|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Ekonomi dan Bisnis |
28 April 2007
|
|
Minta pemerintah cari solusi
Petani Gula Aren Keluhkan Penurunan Pendapatan
|
Petani
aren, khususnya yang ada Minahasa, mulai mengeluhkan
kondisi yang mereka alami saat ini. Sejak
permasalahan pabrik gula aren di Masarang
dipersoal-kan ternyata ikut membuat penghasilan
mereka mero-sot tajam.
Seperti pengakuan Rolli Mo-ningka dan Hans Kondoy, ke-duanya merupakan petani aren di Minahasa, saat pabrik gula aren di Masarang tersebut bero-perasi, penghasilan mereka lu-mayan besar. Tetapi sejak mun-culnya persoalan, di mana pa-brik juga telah membatasi pem-belian, maka penghasilan me-reka merosot jauh.
“Ketika masih beroperasi nor-mal, pendapatan minimal Rp 2 juta per bulan, bahkan bisa mencapai Rp 5 juta. Sekarang ini sudah kerja keras untung-untung kalau bisa mencapai Rp 1 juta per bulan,” kata Rolli di kantor gubernur lalu saat hadir bersama rekan-rekanya meng-gelar demo.
Baik Rolli mapun Hans menga-kui bahwa kehadiran pabrik gula tersebut penting bagi mere-ka. “Kami tidak mau tahu soal masalah yang ada. Yang ter-penting bagi kami adalah ter-sedianya pabrik yang bisa me-ngolah hasil para petani,” kata Hans.
Dikatakan keduanya, yang menjadi persoalan para petani saat ini adalah kesulitan mema-sarkan air nira hasil produk pe-tani. “Pasaran memang ada, te-tapi harga yang kami anggap me-madai hanya di Masarang,” kata keduanya.
Mengingat persoalan ini su-dah menyentuh langsung ke-pentingan masyarakat petani, baik Rolli maupun Hans men-desak pemerintah untuk men-cari jalan keluar. “Pemerintah harus memberi solusi jangan sampai kami petani yang terus-menerus dirugikan. Kalau me-mang bisa menyiapkan pabrik gula aren yang lain, segera ba-ngun agar bisa mengolah hasil produk petani,” kata Rolli berharap.
Sebagaimana diketahui bahwa sejak beberapa saat belakangan ini, keberadaan pabrik gula aren Masarang dipersoalkan sejum-lah kalangan. Hal itu terkait dengan adanya kucuran dana pemerintah pusat dalam bentuk bantuan alat senilai Rp 1,8 mi-liar, yang diberikan ke pihak pe-ngelola Masarang. “Sejak kasus itu muncul, maka pihak pabrik secara perlahan mulai memba-tasi pembelian bahan baku,” ungkap Hans.(ami)
|
|