|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
21 April 2007
|
|
Istri Lexie Giroth Juga Diperiksa Polisi
|
Tidak hanya Lexie Giroth. Is-trinya yang bernama Nintje Tendean, juga diperiksa polisi terkait kasus tewasnya Cliff Muntu, praja IPDN asal Sulut. Nintje sendiri adalah salah satu dosen di IPDN. Dia adalah orang yang mengajukan surat permohonan membawa jena-zah Cliff Muntu dari RS Al Is-lam ke Bandara Soekarno Hatta.
Nintje diperiksa sekitar pukul 12.00 WIB, Jumat (20/04) ke-marin.
“Nintje juga orang yang memesan peti mati ke Yayasan Bumi Baru untuk membawa jenazah Cliff ke Manado,” ung-kap seorang polisi yang tidak ingin disebutkan namanya se-bagaimana lansiran online detik.com.
Bersamaan dengan itu, sua-minya Prof Lexie M Giroth, un-tuk pertama kalinya diperiksa sebagai tersangka kasus ke-matian praja IPDN Cliff Muntu. Lexie tiba di Mapolda Jawa Barat, Jl Soekarno-Hatta, Bandung, Jawa Barat, kemarin sekitar pukul 11.30 WIB. Dia datang lebih lambat 1,5 jam dari jadwal yang semula ditentukan, yakni pukul 10.00 WIB.
Giroth yang datang dengan mengenakan baju batik ham-pir luput dari perhatian war-tawan. Dia berjalan cepat sambil menundukkan kepala saat para wartawan sedang si-buk mewawancarai Kepala Bagian Pengasuhan IPDN Ilhami Bisri, yang diperiksa sebagai saksi.
Namun aksi sembunyi-sem-bunyi Giroth ini secara tak sengaja dipergoki wartawan. Para pemburu berita ini pun segera beralih ke Giroth dan meninggalkan Ilham Bisri. “No comment...no comment,” ujar Giroth sambil terus berjalan ke ruang pemeriksaan. Giroth diperiksa oleh Tim II Polda Metro Jaya yang mengusut upaya pengelabuan dalam ka-sus kematian cliff, seperti pe-nyuntikan formalin dan pe-mulasaran jenazah Cliff.
Tim II Polda Jawa Barat se-jauh ini sudah memeriksa 18 orang saksi dan 2 tersangka dalam kasus kematian Cliff. Dua tersangka itu adalah Gi-roth dan mantan pegawai Di-nas Kesehatan Kota Bandung, Iyeng Sopandi.
DOKTRIN IPDN
Pada bagian lain, kuasa hu-kum tiga tersangka (dari tu-juh tersangka) penganiaya Cliff Muntu, Nurkholim me-ngatakan, ada semacam dok-trin di IPDN untuk melakukan kekerasan. Sebab selain mendapat ‘restu’ dari lembaga dengan keluarnya SK pem-binaan, serta pengalaman saat menjadi junior pernah mengalami kekerasan, di ka-langan praja senior juga ter-tanam doktrin yang membuat mereka makin beringas.
“Ada ungkapan yang sangat ekstrim dan hidup di seluruh praja. Jika praja junior tidak bisa disentuh hatinya, maka sentuhlan ulu hatinya. Lalu ada satu lagi doktrin, binalah para junior dengan cara apa-pun, tapi sisakan nyawanya,” ungkap Nurkholim yang di-kutip detik. Doktrin ini, lanjut dia, ditanamkan terus mene-rus di benak para praja sela-ma ini. Nurkholim mengaku kliennya tidak tahu sejak kapan doktrin tersebut ada. Yang jelas, sejak para ter-sangka ini masuk IPDN, dok-trin tersebut sudah ada. “Ini kan bahaya. Iya kalau nya-wanya bisa disisakan, tetapi kalau seperti Cliff?” ujarnya.
Doktrin tersebut membuat para praja senior menjadi beringas. Belum lagi ditam-bah pengalaman buruk saat menjadi praja junior. “Penga-laman secara fisik juga mere-ka (para tersangka) rasakan. Bagaimana mereka dipukul di mana saja, di bagian tubuh, kepala, tangan, kaki, dan se-kitar dada,” tuturnya. Body contact ini, lanjut Nurkholim, seringkali terjadi saat ‘korek-si’. Koreksi yang dimaksud melingkupi tiga hal yaitu pemberian doktrin, pembi-naan fisik, dan pemukulan.
“Koreksi ini seringkali dilakukan saat malam hari. Klien saya katakan jika tradisi koreksi ini telah turun temurun,” ujarnya. Semua hal itu, tandasnya, membuat kehidupan para praja menjadi penuh kekerasan. Repotnya lagi, kekerasan tersebut mengkristal menjadi sebuah kebiasaan atau budaya di Kampus IPDN.(dtc/*)
|
|