|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Panggung Politik |
17 April 2007
|
|
Greetty Tielman
Rindu Bangun Minahasa, Tanpa Pamrih
|
NADA bicaranya lantang, mencerminkan sikap percaya diri. Kemauan kerasnya untuk melakukan sesuatu, sangat kental terasa saat berbicara seputar potret wajah Tanah Minahasa masa kini. Tapi, raut wajahnya bisa langsung terlihat resah kala mengupas persoalan ketertinggalan kemajuan sebagian rakyat, plus lambannya kemajuan di berbagai kawasan. Sukses di rantau, baginya, harus berarti sukses juga berbagi dan berbakti di negeri sendiri.
Begitulah sosok Greetty Tiel-man, wanita cantik dan enerjik yang kini dipercayakan sebagai Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Minahasa periode 2006-2008. Sebuah keperca-yaan yang baginya bukan ka-rena berburu sesuatu, misalnya karena mengincar jabatan po-litik. Sebab, menurutnya, dunia politik lebih sebagai respons atas restu rakyat sekaligus al-ternatif ‘akses’ untuk mengak-tualisasikan kerinduan berbuat sesuatu bagi daerah kelahiran-nya. “Kepercayaan dan restu rakyat (saat diusung ke pang-gung politik) tentu harus kita emban dengan penuh tang-gung jawab,” katanya saat ber-bicang-bincang dengan Komen-tar, di Manado, kemarin.
Sesungguhnya, dunia politik memang dahulunya bukan dunianya. “Tapi lewat politik kita bisa melakukan pengab-dian bagi daerah dan untuk ke-pentingan rakyat. Meski begitu, ladang pengabdian tentu tak hanya lewat panggung politik,” kata wanita kelahiran Manado, 11 November 1964 yang kini juga memangku jabatan Wakil Ketua Umum DPP Wanita Kos-goro (2006-2011).
Nama Greetty Tielman sendiri tak asing bagi komunitas warga Sulut. Sejak awal dekade 80-an, popularitasnya melambung lewat dunia olah vokal, diawali dengan album lagu Minahasa (Makaraw). Sukses itu dicapai berkat kolaborasi apik dengan saudara kembarnya, dikenal lewat sederet album Tielman Sisters. Sekitar 30 album de-ngan warna musik variatif (mu-lai dari yang berbahasa daerah, pop Manado, kolintang sampai musik bambu) membawa nama mereka dikenal sampai ke berbagai belahan dunia.
Greetty pun ikut melanglang buana hingga ke berbagai nega-ra. Banyak kenangan yang sulit terlupa dari kiprah berkesenian dan berkebudayaan dengan warna khas Minahasa yang di-rintisnya sejauh ini. Suatu hari, beberapa tahun lalu, di Was-hington, Amerika Serikat, tiba-tiba dia disapa seseorang. Ya, Greetty ternyata dikenali kare-na performace dan lagu-lagu-nya. “Gaung budaya Minahasa lewat berkesenian dan berkebu-dayaan itu ternyata membawa nama harum Minahasa sampai ke dunia luar,” kisahnya bangga.
Tapi, semua kebanggaan itu justru kmudian ikut menjadi pemicu kegelisahan, terutama setiap Greetty pulang kampung, menengok Tanah Minahasa. “Ya, saya ini kan Putri Tondano. Tiap tahun beberapa kali saya pulang menengok kampung ha-laman. Dan, tiap kali pula ada rasa resah, mengapa Minahasa yang begitu kita banggakan di mana-mana, kok belum juga mengalami kemajuan seperti diharapkan. Padahal negeri ini punya banyak potensi sumber-daya yang bisa dikembangkan untuk kemajuan dan kemak-muran rakyat,” ujarnya dengan nada bergetar.
Karena itu, kendati Greetty terbilang sudah sukses di ran-tau, dia selaku saja lekat de-ngan kehidupan tanah leluhur-nya. Bukan saja karena me-mang dia senantiasa berkun-jung, tapi juga karena keinginan kerasnya untuk melakukan sesuatu bagi saudara-saudara-nya sesama warga Minahasa. Keterpanggilan itu, sebetulnya sudah diaplikasikan sejak lama, termasuk lewat kegigihannya mengemban kepercayaan pada sejumlah organisasi berorien-tasi Minahasa.
Istri tercinta pakar lingkungan Ir Noeradhi Iskandar, MEng, salah seorang pejabat di Depar-temen PU, jebolan ITB dan mas-ter dari Kanada ini, adalah man-tan Ketua Umum Perkumpulan Pemuda Tondano (PPT), Jakarta (1994-1996). Dia juga dipercaya selaku Sekretaris Umum Ru-kun Toulour, Jakarta (2003-2008), Ketua Umum Rukun Ma-naesaan Ne’Wewelen, Jakarta (2006-2008), dan Bendahara Umum Ikatan Keluarga Besar Alumni Pioneer. “Memang mes-ki dahulu lebih banyak hidup di luar daerah (Sulut), tapi kami selalu ingin berbuat sesuatu untuk daerah,” tukas anak pasangan Wempie Tielman dan Geisye Lumanauw yang asli Tondano, tepatnya Desa Wewe-len, dan cucu dari pasangan Hendrik Lumanauw dan Saartje Palandeng.
Ibu dari Nadia Iskandar (11), Nandio Iskandar (9) dan Nan-dito Iskandar (5) juga aktif menjadi Ketua Komite Seko-lah anak-anaknya. “Pendi-dikan memang patut men-dapat perhatian prioritas, termasuk bagi warga Mi-nahasa, bila ingin me-ngejar kemajuan,” tukasnya.
Kalau sekarang, dia tengah dielus untuk maju ke panggung pemilihan kepala daerah (Pil-kada) Minahasa, bagi Greetty, ini juga bukan karena mengejar jabatan atau popularitas. “I ha-ve anything. Bagi saya, kese-diaan itu semata-mata karena kerinduan untuk melakukan sesuatu bagi rakyat Minahasa. Mumpung kita masih muda, kuat dan masih sang-gup melakukan kerja besar untuk masa depan daerah,” tandasnya. Bagi-nya, berbakti dan memba-ngun Minaha-sa jangan nanti setelah sudah tua dan pen-siun. Dan, untuk mengabdi, harus tan-pa pam-rih.
Keseriusannya itu juga di-tunjang sepenuhnya suami ter-cinta. “Kami selalu melakukan sharing, pengkajian dan ana-lisis, hanya karena ingin men-cari konsep terbaik untuk mem-bangun Minahasa,” tukasnya. Benang merahnya, ada tiga pi-lar utama pembangunan Mina-hasa, yakni, sosial-ekonomi ber-basis agro, pariwisata dan pe-mantapan infrastruktur. Hake-katnya, pembangunan mesti mencakup fisik, mental dan spiritual yang dila-kukan secara bersa-ma. “Saya percaya, kita Orang Mina-hasa bisa meng-gapai kemajuan bila semua ke-kuatan disatukan dengan saling bergandengan tangan,” tan-dasnya. Se-moga! (landy/daud)
|
|