HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

24 April 2007

Sejumlah Orang Penting Sulut Tertipu


Sejumlah pejabat dan tokoh asal Sulut disebut-sebut ikut tertipu dalam kasus PT Wahana Bersama Globalindo (WBG). Jumlah investasi mereka 
meliputi puluhan sampai ratusan juta. Salah satu peja-bat Sulut yang mengaku ikut investasi yang ditawarkan PT WBG adalah Rektor Unsrat, Prof Dr Lucky Sondakh MEc. 
‘’Yah, kami harapkan uang bisa kembali. Tapi saya sen-diri cuma sedikit. Itu juga karena ikut-ikut saja, tapi ini memang risiko yang harus diterima,’’ aku Prof Sondakh ketika dikonfirmasi koran ini sedang berada di Makassar, kemarin (23/04). Selain Prof Sondakh, disinyalir ada sejumlah tokoh Kawanua di Jakarta dan di Manado yang ikut tertipu sebagai nasabah. 
Ketua DPR RI, Agung Lak-sono adalah salah satunya. Suami dari Ny Sylvia Wenas ini ketika ditemui di sela-sela Musdalub PG Sulut di Hotel Sedona mengakuinya. ‘’Saya akui jadi korban, dan kini saya lemparkan persoalannya ke pusat. Saya sangat men-dukung kasus ini ditangani penyidik,’’ aku Ketua DPP Partai Golkar ini. 
Selain itu, salah satu penga-cara terkenal asal Kawanua juga ikut jadi korban. Namun sampai kemarin, lawyer kondang ini belum berhasil dikonfirmasi koran ini. Demikian juga nama Ketua Komisi I DPR RI, Theo Sam-buaga disebut-sebut, sayang konfirmasi belum diperoleh darinya. Seperti diketahui, PT WBG sendiri adalah agen pe-masaran yang menawarkan produk investasi yang diter-bitkan Dressel Investment Limited. PT WBG tidak hanya di Manado, melainkan terse-bar di sejumlah daerah di Indonesia. Tak heran para nasabahnya sangat banyak, sehingga jumlah dana yang berhasil mereka kumpulkan mencapai triliunan rupiah. 
PT WBG sendiri dalam kerja-nya, menawarkan para nasa-bahnya untuk menyimpan uang di pihaknya dengan iming-iming bunga sangat tinggi, yakni berkisar 24-28 persen per tahun, yang jelas lebih tinggi jauh dari bunga deposito bank. 
Sayangnya, sejak dua bulan lalu, tiba-tiba bunga tak lagi dibayar. Simpanan pokok juga tak bisa ditarik. Para nasabah resah, sehingga po-lisi pun turun tangan. Polda Sulut sendiri sebagaimana informasi dari Dirreskrim, Kombes Pol Drs Iskandar Ibrahim MM, telah menutup operasional PT WBG cabang Sulut yang terletak di salah satu ruko kawasan Megamas.
“Kita sudah tutup dan police line kantornya, bahkan kunci kantornya sudah disita,” tukas Ibrahim sambil menam-bahkan hal ini dilakukan untuk kepentingan penyidik-an yang sementara berjalan. Sedangkan mengenai nasa-bah yang kabarnya merupa-kan orang-orang penting dan kalangan pejabat, dibenarkan Ibrahim. Hanya saja, secara rinci Ibrahim tidak menye-butkan siapa saja korban-korban tersebut. “Untuk korban, saya belum tahu. Yang pasti ada dari kalangan intelektual, pejabat, pengusa-ha dan dari para medis,” tan-dasnya seraya menambah-kan para korban adalah orang-orang berduit.
Sementara terkait sejumlah tersangka yang kabarnya te-lah ditetapkan, masih enggan dibeberkan Ibrahim. “Untuk tersangka, kita belum bisa se-butkan. Pokoknya pimpinan pusat perusahaan berinisial A, sudah resmi sebagai ter-sangka,” imbuhnya. Sebelum-nya Polda Sulut menurut Ibrahim telah memblokir empat rekening milik PT WBG. Hal ini merupakan salah satu langkah untuk menindaklanjuti koordinasi terakhir dengan Mabes Polri, sekaligus untuk menun-taskan sesegera mungkin proses penyidikan ini.
Sementara Wakil Direktur II Ekonomi Mabes Polri, Kombes Benny Mamoto kepada Ko-mentar di Jakarta mengata-kan, interpol bekerja sama agen federal FBI telah mela-kukan pengusutan atas kasus ini. “Mabes Polri bekerja sama dengan FBI sedang melaku-kan pengusutan terhadap kasus tersebut,” imbuhnya. 
Sejauh ini, kata dia, bebe-rapa nama sudah masuk sebagai DPO interpol. Bahkan dapat dipastikan jumlah tersangka terus bertambah, tambahnya. Seperti diketahui, PT WBG dalam kerjanya, menjanjikan uang nasabah akan ditanam di lembaga in-vestasi asal British Virgin Islands. 
Sejak 1997, dua produk in-vestasi Dressel, yakni Stra-tegic Portfolio Management Scheme (Sportmans) dan Global Markets Portfolio (GMP), memuaskan ribuan nasabahnya. Mereka men-dapat imbalan bunga 24-28 persen per tahun, lebih tinggi dibanding bunga deposito bank. Namun jadi masalah ketika tiba-tiba bunga tak lagi dibayar dan simpanan pokok juga tak bisa ditarik. Para nasabah sampai kini terus berjuang memburu uang mereka. Nasabah di Ban-dung menunjuk pengacara Lukas Budiono. Investor di Jakarta menunjuk OC Kaligis.(zal/vic/tmp)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin