|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Panggung Politik |
12 April 2007
|
|
Ir Freddy Lasut MM
Rindu Mengabdi di Negeri Sendiri, Siap ke Panggung Pilkada
|
NADA bicaranya lantang dan tegas, namun tak jarang berbumbu guyonan berkelas. Tutur katanya sistematis dan bernas, tapi tak sulit untuk dicerna. Tak heran memang, sebab pria satu ini terbilang sudah malang-melintang di berbagai bidang kehidupan di banyak negeri di hampir seluruh belahan dunia. Hasilnya, dia kini rindu mengabdi di daerah sendiri, di leluhurnya, Sulawesi Utara, khususnya Tanah Minahasa.
Kerinduan ‘mengabdi di negeri sendiri’ itu bahkan sudah mulai dirintisnya sejak beberapa waktu lalu. Niat itu diaplikasikan lewat sebuah bidang usaha yang misinya ‘lebih dimaksudkan untuk menopang ke-hidupan rakyat di kawasan-kawasan pesisir Sulut’. Toch, Ir Freddy Lasut MM (begitu nama lengkapnya) memilih merendah ketika usaha yang dirintisnya dengan dukungan sejumlah armada laut, ditanyakan. Alasan dia, “Itu kan baru dimulai. Yang pen-ting bisa membantu rakyat. Ya, prinsipnya win-win solutionlah,” tukasnya datar.
Bagi Bung Freddy (begitu panggilan akrabnya), apa yang dirintisnya itu (disamping usaha lain-nya yang ditekuninya selama ini, seperti bidang properti), merupakan sa-lah satu bentuk aplikasi ‘pe-ngalaman dan sukses yang direngkuhnya’ setelah ke-nyang ‘melihat dunia’ secara faktual, plus ke-rinduan melihat saudara-saudara di negeri sendiri dapat terpacu untuk bersama-sama mengejar kemajuan.
Sebab, menurutnya, “Sulawesi Utara umumnya dan Tanah Minahasa khususnya, memiliki potensi sumber daya alam yang sangat luar biasa. Menjadi tang-gungjawab semua anak negeri untuk mengolahnya secara pro-fesional agar bisa memberi kese-jahteraan.” Untuk itu, dibutuh-kan bukan saja kerja keras dan kesamaan komitmen pada se-mua anak negeri, tapi juga mesti dipacu dan digerakkan oleh pe-mimpin-pemimpin yang men-jalankan panggilan pengabdian-nya itu dengan baik, benar, pro-fesional dan berdayaguna tinggi. “Apalagi pada dasarnya, orang Sulut umumnya, termasuk anak-anak Minahasa dikarunia berkat smart atau kecerdasan,” tambah Putra Tombulu, kelahi-ran Makassar, 3 Agustus 1958 ini.
Memang, saat berbincang-bincang dengan Bung Freddy (awal pekan ini di Manado), kesan ‘sangat greget’ untuk ‘ber-buat sesuatu bagi daerah sendiri’ menyembul kuat. Tangannya sering terkepal ‘bergetar’ kala me-maparkan buah-buah pikiran-nya, meski masih secara makro. Di mata pria yang sudah menge-lilingi dunia ini, ada begitu ba-nyak yang menurutnya bisa dila-kukan oleh pemimpin daerah di Sulut umumnya, dan Tanah Minahasa khususnya, guna menggapai kemajuan. “Ya, kare-na itu tadi, adanya potensi sum-berdaya alam yang sangat besar yang dimiliki daerah ini,” tandasnya lagi.
Freddy lantas menunjuk con-toh pengembangan bidang agro-industri dan agribisnis. Dalam amatannya, berbagai potensi yang ada belum secara optimal digali dan didayagunakan seba-gai modal pembangunan menu-ju masa depan lebih baik. Proses sistemik dari pemanfaatan raw-material, processing (termasuk man, method, machine), hingga finishing-good serta penguasaan market dengan dukungan sales-force yang profesional, belum sepenuhnya terpalikasi sehingga belum memberi hasil optimal.
Dan sistem itu, mestinya ‘dida-ratkan’ hingga menjadi ‘komit-men membudaya’ di tengah rak-yat. “Ini penting dengan juga tetap berpegang pada prinsip tidak bersikap sewenang-wenang dalam hal pemanfaatan potensi sumber daya alam agar tak me-rugikan bagi kehidupan di masa datang,” tambah dia. “Karena itu, untuk mendukungnya, sek-tor pendidikan harus mendapat prioritas paling tinggi dengan dukungan anggaran lebih be-sar,” tegasnya. Apalagi sebe-tulnya, garis-garis besar haluan negara sudah dengan trans-paran memberi amanat pen-tingnya memberikan alokasi dana minimal 20 persen untuk sektor pendidikan. “Bila rakyat makin berpendidikan, plus perut senantiasa tercukupi, pasti akan melahirkan insan-insan yang mampu berpikir bagus dan bekerja fokus bagi pencapaian kemajuan dan kesejahteraan,” tukasnya lagi.
Baginya, langkah besar perlu diambil dan diaplikasikan pe-mimpin daerah ke depan. Misi yang mesti ditanamkan menjadi sebuah komitmen adalah agar tidak sampai terjadi, suatu hari nanti warga negeri sendiri menjadi laksana tamu di ru-mahnya. “Contohnya seperti ini banyak terjadi di sejumlah daerah dan negara. Warga asli pada akhirnya tersisih ke ping-giran karena terlambat meng-antisipasi keadaan dengan me-maksimalkan seluruh kemam-puan untuk mengelola keka-yaan negerinya sendiri,” ujar kakak kandung dr Elly Lasut yang kini dipercayakan sebagai Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud.
Freddy memang adalah sosok dengan performance yang matang dan visioner, terlebih dalam menyikapi kekinian dan hari esok Sulut umumnya, dan Minahasa khususnya. Tak he-ran bila namanya juga mulai dielus untuk tampil di panggung pemilihan kepala daerah (Pilkada) Minahasa. Respons Freddy? “Bila rakyat mendukung dan elit partai politik memberi restu, tentu saja saya siap mem-beri diri untuk kemajuan dae-rah,” katanya diplomatis.
Untuk itu, Freddy mengaku, dirinya siap melakukan ‘sharing politik’ sekaligus siap bekerja-sama dalam banyak hal bersama elit atau pun kandidat yang di-unggulkan rakyat. “Pendeknya, kalau untuk masa depan rakyat, saya akan siap,” tandasnya mantap. “Kendati pilkada dan jabatan eksekutif bukan satu-satunya medan pengabdian bagi negeri sendiri, namun sebagai Putra Minahasa, setiap restu dari rakyat harus mampu kita em-ban dan apresiasikan sebagai pertanggungjawaban moral sekaligus kerinduan melihat negeri ini jadi lebih maju dan se-jahtera,” tambahnya.(landy)
|
|