|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Mimbar dan Keagamaan |
19 April 2007
|
|
Sikapi hasil Unas
Tokoh Agama Ajak Siswa Topang dengan Doa
|
Ketentuan untuk lolos bagi peserta Ujian Nasional (Unas) tahun ini tentunya jauh lebih sulit dibanding tahun sebelumnya. Di mana, ketentuan Skala Standart Kelulusan sebelumnya 4, 25 tahun ini naik 5,00. Menyikapi ini, tokoh agama mengimbau sekaligus mengajak seluruh siswa agar tidak lupa memanjatkan doa dalam pelaksanaan ujian serta mengharapkan sistem penilaian jujur, adil dan murni.
Ajakan ini datang dari Ketua Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Manado Pastor Fred Tawa-luyan. Rabu (17/04) ia mengatakan, mes-kipun hari-hari me-negangkan itu akan berakhir hari ini, namun katanya tidak ada sa-lahnya jika sambil menunggu hasil Unas, siswa harus ba-nyak berdoa. Karena, saat-sa-at inilah, biasanya siswa ba-nyak dihingapi rasa ketakut-an, cemas, gelisah dan was-was dengan pengumuman hasil kelulusan.
“Namun yang penting, selu-ruh orangtua, masyarakat dan peserta Unas mengharapkan sistem penilaian yang murni. Artinya, tidak ada kebocoran soal, ma-nipulasi jual beli nilai, serta tindak kecurangan lain-nya,” katanya sem-bari menambahkan untuk meningkat-kan mutu pendidik-an kita harus dicipta-kan bentuk-bentuk kejujuran dan keadilan.
Ia mengatakan, semua harus belajar darinya. Siswa yag tak jujur akan sangat gelisah. Sekolah (kepsek) yang tak siap akan sangat cemas. Pemerin-tah yang tak realistis akan was-was dan mencari kam-bing hitam.
“Tapi kalau kita mau me-ningkatkan mutu pendidikan, maka harus realistis, siap dan jujur terhadap hasil ujian na-sional ini. evaluasi ini menjadi kesempatan kita mengeva-luasi kinerja komunitas pen-didikan. Jangan saling mem-permasalahkan kalau nanti mengalami kegagalan.Bagi para siswa, terimalah realita yang berhasil jangan som-bong, yang gagal jangan putus asa,” ucapnya sambil meng-ingatkan.
Dan bagi para guru/seko-lah lanjutnya, dituntut un-tuk lebih serius mengguna-kan pelbagai cara didaktid dan metodis untuk program pem-belajaran yang tepat. Profesio-nalisme guru perlu ditingkat-kan. Bagi Diknas atau peme-rintah hendaknya meran-cang sistem pendidikan yang tepat. Pejabat pendidikan hendaknya sungguh-sung-guh profesional yang me-nguasai bidangnya, bukan demi kepentingan proposal proyek-proyek atau demi ke-pentingan politik. Yang pa-ling rusak kalau pendidikan dipolitisi seperti suasana pendidikan kita saat
ini.(aan
|
|