HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

28 April 2007

Orang yang Mandikan Jasad Cliff, Dijadikan Tersangka 


Tersangka dalam kasus pe-nyuntikan formalin ke tubuh praja IPDN, Cliff Muntu ber-tambah menjadi tiga orang. Tersangka yang terakhir ada-lah Obon bin Naid (62), se-orang petugas kamar jenazah RS Al Islam yang meman-dikan jasad Cliff. Naid juga adalah orang yang membe-rikan nomor telepon pegawai Dinas Kesehatan Kota Ban-dung Iyeng Sopandi kepada Dekan IPDN nonaktif Lexie M Giroth. 
Kedua nama ini juga sudah menjadi tersangka lebih da-hulu dalam kasus yang sama. Kuasa hukum Obon dari Pu-sat Bantuan Hukum Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) Ban-dung, Bahyuni Zaili, menga-takan, penetapan status Obon sebagai tersangka tertuang dalam surat pemanggilan pe-meriksaan pada hari ini, Ju-mat (27/04).
“Klien saya dikenai pasal 78 UU No 29 tentang Praktik Ke-dokteran jo pasal 55 KUHP te-tang keikutsertaan dalam tin-dak kejahatan,” kata Bahyuni di Mapolda Jawa Barat, Jln Soe-karno-Hatta, Bandung seperti dilansir online detik.com.
Bahyuni menyesalkan pene-tapan kliennya sebagai tersang-ka. Sebab, Obon sama sekali tidak terlibat dalam kejahatan seperti yang dituduhkan polisi. Menurut Bahyuni, saat me-mandikan jenazah Cliff klien-nya mendengar praja IPDN ter-sebut akan dibawa ke Manado. Dia juga mendengar ada per-mintaan dari IPDN agar jena-zah diformalin.
“Di benak Pak Obon, formalin adalah hal yang biasa dilaku-kan pada jenazah non-Muslim. Jadi dia kemudian memberi-kan telepon Iyeng Sopandi ka-rena dia tahu yang biasa mem-formalin mayat adalah RSHS dan RS Boromeus,” kata Bah-yuni.
Bahyuni membantah infor-masi yang menyebutkan bahwa kliennya yang langsung mene-lepon Iyeng Sopandi. “Pak Obon hanya memberikan nomor tele-pon Iyeng, lagi pula memang ada permintaan dari IPDN,” imbuh Bahyuni. 
TEMPUR
Pada bagian lain, ada infor-masi menarik seputar eksis-tensi IPDN. 
Pasalnya, tidak hanya ke-kuatan fisik dan disiplin yang diperoleh praja IPDN saat me-ngikuti pendidikan latihan da-sar militer (Latsarmil) di Pus-dikter. Mereka juga ternyata dididik memegang senjata dan dilatih untuk bertempur di hutan belantara dengan dibe-kali enam peluru.
“Memang kami bekerja sama dengan Pusdikter sejak awal APDN nasional berdiri. Dengan pendidikan Latsarmil, para pra-ja diharapkan bisa disiplin, bu-kan hanya semata-mata bisa memegang senjata,” ujar Ke-pala Biro Konsultasi dan Badan Hukum IPDN, Supardan Mo-deong. 
Menurut dia, istilah Latsarmil dipakai pada saat APDN nasio-nal, yaitu tahun 1989 hingga 1992. Namun setelah menjadi STPDN pada tahun 1992, na-manya diubah menjadi Latihan Dasar Mental dan Kedisplinan (Latsarmendis). “Dulu pada saat Latsarmil angkatan-ang-katan pertama, pendidikannya cukup berat. Para praja harus bermalam berhari-hari di hu-tan dengan bekal seadanya. Me-reka belajar survival,” kata dia. 
Selain itu, para praja juga diajari memegang senjata dan dilatih bertempur di hutan dengan dibekali enam butir peluru. Ketika ditanya apa tu-juannya, menurut Supardan hal itu untuk melatih kedisi-plinan. Namun, kata dia, sejak berubah menjadi Latsarmendis pada 1992, sudah tidak ada lagi latihan memegang senjata. 
Ketakutan praja untuk mem-buka mulut di IPDN ternyata hingga sekarang masih meng-gurita. Buktinya, praja yang diminta keterangan tetap meminta identitasnya disem-bunyikan. 
Berbeda dengan yang di-sampaikan oleh Supardan, praja angkatan 2003 yang berasal dari luar Jawa ini me-ngaku istilah Latsarmil masih dipakai pada zaman almarhum Wahyu Hidayat atau 2002. 
“Angkatan kami namanya Latsarmendis dan tidak diajari memegang senjata. Namun angkatan di atas kami masih diajari memegang senjata,” ujarnya.
Dihilangkannya latihan me-megang senjata, menurut dia, disebabkan peristiwa keke-rasan yang menimpa Wahyu Hidayat. 
“Setelah peristiwa Wahyu, hal-hal yang berbau militer dihilangkan,” katanya. Hal senada juga diakui oleh Nindya Praja Indra dan Wasana Praja Leo Elfransa. Menurut mereka, tidak ada latihan memegang senjata pada saat Latsarmen-dis. “Tidak tahu kalau angka-tan sebelum kami,” tutur mere-ka kepada detik.com.(dtc/*) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin