CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

12 April 2007

Mengantisipasi ‘Mass Diving Tourism’ Industri Pariwisata Sulut(1)
Oleh: JR Pahlano Daud

 IKUTI BERITA LAIN

Paskah, Solidaritas Allah dan Pembebasan Manusia(2)

SURAT PEMBACA

Torang Samua (Memang) Basudara

 COMMENTAREN

Menyorot Anggaran Sarundajang-Sualang


Mau dibawa kemana pembangunan pariwisata Sulut? mengandalkan wisata bahari pada ekosistem alam, sumberdaya potensial sekaligus ‘fragile’ rentan oleh eksploitasi/aktifitas manusia. Diperlukan pembenahan orientasi ‘ekonomi’ ke ekologi, perubahan ‘diving system’ dengan meng-instal kombinasi beberapa modul baru sebagai fungsi DAD (Diver Aggregation Devices). 


Dengan demikian tekanan tu-ris/penyelam pada terumbu alami bisa dibatasi sekaligus mengan-tisipasi kecenderungan konsep pembangunan yang ada saat ini: mass tourism ke arah eco tourism.
‘Diving’ atau aktifitas menyelam telah menjadi ‘booming’ bagi sek-tor pariwisata. Perekonomian ber-bagai negara yang memiliki garis pantai-terumbu saat ini sangat bergantung pada banyaknya jum-lah penyelam rekreasi (recreati-onal diver). Keuntungan yang di-dapat dari wisata bawah air meru-pakan sektor utama pendapatan pada beberapa negara tropis. Mi-salnya jumlah turis Jerman yang menyewa hanya satu pesawat di awal tahun 1990-an sekurang-ku-rangnya telah memberikan keun-tungan sebesar 25 persen dari GNP Maldives. Tidak mengheran-kan terdapat ketergantungan ‘SCUBA dollars’ dari beberapa ne-gara tujuan diving termasuk Indo-nesia. Perkembangan pariwisata khususnya pada ekosistem pesisir laut merupakan industri terbesar yang berkembang pesat di planet ini. WTO (2002) mengestimasi pendapatan sektor ini sekitar 25 persen dari total ekspor negara-negara sekitar Pasifik (pasific rim) dan lebih 35 persen khusus un-tuk kepulauan Karibia. Belum se-optimal Karibia yang sebenarnya rendah dalam nilai keanekara-gaman hayati, pariwisata bahari Indonesia diestimasi memberi ke-untungan setiap tahunnya sebe-sar 1,6 miliar dolar. Seiring de-ngan program pemerintah lewat WOS 2009 dan tahun Pariwisata 2010 yang diharapkan memberi keuntungan multiplier effect bagi masyarakat, sektor ini terlihat bergeliat mempersiapkan diri de-ngan bertumpu pada pariwisata bahari. Namun, kearah mana pembangunan pariwisata ini se-harusnya di arahkan? Siapa yang akan diuntungkan? 
Pariwisata wilayah pesisir laut bersumber pada nilai ekologi ke-ragaman hayati karena semakin tinggi keanekaragaman (biodiver-sity) akan semakin tinggi daya jual-nya. Sulawesi Utara yang terletak strategis di wilayah ‘Wallacea’ dan merupakan pusat dari wilayah ‘Coral Triangle’ memiliki keunikan tersendiri dalam potensi keaneka-ragaman laut. Sebut saja TN Bu-naken, selat Lembeh, pulau Tiga, sepanjang pesisir Bolmong, seme-nanjung Minahasa sampai di ke-pulauan Sangihe dan Talaud. Ke-anekaragaman, keunikan dan keindahan lingkungan alam tro-pis inilah yang menjadi sumber-daya potensial penting-modal le-bih yang dimiliki dibanding dae-rah/negara lain sekaligus menjadi tanggungjawab besar kita untuk mengelolanya secara lestari ber-kelanjutan. 
Kuantitas Merubah Kualitas
Pariwisata berbasis lingkungan alam (pariwisata bahari) dikelom-pokkan dalam jenis wisata minat khusus yang aktivitasnya berkai-tan dengan kelautan, baik yang dilakukan di atas permukaan ma-upun di bawah permukaan laut. Sampai saat ini pemberian sertifi-kat selam oleh berbagai organisa-si selam dunia meningkat sangat pesat. Berarti pasar wisata selam ‘expand’ mengalami pertumbu-han. Hal yang menarik turis memi-nati objek wisata bawah air teruta-ma adalah keindahan panorama bawah laut lewat aktivitas snorke-ling, diving ataupun glass sub bot-tom. Namun, jangan dikira akti-fitas ini tidak memberi efek nega-tif terhadap obyek wisata yang di-kunjungi. Banyak penelitian yang menunjukan hal tersebut dan United Nation Environment Pro-gramme (UNEP 2003) telah mengi-dentifikasi fakta-fakta umum ba-gaimana pariwisata-aktifitas re-kreasi memberi dampak negatif yang beragam terhadap lingku-ngan dan sumberdaya alam.
Ketika manusia sadar, penasa-ran dan tertarik akan keberadaan dunia bawah air maka peralatan selam seperti SCUBA akan dilirik-nya, yang tentunya membawa ke-untungan bagi pengembang dan penjual jasa dibidang ini. Dewasa ini, kurang disadari bahwa leda-kan wisata selam sebenarnya te-lah mengakibatkan tekanan berat pada ekosistem coral dan ekosis-tem sekitarnya, langsung lewat kontak fisik terutama berhubu-ngan dengan kemahiran selam ‘buoyancy control’ (keseimbangan tubuh dalam air). Penyelam/snor-keler dapat menginjak, menyen-tuh dan mematahkan coral, me-ngganggu/mengangkat sediment tempat hidup organisme, mem-beri dampak pada dinding terum-bu lewat ‘bubbles’, ‘harrasment’ pada organisme yang langka sam-pai pada banyaknya jumlah ‘flash’ dari underwater camera; mengo-leksi, memanah ikan untuk kese-nangan serta tak bertanggung-jawab terhadap kebersihan tem-pat penyelaman. Lewat berbagai fasilitas pendukungnya, dari pe-ngoperasian perahu sampai pada resort, pembangunan fasilitas wi-sata selalu diikuti dengan mening-katnya aktifitas transportasi (hilir-mudik perahu motor, pelemparan jangkar yang sembarangan) seca-ra langsung mempengaruhi kebia-saan/kelakuan organisme laut. Secara tidak langsung namun pasti sedimentasi, polusi dan pe-nyuburan nutrient yang dihasil-kan mempengaruhi organisme dan keseluruhan ekosistem. Be-lum lagi komplikasi tekanan yang umum diketahui bersumber dari tempat lain seperti pencemaran, sampah, masukan sedimen lewat aliran-aliran air/sungai, peneba-ngan hutan/mangrove serta kegi-atan penggalian dan reklamasi; aktifitas penangkapan ikan yang merusak (dinamit dan sianida) dan penambangan karang/coral yang nyata memusnahkan terum-bu. Terdapat pula sebab-akibat dari proses ekologi yang lebih kom-pleks hingga menimbulkan gejala kerusakan lainnya mulai dari pe-manasan global, pemutihan coral, melimpahnya pumparade atau ‘crown of thorn starfish’ (hewan pemakan coral) sampai mening-katnya organisme agen bioerosi yang mematikan coral. 
Terumbu coral dunia saat ini be-rada dalam krisis (Nature, 2004; IUCN 2006). Tingginya ketergan-tungan terhadap sumberdaya laut menyebabkan terjadi eksploitasi besar-besaran terutama yang ber-dekatan dengan pemukiman pen-duduk. Aktifitas manusia menga-ncam 88 persen terumbu di Asia Tenggara yang memiliki ekosistem pesisir terbaik dunia, mengancam nilai bio-ekologi dan ekonomi penting bagi masyarakat. Dari 50.875 km2 terumbu coral di Indo-nesia, hanya 5 persen saja memi-liki kondisi yang sangat baik. Kon-disi dan status terumbu karang Indonesia saat ini terancam rusak parah, mengalami degradasi di hampir semua kepulauan dan da-lam resiko punah. Ironisnya, ba-nyak daerah tujuan wisata bahari tidak berdaya dan masa bodoh de-ngan masalah ini. Pada saat siklus perkembangan pariwisata berada di puncaknya dalam meraih keun-tungan, permasalahan ini sering diabaikan dan dilupakan.
Meskipun pendidikan mengenai lingkungan perairan dari para pe-nyelam rekreasi (recreational di-ver) meningkat dan ‘wajib’ bagian dari kursus pelatihan selam, pe-nambahan pelampung ‘buoy’ un-tuk mengurangi dampak pelem-paran jangkar perahu dan pro-gram-program penyadaran telah diketahui namun tetap ancaman dan tekanan terhadap ekosistem pesisir meningkat seiring bertam-bahnya jumlah turis. Secara um-um, sasaran wisata selam relatif hanya mencakup areal yang kecil di sepanjang pantai-terumbu. Di-ving-diving spot ini menarik dan atraktif karena memiliki karakte-ristik tersendiri. Saat ini terdapat kurang lebih 120 spot yang terse-bar di Sulut dan sekitar 60 persen berpusat di TN Bunaken dan selat Lembeh. Pulau Bunaken sendiri memiliki spot terbanyak berjum-lah 16 spot. Setiap tahun rata-ra-ta dikunjungi 9000 turis dari luar dan tersebar pada sekitar 40 di-ving operator yang ada. Akumulasi jumlah dive guide ditambah turis yang melakukan penyelaman se-tiap kali berkunjung perwaktu ti-nggal rata-rata 15 kali aktifitas pe-nyelaman total menghasilkan 110.000-225.000 kali penyelaman pertahun jika dibagi merata pada 120 spot yang ada berarti terdapat sekitar 2.000 penyelam/lokasi/tahun, masih di bawah rekomen-dasi daya dukung (carrying capa-city) sebesar minimum 4.000 pe-nyelam/lokasi/tahun (Devantier-Turak, 2004). Tetapi, kenyataan-nya jumlah ini tidak merata pada 120 dives spot yang ada. Dengan alasan akses, logistik-ekonomi, safety dan alasan lain yang cende-rung untuk mereduksi biaya ope-rasional menjadikan kesatuan ekosistem pulau kecil seperti Bu-naken selalu menjadi sasaran wi-sata hingga melebihi daya dukung ekologi (ini belum termasuk perhi-tungan daya dukung di pulau/da-ratan). Pernah diamati terdapat 6 perahu secara bersamaan dalam satu lokasi dive spot (Tawara) yang bersebelahan dengan zona inti konservasi. Katakanlah terdapat minimum 4 diver/perahu berarti terdapat 24 diver dalam satu loka-si dan ini melebihi angka maksi-mum carrying capacity sebesar 16 orang (6000/360 hari). Belum lagi jika salah satu perahu dimuati ke-lompok snorkeler dalam jumlah banyak seperti yang selalu terlihat secara bersamaan, maksimum 30 orang dalam satu perahu. Lokasi ini menjadi ramai seperti pasar ataupun pameran dan jelas mem-beri tekanan/gangguan hebat pa-da organisme penghuni terumbu. Karenanya tidak mengherankan jika pada saat tertentu sepanjang tahun apalagi diwaktu libur, ku-antitas penyelam/snorkeler ber-tambah namun kualitas baik dari penyajian wisata maupun nilai-fungsi ekologi obyek tersebut me-nurun. 
Berbagai penelitian dengan hasil yang signifikan membukti-kan di mana kuantitas penyelam bertambah diikuti penurunan kualitas ekosistem. Hawkins-Roberts (1993) menghitung lebih dari 50,000 penyelaman pada satu lokasi setiap tahunnya di dekat Sharm-el-Sheikh meningkat kerusakannya seiring dengan pengembangan pariwisata yang didukung pemerintah Mesir. 
Penelitian Dixon, et al (1993) mengestimasi batasan toleransi sebanyak 5000 kali penyela-man pertahun di Bonaire. Pene-litian lainnya (Harriot, et al 1997) mengidentifikasi kerusa-kan terumbu yang lebih utama disebabkan oleh tingkat penga-laman penyelam. Di Sulut, ke-cenderungan melewati batas da-ya dukung yang bisa ditolerir suatu ekosistem telah nyata terlihat.(bersambung) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin