|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Panggung Politik |
28 April 2007
|
|
Susan Undap: Pemerintah harus segera cari solusi
Potret Resah Guru Bantu Tomohon
|
SUARA kritis bernada prihatin terhadap keseharian puluhan guru bantu di Kota Tomohon, tiba-tiba terdengar lantang dari lingkungan para legislator Kota Bunga itu. Gemanya tentu saja ‘memantul’ menuntut solusi. Sebab implikasi yang ditimbulkan (karena masih kaburnya kepastian status mereka) dikhawatirkan bisa melunturkan kualitas proses belajar-mengajar di banyak sekolah.
Suara itu, dikumandangkan dengan penuh keyakinan jus-tru oleh seorang tokoh wanita yang dipercaya sebagai Sekre-taris Komisi C DPRD Kota To-mohon, Susan Undap. Nada keseriusannya ‘mengangkat persoalan ini lebih terapung ke permukaan’ diharapkan dapat memberi jawaban atas keresahan yang melanda para guru bantu selama ini. Se-buah situasi dilematis yang je-las tak mungkin dapat ditun-taskan tanpa dukungan per-juangan pihak lain.
Memang, sejauh ini dikabar-kan, nasib 68 Guru Bantu (GB) yang ada di Kota Tomohon se-karang bisa dibilang terka-tung-katung. Padahal sewak-tu tes penerimaan CPNS 2006 lalu, mereka dinyatakan lulus. Ironisnya, hingga kini, SK pe-ngangkatan tak pernah dite-rima. Lebih ironis lagi, dari Januari sampai April 2007 ini, mereka tak mendapatkan gaji. Masalah ini, menurut sang le-gislator Tomohon, Susan Un-dap, harus segera diselesai-kan pemerintah. Mengapa?
Karena di satu sisi, srikandi Kota Tomohon ini menilai, bila situasi ini dibiarkan berlarut-larut pasti akan berpengaruh pada proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) di sekolah. Padahal selama ini, mutu pendidikan di Kota Pelajar ini —julukan lain Kota Tomo-hon— sudah cukup bagus. Bukan tak mungkin, bias ne-gatifnya akan ‘memukul’ hari esok para siswa.
“Masalah ini jangan sampai mempengaruhi kegiatan proses belajar-mengajar di sekolah. Terlepas mereka telah diterima sebagai CPNS, pemerintah pusat dalam hal ini harus mencari jalan bagai-mana menyelesaikan soal gaji para guru bantu ini. Kasihan kan sudah empat bulan, gaji mereka sudah dihentikan Lembaga Penjamin Mutu Pen-didikan (LPMP),” tutur Undap saat berbicang-bincang de-ngan Komentar, Kamis (26/04) di Tomohon.
Ketua DPC PDS Kota Tomo-hon ini benar-benar concern dengan masalah guru bantu di Kota Tomohon. Sampai-sam-pai, wanita murah senyum ini meminta agar siapa pun ja-ngan pernah menganggap remeh profesi guru. “Mereka ini merupakan penentu masa depan bangsa. Ingat, guru adalah manusia biasa yang menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” ucapnya tegas.
Secara khusus, istri tercinta dari Armando Pedro Nuah SE ini menyatakan mendukung sikap Pemkot Tomohon me-nyorot langkah yang diambil pihak LPMP, yang langsung menghentikan pembayaran gaji para guru bantu ini tanpa mengecek terlebih dahulu apakah guru bantu ini telah mendapatkan SK pengang-katan atau belum.
“Ini juga kami sesalkan. Bagaimana kalau sekarang ini, puluhan guru bantu me-ngambil sikap mogok meng-ajar dengan alasan karena mereka tidak mendapatkan gaji. Kan repot jadinya,” tandas ibunda tercinta dari David dan Billy Nuah ini.
Sementara itu, langkah pem-kot yang langsung menyurat ke Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Ke-pendidikan terkait masalah ini tanpa menunggu hasil peru-bahan PP 48, patut dipuji. “Ini juga terbukti bagaimana Pemkot Tomohon konsen de-ngan masalah ini. Yah bagai-mana jawaban dari Dirjen, kita tunggu saja!
Yang jelas, siapa pun pasti memahami bagaimana situasi batin yang dirasakan para guru bantu. Dan, siapa pun juga pasti akan setuju bahwa situasi itu dapat memberi pengaruh pada keseharian para guru bantu. Termasuk saat mereka ‘menabur ilmu pengetahuan’ kepada para sis-wa didiknya. Karenanya, tak berlebihan bila makin banyak orangtua yang mugkin saja kian was-was dengan kualitas pendidikan yang tengah diren-da anak-anaknya.
Susan Undap, pasti tak sen-diri merasakan betapa situasi pelik ini memang tidak bisa dibiarkan tanpa solusi pasti secepatnya. Kendati untuk mengupayakan solusi segera itu bukan laksana membalik telapak tangan, namun, harus ada langkah nyata memperjuangkannya agar keresahan batin para guru bantu ikut terbantu lebih tenang. Sebab, bila tidak, bukan tak mungkin bila kemudian muncul semacam apriori terhadap kebijakan pemerintah, karena sudah dinyatakan lulus tes peneri-maan, tapi dukungan legalis-tas formal, entah kapan bisa dinikmati. “Makanya, perlu ada kepedulian nyata terha-dap nasib para guru bantu,” kata Susan Undap.
Semoga, ada tindak lanjut nyata yang hasilnya bisa mele-gakan semua pihak!(recky kella)
|
|