan tersebar pada sekitar 40 di-ving operator yang ada. Akumulasi jumlah dive guide ditambah turis yang melakukan penyelaman se-tiap kali berkunjung perwaktu ti-nggal rata-rata 15 kali aktifitas pe-nyelaman total menghasilkan 110.000-225.000 kali penyelaman pertahun jika dibagi merata pada 120 spot yang ada berarti terdapat sekitar 2.000 penyelam/lokasi/tahun, masih di bawah rekomen-dasi daya dukung (carrying capa-city) sebesar minimum 4.000 pe-nyelam/lokasi/tahun (Devantier-Turak, 2004). Tetapi, kenyataan-nya jumlah ini tidak merata pada 120 dives spot yang ada. Dengan alasan akses, logistik-ekonomi, safety dan alasan lain yang cende-rung untuk mereduksi biaya ope-rasional menjadikan kesatuan ekosistem pulau kecil seperti Bu-naken selalu menjadi sasaran wi-sata hingga melebihi daya dukung ekologi (ini belum termasuk perhi-tungan daya dukung di pulau/da-ratan). Pernah diamati terdapat 6 perahu secara bersamaan dalam satu lokasi dive spot (Tawara) yang bersebelahan dengan zona inti konservasi. Katakanlah terdapat minimum 4 diver/perahu berarti terdapat 24 diver dalam satu loka-si dan ini melebihi angka maksi-mum carrying capacity sebesar 16 orang (6000/360 hari). Belum lagi jika salah satu perahu dimuati ke-lompok snorkeler dalam jumlah banyak seperti yang selalu terlihat secara bersamaan, maksimum 30 orang dalam satu perahu. Lokasi ini menjadi ramai seperti pasar ataupun pameran dan jelas mem-beri tekanan/gangguan hebat pa-da organisme penghuni terumbu. Karenanya tidak mengherankan jika pada saat tertentu sepanjang tahun apalagi diwaktu libur, ku-antitas penyelam/snorkeler ber-tambah namun kualitas baik dari penyajian wisata maupun nilai-fungsi ekologi obyek tersebut me-nurun.
Berbagai penelitian dengan hasil yang signifikan membukti-kan di mana kuantitas penyelam bertambah diikuti penurunan kualitas ekosistem. Hawkins-Roberts (1993) menghitung lebih dari 50,000 penyelaman pada satu lokasi setiap tahunnya di dekat Sharm-el-Sheikh meningkat kerusakannya seiring dengan pengembangan pariwisata yang didukung pemerintah Mesir.
Penelitian Dixon, et al (1993) mengestimasi batasan toleransi sebanyak 5000 kali penyela-man pertahun di Bonaire. Pene-litian lainnya (Harriot, et al 1997) mengidentifikasi kerusa-kan terumbu yang lebih utama disebabkan oleh tingkat penga-laman penyelam. Di Sulut, ke-cenderungan melewati batas da-ya dukung yang bisa ditolerir suatu ekosistem telah nyata terlihat.(bersambung)
|
|