|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
30 April 2007
|
|
Pembangunan Kota dan Intelijen Kompetitif:
Pengembangan Klaster Pariwisata Kota Manado(1)
Oleh:Ir GSV Lumentut MSi DEA
|
Ledakan arus informasi dewasa ini yang ditandai dunia tanpa batas (borderless) melalui akses informasi secara terbuka. Siklus intelijen kompetitif adalah suatu siklus pengolahan informasi secara bibliometrik untuk meng-hasilkan kajian keilmuan yang selanjutnya dapat dimanfa-atkan oleh pengambil kebijakan sehingga keputusan yang diambil benar-benar sudah teruji sebelum diimplementasikan.
Salah satu hasil kaji-an berbasis intelijen kompetitif dilakukan terhadap potensi Kota Manado melalui sistem klasterisasi dan men-dapatkan bahwa yang memiliki daya saing pe-ngembangan adalah sektor pariwisata, wa-laupun aspek perencanaan dan pengembangan belum dilakukan secara holistik. Selanjutnya aspek kepariwisataan perlu dikembang-kan secara terpadu dan menyelu-ruh (integrated and comprehen-sive) sehingga dalam tataran imple-mentasi dapat dilaksanakan seca-ra tepat dan efektif .
Pengembangan produk pariwisa-ta adalah bagian yang integral dari seluruh ke-rangka pengembang-an. Sebagai salah satu aktivitas ekonomi, pro-duk pariwisata pada sisi supply harus secara si-nergis dan terintegrasi dikembangkan bersa-maan dengan aspek de-mand (Existing and Potential Mar-ket). Dalam hubungannya dengan perencanaan dan pengembangan pariwisata Kota Manado, pendeka-tan holistik yang secara inklusif mengintegrasikan semua unsur pengembangan dalam keterkai-tan yang solid perlu dilakukan agar pariwisata memberi dampak ekonomis dalam jangka panjang (Economically Viable) dan dari as-pek lingkungan pariwisata mem-berikan kontribusi positif pada keberlanjutan lingkungan hidup (Environmentally Sustainable). (RIPPDA Kota Manado 2006).
PENDEKATAN KLASTER INDUS-TRI PARIWISATA
Dalam bentuk yang paling maju, menurut definisi yang diusulkan oleh Porter dan diterima secara luas (Porter 2000) suatu klaster dapat didefinisikan sebagai kelompok pe-rusahaan yang saling terhubung dan berdekatan secara geografis dengan institusi-institusi yang ter-kait dalam suatu bidang khusus; terhubung karena kebersamaan dan saling melengkapi. Dengan de-finisi tersebut, suatu klaster indus-tri pariwisata dimulai dari semua unsur yang terkait dalam bidang kepariwisataan sampai diperluas ke segmen pasar. Sebuah klaster dalam pengertian Porter juga ter-masuk lembaga pemerintah, asosi-asi bisnis, penyedia jasa, dan lem-baga lain yang mendukung usaha-usaha dalam klaster termasuk di-dalamnya penelitian dan pelatihan. Lingkup geografis klaster dapat sa-ngat bervariasi, terentang dari sua-tu desa/kelurahan atau salah satu jalan di kecamatan sampai menca-kup sebuah daerah kota atau pro-pinsi. Sebuah klaster dapat juga melampaui batas negara menjang-kau sampai ke beberapa negara. Klaster industri pariwisata meru-pakan elemen-elemen dari suatu spektrum umum dengan bentuk bayangan yang samar dan bukan suatu pemisahan yang tajam (Fowcs-Wiliams 2000). Oleh karena itu dalam industri pariwisata berkem-bang organisasi-organisasi ber-skala internasional untuk mem-beri penegasan terhadap spektrum umum tentang jaringan bisnis pari-wisata seperti United Nation World Tourism Organization (UNW-TO).(bersambung)
|
|