|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
20 April 2007
|
|
Mamora Diberondong Saat Duduk di Kursi
|
KALAU bukan karena ter-lindung tubuh Partahi Ma-mora Holomoan Lumbanto-ruan (34), peluru yang
bersarang di tubuh Guillermo Colman (38) pastilah banyak.
Saat tragedi penembakan mengerikan terjadi, Colman sedang duduk di barisan depan untuk mengikuti kelas hidrologi lanjutan di Uni-versitas Virginia Tech, AS.
Tiba-tiba muncullah Cho Seung-Hui (23). Mahasiswa asal Korsel itu membuka pintu dengan tenang dan berjalan masuk. “Dia masuk dan me-ngambil posisi menembak, lalu membidikkan senjata. Panda-ngan matanya benar-benar ko-song, sama sekali tanpa emo-si,” ujar Colman seperti dilansir USA Today yang disadur detik. com online, Kamis (19/04).
Seingat Colman, tembakan pertama Cho di kelas itu me-ngenai seorang mahasiswa di barisan kedua. Lalu suasana kelas menjadi ricuh karena te-riakan histeris ketakutan, ke-sakitan, dan sekarat. Darah pun berceceran di mana-mana.
Colman dan sejumlah teman kelasnya kemudian menja-tuhkan diri ke lantai. Dia bisa merasakan Cho kemudian ber-jalan menyusuri barisan bang-ku demi barisan bangku.
Dalam hitungan detik, tutur Colman, Partahi yang duduk se-lisih satu barisan dari Colman jatuh di atas tubuhnya. Colman saat itu tidak tahu kalau Par-tahi sudah tertembak. Semen-tara tembakan Cho yang mem-babi buta terus berlanjut. Col-man merasakan ada goresan di kepalanya. Ternyata lebih dari itu. Sejurus kemudian, Col-man sudah bercucuran darah.
Lalu tembakan Cho berhenti untuk beberapa saat. Bukan karena Cho berhenti menem-bak, melainkan karena mengi-si ulang senjatanya dengan peluru. Setelah kembali me-nembakkan sejumlah timah panas, Cho kemudian pergi. “Ruang kelas sunyi senyap. Yang kamu bisa dengar ha-nyalah bunyi tembakan di Norris Hall,” kata Colman. Cho kemudian kembali. Colman bisa merasakan sepatu Cho menyentuh tubuhnya. “Saya tidak melihat dia karena muka saya berlumuran darah di lan-tai,” katanya. Cho kemudian kembali menembakkan timah panas. “Peluru-peluru itu menghantam tubuh Lumban-toruan,” kata Colman yang meyakini saat itu Partahi telah meninggal. “Saat itu banyak hal yang terlintas di pikiran saya. Hal pertama yang ter-lintas adalah istri saya dan bayi saya,” kata Colman. Cho kemudian meninggalkan rua-ngan dan menembak dirinya sendiri. Kali ini berondongan tembakan benar-benar ber-henti. Telepon selular di rua-ngan kelas kemudian diguna-kan untuk mengontak 911.
Colman yang kemudian berusaha berjalan mening-galkan Norris Hall, meng-estimasi ada sekitar 15 orang berada di ruangan kelas sebelum Cho masuk. Dia memperkirakan hanya sekitar 4 orang yang masih hidup. Colman kemudian mengetahui kalau sebutir peluru 9 mm menghantam tengkorak kepa-lanya. Peluru itu kemudian dikeluarkan melalui operasi. Pria asal Uruguay ini juga menderita luka pada bahunya. Entah apa jadinya jika tubuh Partahi tidak menimpa tubuh-nya saat Cho mengamuk.(dtc/*)
|
|