|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
16 April 2007
|
|
Ditemukan kuburan dan ruangan mirip sel di Kampus IPDN
Kaloh: Rontgen Dada Praja Junior
|
Sejumlah gebrakan terus dilakukan Plt Rektor IPDN, Dr Johanis Kaloh. Setelah membekukan organisasi kema-hasiswaan para praja, kini mantan Sekprop Sulut itu meminta agar dada para praja junior yang tengah mengikuti pendidikan di Kampus IPDN dirontgen. Selain itu, darah dan urine mereka juga akan diperiksa.
“Kita akan foto dadanya, apakah ada retak-retak. Kita tes juga darahnya, tes juga urinenya. Secepatnya itu akan dilakukan,” ungkap Ka-loh di Kampus IPDN, Jatina-ngor, Sumedang, Jawa Barat, Minggu (15/04).
“Saat ini kami sedang ber-koordinasi dengan Dinas Ke-sehatan, bagaimana teknis pemeriksaan para praja. Karena ini jumlahnya sangat besar, sekitar 5.000 orang,” kata Kaloh.
Pemeriksaan akan dilakukan terhadap praja tingkat I-III saja. Sementara praja tingkat IV tidak perlu diperiksa, karena ti-dak mengalami kekerasan dari seniornya. “Praja tingkat IV ti-dak dilakukan tes itu, sebab mereka tidak mengenal senior. Karena kampusnya di IIP Ja-karta,” tandas Kaloh.
Sementara itu, penemuan kuburan dan ruangan mirip sel di dalam kampus IPDN, sempat menghebohkan. Kaloh pun langsung meninjau ku-buran dan ruangan berterali besi tersebut. Kabid Keroha-nian IPDN, Ahmad Marzuki pun langsung ditanyai Kaloh soal makam tersebut.
“Itu semua makam orang tua dosen dan dosen. Ada ju-ga makam tua milik pendu-duk. Demi Allah, tidak ada satu pun praja yang dima-kamkan di sini,” ujar Ahmad ketika menjawab pertanyaan Kaloh, saat mendatangi lokasi kuburan di kompleks IPDN.
Ahmad menjelaskan, jumlah kuburan seluruhnya ada enam. Perinciannya adalah 5 kuburan dewasa dan 1 ku-buran bayi. Kelima kuburan dewasa tersebut merupakan kuburan dosen dan orangtua dosen. “Sedangkan kuburan bayi itu kuburan anak saya,” kata dia. Sedangkan dua ku-buran lainnya tidak diketahui namanya. Lokasi kuburan itu sangat tersembunyi, berada di bukit belakang klinik IPDN dan masih dalam area kom-pleks. Untuk menuju ke lokasi harus melalui jalan setapak yang dipenuhi rumput ilalang.
Di sisi lain, Kaloh juga me-lihat dari dekat sebuah ruang-an kecil di Kantor Pengendali Keamanan IPDN. “Saya ingin terbuka, makanya saya data-ngi klinik, makam yang diang-gap misterius dan sekarang ke ruangan ini,” ujar Kaloh seperti dilansir detik.com. Ruangan misterius itu berada di dalam Kantor Pengendali Keamanan IPDN yang terletak di depan gerbang sebelah kiri IPDN. Ruangan berukuran 2 x 4 meter, dinding bercat putih.
Memang mirip sel tahanan, soalnya ada pintu jeruji, dan jendelanya pun memakai jeruji besi. Di dalamnya ada dua kasur busa tanpa sprei, tumpukan kertas, lima buah kardus, meja, lemari kecil. Ruangan ini bersih, tidak lem-bab dan berlantai keramik.
Menurut Kepala Bagian Ke-satrian IPDN Murdyana, sejak dia masuk ke IPDN pada ta-hun 1991 dan mulai menja-bat sebagai Kabag Kesatrian IPDN pada tahun 2007, ruangan ini sudah ada. “Tapi saya tidak pernah mendapat kabar ruang ini dipakai seba-gai tahanan bagi pelajar yang melakukan pelanggaran,” kata dia sambil menunjuk isi ruang tersebut.
Selama ini ruang tersebut digunakan sebagai gudang penyimpanan dan kadang juga sebagai tempat tidur. “Kami juga sering melakukan shalat di sana,” ujarnya.
Di luar ruangan itu ada se-buah mesin tik tua. Wartawan pun iseng bertanya, apakah mesin tik itu untuk membuat BAP. “Bukan, ini buat menge-tik jadwal pengamanan,” kilahnya. Sementara itu Ka-subag Pengamanan Dalam IPDN, Ashari mengatakan, tiap harinya ada sekitar 90 petugas pengamanan dalam yang bertugas 24 jam meng-amankan IPDN. Luas kampus IPDN sekitar 280 hektar yang terdiri dari 80 hektar bangun-an fisik dan sisanya lapangan terbuka. Di lingkungan kam-pus ada sekitar 16 pos pe-ngendali keamanan yang di-jaga 2-4 penjaga yang terbagi dalam 2 giliran (shift).
“Tindakan kriminal yang dilakukan oleh praja seperti pencurian bukan kami yang menangani, yang menangani langsung dari bagian penga-suh, pengamanan dalam hanya untuk mengamankan wilayah,” ujar Ashari.
PRESIDEN SBY
Dari Bogor, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menginstruksikan IPDN membuka akses seluas-luas-nya bagi tim evaluasi penye-lenggaraan pendidikan IPDN. Jangan ada lagi gerakan tu-tup mulut di sekolah calon pa-mong praja itu. “Buka akses seluas-luasnya. Jangan ada lagi GTM (Gerakan Tutup Mu-lut),” cetus SBY usai makan durian di Perkebunan Durian Cihideung, Desa Cipelang, Ciawi, Bogor, Minggu (15/04).
Tim yang dipimpin Ryaas Rasyid ini akan “menyatroni” Kampus IPDN Jatinangor mulai Senin, 16 April 2007. Dalam 2 bulan, tim ini harus memberikan laporan evaluasi sistem pendidikan kedinasan di bawah Depdagri ini. Untuk itu, dalam proses kerja yang berlangsung selama 2 bulan itu, presiden meminta masya-rakat dan pihak-pihak yang concern dengan IPDN bersi-kap objektif. Tidak tepat jika keterangan-keterangan yang masih bersifat sementara sudah dikomentari terlebih dahulu.
Laporan tim evaluasi itu juga akan menentukan set up baru IPDN. Namun pemerintah ma-sih harus menunggu sampai dua bulan ke depan.
Terkait dengan desakan pembubaran lembaga pendi-dikan ini, presiden minta agar dipikirkan secara masak-masak. Pemerintah harus mempertimbangkan nasib 4.653 praja yang kini sedang menempuh pendidikan seba-gai calon pamong. “Mungkin itu pandangan penuh emosi. Mari kita pikirkan secara ra-sional. Kalau kita tutup, ba-gaimana nasib praja yang kini sedang digodok di sana. Paling tidak, mari kita kawal sampai pendidikannya selesai di sana,” kata SBY.(dtc/zal)
|
|