|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
17 April 2007
|
|
Giroth bantah perintahkan penyuntikan formalin
Tim Evaluasi Datang, Para Praja dan Dosen IPDN Bungkam
|
TIM evaluasi IPDN yang dipimpin Ryaas Rasyid mulai action, kemarin (16/04). Selama 2-3 hari, Ryaas cs akan berada di kampus tersebut. Namun begitu, tantangan bakal dihadapi tim ini. Pasalnya, tidak hanya praja-praja IPDN yang memilih mengunci bibir saat ditanya seputar kekerasan di kampus pencetak aparatur negara itu. Staf rektorat, dosen, hingga pengasuh IPDN pun bungkam ketika Tim Evaluasi bentukan Presiden SBY ber-tanya mengenai beberapa kasus kematian di IPDN.
“Dari semua yang hadir di sini,
apakah pernah melihat tin-dakan kekerasan yang dilaku-kan praja? Kalau melihat tayangan di televisi itu kan siang hari dan di lapangan terbuka. Mana mungkin se-mua di sini tidak pernah meli-hat. Sudah bertahun-tahun lho,” ujar Ketua Tim Evaluasi Ryaas Rasyid di depan rekto-rat, dosen, dan pengasuh di aula IPDN, Senin (16/04).
Mendengar pertanyaan itu, tidak ada satu pun dosen dan pengasuh yang jumlahnya lebih dari 30 orang menjawab. “Masa sih, kalian semua tidak pernah melihat. Praktiknya di lapangan terbuka lho! Wah bahaya ini,” lanjut Ryaas.
Sebelumnya, saat membuka rapat yang dipimpin oleh Ryaas dan didampingi Plt Rek-tor IPDN Johannis Kaloh dan Kepala Badan Diklat Depdagri Diah Anggraini, Ryaas mene-gaskan kepada para pejabat, dosen, dan pengasuh IPDN agar mau terbuka.
“Satu hal yang saya mohon, agar semua mau terbuka. Ka-lau Anda diam semua, lang-kah pertama sudah terancam gagal,” tegas Ryaas.
Dalam pertemuan tersebut, Ryaas juga mempertanyakan mengenai aturan yang mem-perbolehkan pembinaan praja senior kepada praja junior, namun tidak ada jawaban yang jelas mengenai hal itu. Purek III Bagian Keprajaan Indarto hanya mengatakan bahwa sejak 2003 terbit pu-tusan Mendagri yang mela-rang adanya pembinaan oleh senior ke junior. Dalam aturan itu juga ada larangan body contact.
“Jadi meski sudah terbit aturan larangan pembinaan senior ke junior, masih saja ada kekerasan? Kenapa bisa? Saya tidak habis mengerti. Apakah aturan itu disosialisa-sikan kepada para praja,” tanya Ryaas. Indarto menje-laskan bahwa aturan tersebut telah disosialisasikan kepada kalangan praja setiap apel dan memasang papan peng-umuman di setiap tempat. Namun Indarto tidak bisa me-nerangkan alasan mengapa tindak kekerasan masih kerap terjadi di kalangan praja hingga menyebabkan kematian.
GIROTH
Pada bagian lain, Dekan Fa-kultas Manajemen dan Ilmu Politik IPDN, Lexie M Giroth membantah memerintahkan penyuntikan formalin ke jenazah Cliff Muntu. Dia me-ngaku tidak mengenal Iyeng Sopandi, tersangka penyun-tikan formalin ke jenazah praja yang tewas akibat dianiaya seniornya itu.
“Saya tidak mengenal dia. Saya tidak mengobrol seperti ini dan tidak pernah meme-rintahkan,” kata Lexie. Dia mengaku tidak tahu soal penyuntikan formalin pada jasad Cliff. “Kalau saya tahu, pasti saya akan persoalkan,” ujar Lexie. Menurut Lexie, yang mengetahui penyun-tikan formalin itu bagian medis. Dirinya hanya diperin-tahkan oleh Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi untuk membawa jenazah Cliff ke daerahnya ke Manado, Su-lawesi Utara.
Dia mengetahui kematian Cliff setelah ditelepon anak bimbingnya. Lalu dia menele-pon pengasuh piket untuk se-gera mengabarkan ke Rektor IPDN. Setelah itu, Rektor IPDN meneleponnya untuk mengurus jenazah Cliff. Awalnya, Lexie menolak karena itu bukan kewenang-annya. Setelah itu, Lexie ke RS bersama dengan dua pengasuh piket dan dua praja serta pendeta untuk meng-urus jenazah Cliff.
Ketika di RS, dia mengaku disodori oleh Iyeng Sopandi sebuah blanko kosong. “Ka-rena itu dikatakan syarat, ya sudah, saya tanda tangani saja,” ujarnya.
Kapolda Jabar Irjen Pol Soenarko sebelumnya menga-takan, berdasarkan penga-kuan Iyeng Sopandi, dia ditelepon LMG (Lexie) untuk menyuntikkan formalin ke tubuh Cliff. Keterangan Soenarko ini berbeda dengan keterangan Lexie. (dtc/*)
|
|