|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Pendidikan dan Budaya |
16 April 2007
|
|
Diharapkan kedepankan kejujuran
Mantiri: Sistem Pangawasan Silang Jangan Kolusi!
|
Sistem pengawasan silang setidaknya masih menimbulkan keraguan di kalangan Pemerhati Pendidikan Sulut. Pasalnya, informasi berkembang terakhir bahwa sebelum para guru turun mengawasi, mereka sudah diberikan ‘arahan’ untuk membantu siswa jika mengalami kesulitan pengisian soal Ujian Nasional.
“Informasi ini harus diseriu-si, meski belum dipastikan kebenarannya. Sebab ada sinyalemen berkembang, para pengawas yakni guru-guru yang ditugaskan mengawasi secara silang sudah diberikan ‘arahan’ agar membantu siswa jika mengalami kesuli-tan. Kami berharap jangan ada kolusi untuk membantu siswa saat Unas, sebab ini sama saja menghancurkan masa depan anak-anak kita,” kata Pemerhati Pendidikan Sulut, Ir Maurits Mantiri kepada Komentar, Minggu (15/04) kemarin.
Dikategorikan kolusi lanjut Mantiri, sebab hal itu disi-nyalir sudah disepakati ber-sama, sehingga dikhawatir-kan lulusan nanti tidak ber-kompetensi dan tidak ber-mutu. “Biarkan anak didik itu mandiri, berusaha sendiri saat mengisi soal, mereka kan sudah dibekali sebelum Unas. Apalagi ada Pra-Unas, buat apa kita khawatir. Kalau toh gagal nanti, tak perlu di-risaukan, sebab kegagalan bukan akhir dari segalanya,” tandasnya.
Sementara Mantiri mengim-bau agar Tim Pemantau Independen (TPI) Unas Sulut mengkritisi hal tersebut di lapangan. “Kami menaruh harapan besar kepada TPI-Unas. Jika mau kita men-dapatkan lulusan yang ber-kualitas lakukan pemantauan yang independen dan sesuai fakta di lapangan. Jangan sampai terjadi kolusi ber-sama, antara pengawas silang, dan TPI serta sekolah penyelenggara. Jika ini terjadi, maka hal itu sangat membahayakan dunia pen-didikan Sulut,” tegasnya.
Sementara, Wakadis Diknas Sulut Drs Arnold Poli SH saat dikonfirmasi membantah jika ada arahan kepada pengawas silang untuk membantu siswa. “Tidak ada arahan apalagi perintah membantu siswa saat Unas. Yang di-arahkan adalah bagaimana mereka mengawasi jujur di lapangan. Lulus 100 persen bukan tujuan pendidikan Sulut. Tetapi alangkah in-dahnya jika lulus kualitas dibarengi kuantitas,” pung-kasnya.(irv)
|
|