|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Ekonomi dan Bisnis |
20 April 2007
|
|
SK gubernur tentang jagung
Harga Rp 1.360 Hanya untuk Program LUEP
|
Surat Keputusan (SK) Gubernur No 93 Tahun 2007 tentang harga minimum jagung di Sulut, ternyata hanya berlaku untuk inter-nal Lembaga Usaha Ekono-mi Pedesaan (LUEP) dan ti-dak bisa dijadikan patokan oleh para pengusaha mem-beli jagung hasil produksi petani.
Kepala Badan Ketahanan Pa-ngan Sulut, Dr Ir Lucky Long-dong menandaskan, itu hanya merupakan harga psikologis. “Jadi sebetulnya SK itu hanya berlaku untuk program LUEP. Soal harga di tingkat petani ten-tu kita harapkan lebih tinggi dari SK tersebut,” tukasnya.
Hanya saja pada kondisi saat ini, di mana jagung di tingkat petani lagi kurang baik, menurut Longdong, dengan harga sesuai SK gubernur itu sudah mengun-tungkan petani. “Kalau pengu-saha sekarang membeli jagung sesuai SK gubernur, saya kira sudah cukup menguntungkan petani,” ungkapnya.
Namun, jelas Longdong, jika penyerahan jagung dilakukan petani pada bulan Juli dengan harga SK gubernur, maka me-reka akan rugi. “Karena saat itu harga jagung kita prediksikan sudah naik lagi,” jelasnya.
Terkait SK tersebut dengan program LUEP menurut Long-dong, sebetulnya merupakan satu bentuk talangan harga ja-gung. “Artinya kalau harga ja-gung berada di bawah SK gubernur, maka LUEP harus melakukan pembelian seharga Rp 1360 per kg. Jadi semacam stabilisasi harga saja. Seba-liknya kalau harga jagung di atas Rp 1360, maka LUEP harus membeli jagung sesuai harga pasar,” kata Longdong.
Hanya saja, aku Longdong da-na yang disiapkan untuk pro-gram LUEP tersebut masih sa-ngat terbatas. “Kalau diban-dingkan dengan produksi yang mencapai ratusan ton, maka dana itu sangat kecil. Kita hanya mendapat alokasi anggaran Rp 6 miliar untuk pembelian jagung,” kata Londong.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Su-lut, Ir Herry Rotinsulu me-nyatakan, jagung bukan lagi ko-moditi lokal, tetapi komoditi glo-bal. “Sehingga harganya bukan lagi standar lokal tetapi inter-nasional. Karena itu kalau har-ga jagung turun, itu bukan ka-rena permainan di daerah, tetapi berlaku umum di pasaran,” jelasnya.(ami)
|
|