|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
19 April 2007
|
|
Impian Calon Doktor itu Terkubur....
|
AKSI pembantaian 32 orang di Kampus Virginia Tech, turut menewaskan mahasiswa S3 asal Indonesia, Partahi Mamora Holomoan Lumbantoruan. Pe-merintah Amerika Serikat pun mengungkapkan rasa duka ci-tanya. Bela sungkawa itu di-sampaikan Kuasa Usaha Kedutaan Amerika Serikat John Heffern di sela-sela dialog In-donesia-Amerika Serikat bi-dang Pertahanan di Depar-temen Pertahanan, Jalan Me-dan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (18/04).
“Kami mewakili pemerintah Amerika Serikat turut berduka
cita atas mahasiswa Indo-nesia yang menjadi korban penembakan di Universitas Virginia Tech,” kata Heffern. Partahi merupakan mahasiswa Indonesia yang belajar di Uni-versitas Virginia Tech dengan biaya sendiri. Pria lajang ini semestinya akan menamatkan program doktornya bulan Mei 2007 mendatang.
Sementara itu, para pelayat terus berdatangan ke kedia-man keluarga Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan di Jalan Karsa, Medan, Rabu (18/04). Para pelayat juga melaku-kan kebaktian untuk mendoa-kan Mamora. Kebaktian itu dilaksanakan secara sederhana di dalam rumah, dipimpin se-orang pendeta. Sebagian besar pelayat duduk di kursi, namun sebagian ada juga yang ter-paksa berdiri, karena keter-batasan tempat. Namun tidak mengurangi kekhusukan.
“Kebaktian ini untuk men-doakan Mamora. Agar dia di-beri ketenangan, selain itu juga mendoakan agar keluarga selalu diberi ketabahan,” kata J Simanjuntak, salah satu pe-layat. Sementara itu, tante Ma-mora, Chistina Panjaitan me-ngatakan,
penembakan brutal di Uni-versitas Virginia Tech mengu-bur cita-cita Mamora yang ingin mengajar di universitas tempat dia menimba ilmu. “Rencananya dia mau menga-jar di sana di Virginia Tech Uni-versity. Waktu itu dia mene-lepon lagi mengurus domisili untuk tinggal di sana,” kata Christina sambil terus me-nangis. Perempuan itu menga-ku berhubungan via telepon dengan Partahi pada Oktober tahun 2006.
“Waktu itu dia telepon ke Ba-likpapan, saat saya sedang main ke sana. Dia telepon, ngomong sama saya, tante main ke Virginia, main sini dong,” kata Christina meniru-kan ucapan keponakannya. “Saya jawab nggak terpintas untuk main ke sana,” sahut Christina kepada Partahi kala itu. “Nantilah tiba saatnya Ina-nguda (tante) kalau saya mau kawin,” ujarnya.
Di mata Christina, Partahi keponakan yang baik dan tidak ada kelakuannya yang cacat. “Dulu waktu umur 1 tahun ibu kandungnya meninggal, saya dekat dengan dia. Terakhir ke-temu saat kuliah S1 di Ban-dung,” ujar Christina yang te-rus menciumi foto Partahi saat diwisuda.
Mamora sendiri dikenal seba-gai sosok pendiam oleh keluar-ga dan kerabat. Almarhum yang akrab disapa di rumah dengan panggilan Halomoan ini hanya akan berbicara banyak kepada orang yang terbilang dekat. Namun minat belajar-nya sejak kecil memang kuat. Dia sempat meraih Juara I lomba Matematika tingkat Sumatera Utara (Sumut). Mamora yang lahir pada 26 April 1972, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya adalah Letnan Kolonel (Purn) Toham Lumbantoruan. Ibu kandungnya sudah me-ninggal dunia. Sementara ibu tirinya, Letnan Kolonel (CPM) Ny. MF Sugiyarti bertugas di Puspom TNI di Jakarta, namun sedang berdinas di Semarang, Jawa Tengah.
Pendidikan Sekolah Dasar (SD) mulai kelas satu hingga kelas lima berlangsung di Ja-karta. Mamora Halomoan ke-mudian pindah ke SD Imma-nuel Medan, karena mengikuti tugas orangtua yang aktif di militer. Saat duduk di Kelas VI SD Immanuel, Mamora Halo-moan menunjukkan kepinta-rannya. “Dia menjadi juara lomba Matematika untuk ting-kat Sumatera Utara. Semen-tara di kelas, dia juga terbilang sering menjadi juara kelas,” kata sang ayah, Toham Lum-bantoruan (67).
Pendidikan tingkat SMP juga berlangsung di SMP Immanuel Medan. Sementara SMA di SMA Negeri I Medan. Setamat SMA, Mamora Halomoan kemudian mencoba Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) perguruan tinggi. Uniknya, Walau lulus dia enggan masuk perguruan tinggi negeri. “Dia lulus Sipenmaru. Tapi tidak mau masuk. Dia lebih mau ku-liah di universitas Parahya-ngan, Bandung. Maka dia kuliah di sana. Pendidikan S-2 juga di Parahyangan,” kata To-ham.
Setamatnya dari S-2, pada tahun 2001, Mamora Halo-moan sudah berencana ke Amerika Serikat. Namun se-iring dengan terjadinya sera-ngan terorisme di New York, Amerika Serikat pada 11 September 2001, ada kesulitan untuk melanjutkan studi di sana. Karena ketatnya aturan warga negara asing masuk ke Amerika Serikat. “Baru pada Januari 2004, dia bisa be-rangkat ke Amerika Serikat. Kami sekeluarga melepasnya dari Jakarta. Sejak itu, dia be-lum pernah pulang ke Indo-nesia,” jelas Toham yang sem-pat menjabat sebagai Wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Binjai, Sumut.(dtc/zal)
|
|