|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Bolamania dan Tribun |
17 April 2007
|
|
Pelatih Persegi Bali FC, Made Sonny K Wiarda
Persma Tunjukkan Peningkatan
|
|
|
|
|
|
Tribun
Olahraga, 17 April 2007
|
|
|
|
|
KEKALAHAN yang diderita ‘Kuda Jingkrak’ atas Persibom Bolaang Mongondow, tak melecutkan motivasi Persegi Bali FC, ketika akan menantang Persma Manado, Rabu (18/04) nanti. Bahkan, Pelatih Persegi Bali FC, Made Sonny K Wiarda mengaku sempat mengikuti perkembangan Persma Manado.
“Saya sempat mengikuti perkembangan Persma. Dan sampai sejauh ini, para pemain Persma sudah menunjukkan peningkatan,” aku Wiarda, yang ditemui harian ini di Hotel Grand Centrel, yang merupakan home base Persegi Bali FC.
Pergerakkan pemain dan strategi apa yang akan diterapkan, pasti diketahui sang pelatih yang menukangi Persegi sejak masih berada di divisi II. Oleh karenanya, menurut Wiarda, pemain Persegi harus lebih lagi mengoptimalkan kerjasama.
Syukurlah, kata Wiarda, saat lawan Persibom dua pemain inti Persegi tak bisa merumput karena cedera dan sakit. Tapi saat lawan Persma, semua pemain yang dibawa pada tur kali ini telah siap tanding. “Kami ingin meraih poin saat lawan Persma. Tapi hal itu tak mudah yang terpenting anak-anak berusaha untuk bermain bagus sehingga target poin bisa capai,” kunci Wiarda.
KARENA EMPAT FAKTOR
Sementara itu, dengan gentle pelatih Persegi Bali FC, Made K Wiarda mengungkapkan kekalahan atas Persibom terjadi karena empat faktor penyebabnya.
“Empat faktor itu yakni cuaca, wasit, penonton, dan kualitas pemain lokal. Memang dari empat faktor tersebut, yang paling menonjol yaitu kualitas pemain lokal yang dimiliki Persegi tak terlalu bagus,” beber K Wiarda.
“Waktu berlaga lawan Persibom, sebenarnya Persegi bisa mengimbanginya. Namun peluang demi peluang yang tercipta pada waktu itu, tak bisa dimanfaatkan oleh anak-anak,” papar Wiarda.
Diakui Wiarda, Persegi kebanyakan dihuni oleh pemain-pemain lokal, hal ini terkait dengan jumlah dana yang disediakan pihak manajemen yaitu Rp3 M. Karena itu untuk mengambil pemain asing tak sesuai dengan dana yang disediakan. “Para pemain Persegi rata-rata merupakan pemain-pemain dari daerah Bali, selain faktor dana yang tak memadai. Para pengurus juga, ingin membangun citra pemain lokal, supaya kita tak tergantung dengan pemain-pemain dari luar,” ungkap Wiarda.
“Memang masyarakat tak menuntut banyak setiap pertandingan Persegi, namun bukannya mereka (masyarakat, red) tak peduli tapi mereka lebih bisa menilai keberadaan tim Persegi,” kunci Wiarda.(tr-2)
|
|